Arion berdiri di tempat tanpa waktu. Langitnya abu, tanahnya samar, dan segala batas antara kenyataan dan ilusi menghilang.
Ia berdiri di tepi suatu tempat yang tak dikenalnya. Bukan rumah, bukan jalan, bukan taman. Hanya sebidang ruang yang digambar kabut, seputih salju, sehampa langit. Di sana, segalanya terasa akrab dan asing dalam waktu bersamaan. Seolah ia pernah hidup di dalamnya, namun kini tak lagi diizinkan masuk.
Di kejauhan, berdiri tubuh kecil yang tak asing. Souta—dengan kaos biru muda yang kebesaran dan boneka pinguin yang tak pernah lepas dari pelukannya.
Tapi tidak ada tawa. Tidak ada sorak celoteh yang biasa mengisi ruang. Anak itu diam, menatapnya. Lalu menatap seorang wanita yang muncul dari belakangnya.
Langkah kaki tak terdengar dari arah sebrang. Terlalu lembut. Seorang wanita muncul dari balik kabut. Wajahnya samar. Seperti potret tua yang dipudarkan waktu dan luka. Tapi Arion tahu. Entah dari mana, dia tahu.
Itu Ibu kandung Souta.
Wanita itu tidak tua, tidak juga muda. Matanya seperti menyimpan musim dingin dan bibirnya membisikkan kata-kata yang tidak terucap. Dia menatap Arion, dan bicara dengan suara yang seolah langsung menggema di tulang belakangnya.
"Aku datang untuk menjemput anakku," katanya.
Arion memeluk Souta erat, pelan tapi mutlak.
"Terlambat." jawabnya pelan, tegas.
"Aku yang membangunkannya dari mimpi buruk. Aku yang ada disampingnya saat dia demam. Dan aku yang selalu menjadi perisai pelindungnya."
Mata perempuan itu tak gentar. Tak marah. Hanya dingin.
"Tapi aku yang melahirkannya."
Souta hanya diam. Bahkan napasnya pun tak terdengar.
"Kamu bukan ibunya," gumam Arion. "Kau hanya melahirkannya, kau bahkan tak pantas disebut seorang Ibu."
Wanita itu mendekat perlahan tanpa menjawab. Tak mendengar, atau pura-pura tak dengar. Dalam sekali kedipan mata, dengan gerakan seperti kilat, ia menarik Souta dalam satu kali tarikkan.
Souta menjerti, suara yang tidak seperti biasanya, lebih kecil, lebih patah.
Dan ketika Arion membuka matanya, tangannya kosong. Souta hilang dari dekapannya.
Ia berlari. Berteriak sekuat tenaga. Memanggil nama Souta. Menabrak kabut dan waktu. Namun Suara Souta kian menjauh.
"Ayon.. Tolong Souta.."
Suara itu berdenging di telinganya. Ia kembali memanggil nama Souta, berulang-ulang, seperti mantra pemanggil jiwa. Tapi yang datang hanyalah keheningan.
________________________
Arion terbangun dengan tubuh basah karena keringat. Jantungnya berdegup begitu keras seakan ingin lepas dari dada. Seluruh tubuhnya menggigil, padahal malam masih berselimutkan udara hangat.
Ia menoleh, panik, mencari sesuatu disekitarnya.
Dan di sana...
Di sudut ranjang, dengan tubuh meringkuk dan napas teratur, Souta masih tertidur. Boneka pinguin menyempil di pelukannya. Dot biru menyumpal mulut kecilnya. Pipinya merah, rambutnya kusut.
Hanya mimpi.
Hanya mimpi.
Arion menghela napas panjang dan menunduk. Ia tak sanggup mengucap satu kata pun. Tangannya gemetar saat ia mendekat dan menyentuh punggung kecil itu, menariknya pelan-pelan ke dalam pelukannya. Ia menciumi kepala Souta dengan bibir yang nyaris membeku oleh ketakutan.
Souta masih disini.
"Aku gak akan biarin siapapun ambil kamu. Bahkan dunia pun gak bisa."
Dan malam itu, Arion tak tidur lagi.
Ia hanya duduk, menatapi Souta, seolah menjadi CCTV yang menjaganya setiap waktu.
Karena mereka yang pernah kehilangan, tidak benar-benar pulih.
KAMU SEDANG MEMBACA
infantem.
Hayran Kurgubeberapa kumpulan kisah kasih si kecil Souta dengan keluarga barunya. OOC / Mohon untuk tidak membawa karangan ini ke dunia nyata. 💌 : Precious Art by @/catlisart_ on X
