Souta masuk PAUD?

1.3K 201 11
                                        

Pagi itu, saat matahari baru saja muncul dengan malu-malu dari balik awan saat rumah itu dipenuhi hiruk pikuk yang tak biasa. Souta, si kecil berambut biru yang kini menginjak usia 4 Tahun, hari ini untuk pertama kalinya dia akan mulai masuk Preschool  atau PAUD. Sebagai persiapan untuk masuk Taman Kanak-Kanak di tahun berikutnya.

Tas ranselnya berwarna biru bergambar pinguin kesukannya. Sepatunya masih kaku, topi yang juga berwarna biru, dan seragam mungilnya membuat dia seperti boneka hidup yang terlalu manis untuk di lepas kedunia luar.

"Ayo coba perkenalan dulu," pinta Arion yang melihat Souta sudah sangat bersemangat hari ini.

"Emm, pelkenalan aku Souta!" ujarnya dengan nada cadel yang khas.

Arion tertawa puas, "Perkenalkan, bukan perkenalan."

"Ohh, nanti aja deh!"

Di dapur, Harris sedang mempersiapkan kotak bekal Souta. Berbekal pengetahuan dari video Youtube, Harris membekali si kecil dengan potongan buah dan beberapa cemilan tambahan. Sementara Gin menghampiri Souta sambil membawa sepiring roti panggang untuk sarapan.

"Sou, sarapan dulu," ajaknya.

Souta ikut menghampiri, berjalan bersama menuju meja makan. 

"Loti!" pekik Souta.

Gin menuangkan susu ke gelas kecil berwarna biru. "Minum susunya sampai habis, biar kuat nanti disekolah."

Souta mengangguk semangat lalu menyeruputnya sampai habis. "Ayo sekolah!"





Gerbang sekolah itu penuh warna, penuh anak-anak kecil yang menangis, tertawa, atau bersembunyi di balik kaki orang tuanya. Souta awalnya diam saja, menggenggam tangan Arion erat erat, pandangannya ke segala arah.

"Souta takut?" tanya Harris.

Souta menjawab cepat, "Nggak! Aku peembelani!"

Tapi saat bel masuk berbunyi dan semua anak mulai berbaris, tangan mungil itu langsung melingkar pada kaki Arion, enggan melepaskan.

Gin berjongkok, menatapnya sejajar. "Souta tahu gak? Nanti disana ada banyak yang seru. Ada mainan, buku gambar, temen baru... Tapi cuma anak-anak keren yang bisa masuk sendiri."

Souta menatap Gin ragu, lalu melepaskan pegangannya dan membuka isi tasnya mengeluarkan boneka kecil hasil rajutan tangan dari Mbak.

"Souta boleh sambil pegang ini?"

Gin tersenyum dan mengangguk. "Boleh dong! biar kayak ditemenin Mbak ya?"

Souta mengangguk. Dengan napas panjang, Souta akhirnya melangkah, sedikit ragu... lalu mulai berlari kecil masuk barisan. Sesekali menoleh, memastikan tiga kakaknya masih berdiri di sana.

Dan sebelum masuk ke ruang kelas, dia melambaikan tangan tinggi-tinggi.

"Tunggu Souta disana, ya!"

Mereka bertiga hanya tersenyum hangat, sambil terus memperhatikan si kecil yang mulai masuk ke ruang kelasnya.

"Aih, udah gede dia." kata Gin sambil melipat tangan dan tersenyum bangga.

Harris tiba-tiba berbicara. "Tapi sadar gak sih? kita diliatin orang-orang dari tadi."

Arion dan Gin dengan kompak langsung menatap sekeliling. Ternyata sedari tadi, ketiga pria dewasa itu menjadi pusat perhatian di halaman sekolah. Dengan penampilan rapi dan wajah yang memancarkan pesona masing-masing, membuat para ibu saling berbisik, beberapa ayah mencuri pandang penasaran, bahkan beberapa guru muda menyambut dengan senyum terlalu cerah.

"Anjir lah, nasib punya muka cakep." celetuk Gin.





Beberapa jam kemudian...

Souta keluar dengan pipi merah dan rambut acak-acakan. Di tangan kanannya, ada lukisan tangan yang di cat biru dan kuning. Di tangan kirinya ada sepotong biskuit yang diremukkan.

"Udah selesai!"

Si kecil langsung berlari, dan tanpa aba-aba melompat ke pangkuan Gin yang duduk di trotoar depan gerbang.

"Gin! Temen Souta namanya Ave! Katanya lambut Souta kayak langit! Telus.. ada cewek, namanya Sewia, dia nangis soalnya belantem sama Lona! Souta kasih jeli, suluh meleka baikan, telus meleka baikan deh!"

Souta mengoceh tanpa jeda, dengan suara antusias juga nada cadel khasnya serta mata berbinar.

Gin tertawa kecil, tangannya otomatis mengelus rambut Souta yang lepek karena keringat. "Wah, hebat dong buat orang baikan."

"Emm, kata gulu juda gitu.." gumam Souta, pipinya memerah.

Arion dan Harris tertawa dari belakang.

"Jadi, Souta suka sekolah?" tanya Arion.

Souta mengangguk semangat. "Bisa gambal, bisa nyanyi... telus gulunya kasih stikel! Tapi cuma buat yang hebat aja, kalau nangis katanya gak dapet."

"Kamu dapet bintangnya?" tanya Harris.

"Souta dapet dua! Kalena sudah jadi  pahlawan dan gak nangis kata gulu."

Gin memeluknya erat.

"Souta keren!"

Dan hari itu, ditengah keramaian dunia yang terus berjalan, tiga pria dewasa itu tahu satu hal pasti:

Anak kecil yang mereka temukan dalam tangisan bertahun lalu... kini perlahan mulai menaklukan dunianya sendiri.

infantem.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang