Sore itu, angin sore menyapu pelan daun-daun yang menari di pekarangan, sementara suara burung mengambang sayup di udara. Dunia terasa tenang, sampai satu suara kecil yang memecah keheningan penuh semangat.
"Main petak umpet, yuk!"
Souta, si kecil berusia empat tahun dengan mata bulat dan rambut berantakan seperti baru bangun tidur, berlari kecil sambil memeluk boneka penguin kesayangannya. Nafasnya riang, tawanya menggelitik angin.
Ketiga kakaknya sedang bersantai di beranda rumah yang hangat oleh cahaya senja. Arion sibuk dengan laptopnya, Harris tenggelam dalam buku yang dibacanya, dan Gin hanya memainkan ponselnya seperti biasa.
"Petak umpet?" gumam Harris sambil menutup bukunya perlahan, menatap sang adik kecil dengan senyum lembut.
"Souta yang jaga dulu! Souta hitung sampai tuweentii!" seru Souta bangga.
Gin menoleh, tersenyum nakal. "Masa? kemarin aja dari lima langsung loncat ke dua puluh."
"Souta bisa kok!" katanya penuh percaya diri.
Dan hitungan pun dimulai. "Satu... duwa... tigaaa... empat... tujuh... eh, lima... sepuluh... sebelas... TUWEENTII!!"
Dengan langkah kecil dan semangat sebesar langit, Souta mulai mencari. Ia mengintip di balik pot, di kolong bangku, bahkan mengintip kotak surat sambil berbisik, "Wel al you, guys~"
Namun angin sore mulai berubah lembut, seperti lagu nina bobo yang dinyanyikan diam-diam oleh langit.
Langkah Souta melambat. Matanya mulai berat.
Dan di ujung halaman, tersembunyi di balik tanaman rambat dan bayangan matahari, ada gudang kecil yang pintunya setengah terbuka. Cahaya senja masuk lewat jendela mungilnya.
Souta mengintip, lalu masuk perlahan. "Istirahat dulu deh sebentar..."
Ia memeluk boneka yang sedari tadi menemaninya, lalu duduk di atas karung goni yang terlihat empuk. Dan tak butuh waktu lama, dunia disekelilingnya seperti menghilang. Si kecil terlelap dalam pelukan hangat bayangan, meringkuk dalam keheningan.
Beberapa saat berlalu.
Langit jingga menjadi ungu, dan dari ungu berubah kelam. Lampu-lampu mulai menyala. Tapi suara langkah kecil yang mereka tunggu tak kunjung datang.
"Udah sore banget ini..." kata Arion pelan, bangkit dari tempat persembunyian. "Kok dia belum nemuin kita?"
Gin menuruni balkon dengan jantung mulai tak tenang. "Duh, kemana dia..."
Harris juga keluar dari persembunyian, wajahnya mulai muram. "Aku nggak denger dia lewat."
Tiga pasang mata saling menatap. Pelan, tapi pasti, senyum mereka lenyap. Raut wajah mereka berubah menjadi tegang.
"Souta?"
"Souta, kita nyerah! Kamu udah menang!"
Tak ada sahutan.
Tak ada langkah kecil yang tergopoh-gopoh sambil tertawa menyambut mereka.
Dan seketika, suasana rumah menjadi kacau.
Angin malam mulai menusuk, dan hujan rintik turun perlahan, seolah langit ikut menangis bersama kekhawatiran mereka.
Gin berlari ke dalam rumah, membuka setiap pintu, memeriksa kamar, kolong tempat tidur, bahkan lemari pakaian. Arion menyusuri pagar depan, meneriaki nama adiknya seperti doa yang tak putus-putus. Harris bertanya pada orang-orang yang melintas.
"Dia nggak suka sendirian," bisik Gin, setengah panik. "Dia takur gelap, takut suara petir..."
Harris mengacak rambutnya frustasi, "Enggak... jangan mikir yang buruk..."
Arion berdiri di tengah halaman, menatap gelap dengan tatapan kosong. "Souta... kamu di mana sih..."
Mereka semua panik. Pikiran buruk mulai menyeruak di benak mereka. Sampai...
Tiba-tiba, mata Gin menangkap pintu gudang kecil yang setengah terbuka.
Perasaan aneh menyusup ke dadanya. Ia berlari, membuka pintu dengan tangan gemetar.
"Sou? Souta!"
Dan di sanalah dia.
Meringkuk kecil di atas karung goni, pelukannya erat pada boneka penguin kesayangan. Napasnya tenang, wajahnya damai. Seakan ia hanya sedang tidur siang di kasur hangatnya.
"Yon! Ris! Souta ketemu!"
Dua pria yang dipanggil langsung datang tergesa. Harris berlutut, menyentuh pipi si kecil dengan penuh rasa bersalah. "Souta.. bangun, sayang."
Kelopak mata kecil itu bergerak. Ujung bibirnya terangkat sedikit. "Ayyis.. Souta menang ya?"
Tangis meledak tanpa suara. Harris memeluk tubuh kecil itu erat-erat, seolah tak akan pernah melepaskannya lagi.
"Iya, kamu menang, Sou... kamu menang... tapi jangan sembunyi selama ini lagi, ya? kita semua takut..."
Malam itu, mereka menyelimuti Souta dengan pelukan dan kasih sayang. Souta makan sup hangat di pangkuan Arion, disuapi Harris, mendengarkan Gin yang bercerita sambil duduk dan memainkan jari kecil Souta.
"Souta," kata Arion lembut, "kalau kamu ngantuk, bilang aja, ya. Nggak usah sembunyi dulu."
Souta mengangguk pelan. " Souta tadinya cuma mau istirahat sebentar. Eh, malam ketiduran..."
Gin tertawa kecil, mencubit pipi Souta pelan. "Kali ini kamu menang, soalnya bikin kita bertiga hampir mati karena takut."
Dan malam itu, tak ada satu pun dari mereka tidur lebih dulu sebelum memastikan bahwa adik kecil mereka benar-benar ada. di tengah, di anatara pelukan yang hangan, dan tak akan pernah tersesat lagi.
Mungkin, bagi anak sekecil Souta, tidur di balik senja hanya permainan sederhana. Tapi bagi mereka yang mencarinya dengan dada yang nyaris runtuh, itu adalah jeda panjang yang mengajarkan satu hal penting—meski hanya sekejap tak terlihat, ketakutan itu kembali. Bukan karena mereka tak percaya. Tapi karena cinta, setelah kehilangan, tak benar-benar pulih—hanya belajar memeluk lebih erat, setiap kali diberi kesempatan.
KAMU SEDANG MEMBACA
infantem.
Fanfictionbeberapa kumpulan kisah kasih si kecil Souta dengan keluarga barunya. OOC / Mohon untuk tidak membawa karangan ini ke dunia nyata. 💌 : Precious Art by @/catlisart_ on X
