Mimpi Gin.

1.3K 207 9
                                        

Malam itu dingin. Hujan mengetuk jendela seperti bisikan yang tak henti-henti.

Gin tertidur di sofa ruang tengah, dengan Souta kecil tertidur di dadanya. Tubuh mungil itu hangat, nafasnya teratur, dan jemari kecilnya masih menggenggam kuat baju Gin, seolah takut terlepas.

Gin tersenyum dalam tidurnya.

Tapi di balik kelopak matanya, mimpi mulai datang.



Ia kembali ke tempat dimana semua dimulai, apartemen mereka. Tapi kali ini terasa berbeda. Disana, ada Souta dewasa, juga Souta kecil yang selama ini menemani mereka. Kedua lelaki berebeda generasi itu terlihat sedang tertawa bersama, bermain-main dengan gelembung busa.

Souta kecil melirik ke arah Gin yang hanya terdiam di depan pintu, dan memanggilnya dengan semangat. "Gin, sini!

Gin mendekat, memperhatikan mereka berdua. Souta ada disana, tapi bukan bayi. Dia remaja, seperti dulu. Seragam sekolahnya  terpakai rapi, rambutnya masih kusut khas gayanya, dan senyum itu ...

Senyum yang selama ini hilang.

"Kamu ... beneran Souta?" suaranya nyaris bergetar, "Kamu balik? Kamu balik lagi ke kita?"

Tapi Souta hanya tersenyum, matanya hangat, penuh sesuatu yang membuat hati Gin terasa perih.

"Aku nggak bisa lama-lama."

"Aku harus ambil lagi Souta kecil yang aku kasih buat kalian."

Gin menggeleng, "Sou, kamu udah janji kan? kamu bisa ikut tinggal sama kita. Sekarang kita punya rumah dipinggir pantai, sesuai mimpi kamu selama ini."

Souta memeluk Gin. Lama. Hangat. Seperti yang selalu ia lakukan dulu saat Gin pura-pura tegar ditengah penatnya.

"Terima kasih ya, Gin ..." bisiknya. "Karena udah jadi tempat Souta pulang, disaat Souta gak punya siapa-siapa."

"Kasih tau Ayyis sama Arion juga, Souta sayang kalian semua."

Perlahan Souta melangkah mundur, menggenggam erat tangan Souta kecil yang kini berdiri disampingnya.

Langit mulai meredup, angin makin dingin.

"Gin, dadah!" si kecil melambaikan tangannya sambil tersenyum.

Tubuh mereka perlahan mulai menghilang dalam kobaran api yang entah darimana datangnya.

"Sou! Jangan bawa dia juga!"

Dan dalam sekejap.. mereka lenyap.



Gin terbangun.

Peluh membasahi lehernya. Dadanya sesak. Nafasnya cepat.

Tapi yang pertama dia lihat... adalah mata kecil Souta yang terbuka, menatapnya polos dari pelukan.

"Eung, Gin?" suara kecil itu bertanya pelan.

Gin langsung memeluk bayi itu erat. Sangat erat. 

Gin tahu itu hanya sebuah mimpi, bunga tidur.

Tapi saat ia membuka mata dan mendapati tubuh mungil Souta masih ada dalam pelukannya—hangat, bernapas, nyata—ia tak kuasa membendung isak yang mendesak di tenggorokan. Tangannya gemetar saat membalas pelukan kecil itu, seolah ia sedang menggenggam pasir waktu yang terus terurai satu demi satu dari sela jemarinya.

"Jangan kemana-mana, ya." bisiknya, nyaris seperti doa.

Souta tak menjawab. Tapi tangan mungilnya menggenggam leher Gin lebih erat, seolah mengerti.

Dan malam pun terus berjalan.
Di luar, hujan masih turun perlahan—menyatu dengan detak waktu yang terus berdetak, mengingatkan Gin bahwa tak ada yang abadi.
Tapi di ruang tengah yang redup itu, di antara sisa mimpi dan kenyataan yang nyaris kabur, Gin memutuskan satu hal:

Jika waktu hanya memberi mereka sebentar,
maka ia akan mencintai Souta seakan mereka diberi waktu selamanya.

infantem.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang