Demam pertama, tantangan pertama

1.4K 206 8
                                        

Langit masih gelap, sang mentari masih bersembunyi, belum menampakkan diri. Hanya sedikit lampu taman yang menyelinap masuk melalui celah tirai tipis. Di dalam rumah yang biasanya hangat oleh suara canda dan tawa, malam itu sedikit berbeda. Ada suara lain yang membuat tiga pria penghuni rumah itu terbangun serempak.

Sebuah tangisan.

Bukan tangis biasa.

Tangis kecil yang parau, lemah, dan bergetar. Bukan rengekan meminta susu seperti biasa. Kini terdengar lebih... menyedihkan.

Gin terbangun dengan segera. Langkahnya cepat menuju kamar si kecil yang berada di ujung lorong.

Begitu pintu dibuka, hatinya langsung mencelos.

Souta, si bayi yang kini menginjak usia delapan bulan, yang biasanya tertawa ketika diajak bercanda, atau tidur nyenyak dengan empeng yang selalu menyumpal mulutnya setiap malam, kini meringkuk di ranjang bayi, tubuhnya panas, dan pipinya semerah buah apel. Matanya sembab, dan napasnya terdengar seperti bunyi peluit kecil.

"Harris! Arion! Souta sakit!"

Dalam sekejap, seisi rumah menjadi panik.

Harris yang masih dengan kaos lusuh dan rambut acak-acakan, dengan segera menyambar termometer bayi—yang untungnya mereka persiapkan dari jauh jauh hari. Arion, yang bahkan belum sempat membuka mata sepenuhnya langsung menggendong Souta dengan hati-hati.

"Aduh, kenapa badannya panas banget..."

Souta hanya merengek lirih, badannya bersender di dada Arion. Tangan kecilnya menggenggam erat-erat baju yang dikenakan kakanya, seolah meminta pertolongan.

"38,6 derajat," gumam Harris. Alisnya terangkat. "Kita butuh dokter, sekarang."

Arion yang biasanya selalu bersikap tenang, kali ini terlihat bingung. 

Gin mondar-mandir, menelepon dokter, menyiapkan air hangat, menyiapkan tisu basah, mengatur suhu AC. 

"Tenang, ya? kamu kan jagoan."

Souta hanya menjawab dengan gumaman, matanya terpejam lemah.

Kamar si kecil kini berubah seperti ruang UGD. Harris duduk disamping ranjang sambil mengayun-ayunkan tubuh Souta pelan digendongannya. Gin ada disampingnya, memegangi botol yang hanya disentuh sedikit. Arion sibuk mencari jurnal pertolongan pertama sambil menunggu dokter datang.

"Katanya, kalau bayi demam dia harus banyak minum susu, biar gak dehidrasi," jelas Arion.

"Dia gak mau nyusu, yon."

"Souta capek," bisik Harris. "lihat tangannya."

Tangan mungil Souta yang biasanya aktif mencakar dan mencengkram apapun, kini hanya menggenggam udara kosong. Lemash, hampir tak bergerak.

Tiga pasang menatapnya khawatir, masing-masing dengan hati nyeri. Takut kehilangan, lagi.




Akhirnya dokter datang sekitar pukul delapan. Wanita paruh baya itu dengan sabar memeriksa tubuh mungil Souta, mengusap lembut rambut birunya yang menempel di dahi karena keringat.

"Demam biasa, mungkin karena tumbuh gigi. Tapi harus tetap diawasi, perbanyak cairan, perbanyak pelukan." Wanita paruh baya itu tersenyum pada tiga pria yang kini menaatapnya seolah dia penyelamat dunia.

Saat dokter pergi, ketiga pria itu tak menjauh dari kamar si kecil. Gin yang terduduk disamping ranjang sambil menggengan tangan Souta yang mulai membaik, Harris menyiapkan botol susu baru dengan susu hangat, dan Arion yang berdiri di sisi lain ranjang sambil mengusap kepala kecil Souta.

Dan ketika akhirnya Souta mulai menyusu pelan—meskipun sambil meringis dan sesekali menangis kecil—ketiganya hampir menangis juga.

"Kuat banget dia..." gumam Arion.

"Belum genap satu tahun, tapi bisa bikin tiga cowok dewasa ini lari-lari panik di jam 4 subuh," keluh Harris pelan, tapi sambil tersenyum.

Gin mengelus pelan pipi Souta yang kini panasnya sudah mulai turun. "Nanti kalau udah gede, jangan bikin kita sepanik ini lagi ya.."

Souta menggumam, kemudian mengeluarkan suara khas bayi yang tak jelas arti. 

"Wwaaa..."

Tapi cukup.

Ketiga pria itu tersenyum hangat. Mereka tak pernah menyangka bahwa mereka akan sepanik ini menghadapi demam si kecil. Tapi dari situ, mereka semakin dekat satu sama lain, entah sejak kapan kasih sayang ini datang, tapi mereka yakin ini akan bertahan selamanya.


infantem.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang