"Dokternya udah mau datang, kita ganti baju dulu, yuk?" Harris berusaha mengembalikan situasinya agar kembali ceria. Mungkin, untuk langkah selanjutnya ia akan diskusi dengan yang lain nanti.
"Souta, terima kasih ya karena sudah mau bercerita."
Akhirnya Souta melakukan pemeriksaan kesehatannya. Dokter mengatakan bahwa kondisi tubuh Souta saat ini sedang tidak baik, imunnya sedikit lemah, rentan terserang penyakit.
"Demamnya belum terlalu tinggi, tapi untuk jaga jaga kita kasih obat penurun panas sama antibiotik ringan ya."
Tak butuh waktu lama, semuanya telah selesai. Dokter pun segera berpamitan untuk pulang. Beberapa menit berselang, Souta tertidur lelap setelah meminum obatnya.
Setelah memastikan bahwa Souta benar benar tertidur nyenyak, Harris dengan perlahan meninggalkan kamar Souta, berjalan menuju ke arah dapur untuk mengambil air minum. Di dapur ada Mbak yang sedang mencuci piring bekas makan Souta tadi sebelum meminum obat.
"Gimana dek Souta, mas?" tanya Mbak.
"Biasa Mbak, demam karena musim."
Mbak mematikan keran wastafel, menaruh cucian bersih pada tempatnya.
"Maaf mas kalau lancang, tadi saya Ndak sengaja liat di kamar kalian nangis berdua, ada apa ya?" Mbak bertanya sekali lagi, tapi kali ini nadanya terdengar sangat hati-hati.
Harris menghela napasnya sebelum menjawab. "Souta kena bully di sekolah, badannya penuh lebam Mbak."
"Astaga.."
Mbak jelas terkejut. Semenjak Souta sudah masuk sekolah, Mbak sudah jarang memandikan Souta, tak seperti dulu. Jadi dia tak tau kalau tubuh Souta penuh lebam seperti itu. Souta selama ini menutupinya dengan sangat baik, tak ada seseorang pun yang mencurigai nya. Kecuali Mbak yang menaruh sedikit curiga pada suatu hari.
"Mbak pernah liat Souta pulang bajunya kotor sekali Mas. Katanya habis main bola sama temen temen. Tapi, kalau dipikir sekarang, ndak mungkin rambutnya ikut kotor sama basah kalau cuma main bola." jelas Mbak mencoba mengingat hari dimana Souta pulang dengan keadaan tak seperti biasanya.
"Katanya pernah diseret di lorong sekolah juga Mbak."
Mbak hanya terdiam, tak bisa merespon dengan kata kata. Mbak itu rawat Souta dari dia masih umur 2 tahun, jelas Mbak ngerasain sakitnya denger anak asuhnya dapet perlakuan yang kejam apalagi buat anak seusianya.
"Harris ke atas dulu Mbak, masih ada yang perlu dikerjain."
•••
Pada malam harinya, Harris mengajak Gin dan Arion untuk berbincang mengenai hal ini. Setelah diceritakan semuanya, Gin dan Arion mengamuk tak terima.
"Apa apaan! Besok kita datengin sekolahnya, kumpulin bukti biar lebih kuat." tegas Arion menggebu-gebu.
"Gila, masih kecil udah berani begitu. Kalau sampe orang tuanya nyolot gue pukul mereka ditempat." Gin pun tak kalah berapinya.
"Gue datengin rumahnya sekarang, anjing!"
"Calm down, Gin." Harris kali ini berperan sebagai air, mengendalikan emosi kedua sahabatnya yang kini sudah ia anggap seperti saudara sendiri.
"Ah, gak bisa ini. Souta di kamarnya kan Ris? Gue tidur di kamar Souta yak." Gin bangkit dari duduknya, bergegas menuju kamar Souta.
"Lah, hari ini giliran Souta tidur sama gue!" sahut Arion sambil terburu buru menyusul Gin.
Harris hanya menggelengkan kepalanya, sudah biasa melihat pemandangan seperti ini setiap hari.
KAMU SEDANG MEMBACA
infantem.
Fanfictionbeberapa kumpulan kisah kasih si kecil Souta dengan keluarga barunya. OOC / Mohon untuk tidak membawa karangan ini ke dunia nyata. 💌 : Precious Art by @/catlisart_ on X
