—Disclaimer; Cerita ini dan cerita sebelumnya bukan bagian dari cerita utama, sekedar berandai-andai bagaimana jadinya kalau si kecil berubah jadi remaja SMA.
Langit telah menghitam ketika motor besar itu berhenti mendadak di halaman rumah mereka. Suara mesin mati disertai derit rem mendadak, dan sesosok pemuda turun tergesa sambil menarik seorang remaja yang lebih muda dari jok belakang.
"Sakit, Gin! Lepasin!" protes Souta, tertatih.
"Diem." bentak Gin, ekspresinya marah dan nadanya jauh dari canda yang biasa. "Kalau kamu masih bisa teriak, berarti belum sekarat. Masuk!"
Souta terhuyung ditarik masuk. Lengan bajunya yang robek, celanya yang kotor penuh debu, dan ada darah kering di sudut bibir. Gin membanting pintu setelah mereka masuk, menendang sepatunya sembarangan, dan mendorong Souta ke ruang tengah.
Arion yang juga tak lama baru pulang dari kantornya segera berbalik. Harris, yang duduk di sofa sambil mengecek beberapa dokumen menatap tajam ke arah mereka berdua.
"Souta?" suara Arion lirih tapi tegas.
Gin menunjuk ke arah adiknya. "Tebak siapa yang baru ketahuan ikutan tawuran bareng anak SMA sebelah."
Harris mendekat cepat, memegang pundak Souta, memeriksa memar dan luka. "Ini serius. Kamu luka, Souta."
Arion ikut mendekat. "Tawuran?" katanya datar. "Bercanda kamu?"
Souta menahan nafas, tapi nadanya tetap keras meski wajahnya terlihat ketakutan setengah mati.
"Souta cuma bela temen Souta! Dia di gebukin rame-rame. Souta cuma bantu dia keluar."
Gin mengangkat alis. "Bantuin? Kamu bantuin siapa kalau kamu sendiri nyaris pulang tinggal nama?"
Souta menghindari tatapan ketiga kakaknya, tetap bersikukuh. "Souta gak bisa diem aja, Gin. Souta bukan kalian yang bisa sabar tahan-tahan diri terus..."
"Dan kamu pikir kita tahan diri karena pengecut?" Arion melangkah maju, nadanya lebih tinggi. "Kita tahan diri karena kita tahu nyawa itu cuma satu, Souta."
Harris menatapnya lama. Tenang, tapi dalam. "Berani itu penting, tapi hidup kamu lebih penting dari apapun. Kamu bisa berdiri buat orang lain, tanpa harus ngorbanin diri kamu sendiri."
Souta membuka mulut untuk menajawab, tapi tak ada suara yang keluar. Hanya napas berat, dan genggaman yang makin erat di sisi celana sekolhnya yang kotor.
"Souta cuma... nggak mau jadi orang yang diem aja. Dulu waktu Souta kecil, nggak ada teman yang nolong Souta."
Gin yang awalnya terlihat meledak, tiba-tiba terdiam. Tatapannya melembut. Ia mendekat lalu merangkul bahu adiknya dengan gerakan singkat tapi penuh makna.
"Kamu udah nggak sendiri, Sou." bisiknya. "Kalau ada yang nyakitin kamu atau orang yang kamu sayang, kamu tinggal bilang. Kita yang maju duluan."
Souta mendunduk. "Maaf..."
"Kita sayang kamu lebih dari apapun, Souta. Kita gak pernah mau kamu dapet luka sekecil apaun itu."
Mata Souta mendadak panas, cairan bening sudah menumpuk di pelupuk matanya. Dengan gerakan cepat, Souta menubruk tubuh Harris, menenggelamkan wajahnya didalam pelukan hanagt itu, dan menangis keras seperti anak kecil.
"Aih, cengeng banget, katanya udah gede." ejek Gin.
"Gin!"
Ketiga kakaknya itu hanya tertawa gemas melihat anak kecil yang kini tumbuh menjadi anak remaja. Meski diluar sana Souta berdiri maju paling depan untuk membantai lawan. Tapi di rumahnya, ia hanyalah seorang anak kecil yang masih manja pada tiga kakaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
infantem.
Fanfictionbeberapa kumpulan kisah kasih si kecil Souta dengan keluarga barunya. OOC / Mohon untuk tidak membawa karangan ini ke dunia nyata. 💌 : Precious Art by @/catlisart_ on X
