Langkah pertama

1.4K 192 15
                                        

Hujan baru saja reda. Jejaknya masih menempel di kaca jendela besar yang membentang dari lantai hingga langit-langit, memburamkan pemandangan laut yang tenang di kejauhan. Langit terbuka pelan-pelan, memperlihatkan bintang-bintang yang malu-malu menampakkan diri dari balik tirai awan tipis.

Di ruang tengah yang terbuka lebar tanpa sekat, sofa abu-abu lembut menghadap langsung ke lautan. Aromaterapi dari diffuser menyatu dengan bau tanah basah dan garam laut, menciptakan kehangatan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Di tengah ruang itu, seorang bayi berambut biru langit sedang duduk di atas karpet empuk bergambar dinosaurus kecil-kecil, matanya yang bulat berkilau penuh rasa ingin tahu.

Souta. Ia baru berusia satu tahun lebih sedikit, dan semua tentang dirinya terasa seperti potongan kebahagiaan yang diturunkan langsung dari langit. Pipinya tembam, tangannya mungil, dan bibirnya selalu siap melengkung dalam tawa atau cemberut manja yang membuat tiga kakaknya memekik gemas setiap saat.

Malam itu, ada sesuatu yang berbeda dalam cara ia menatap dunia. Tangannya mencengkeram ujung meja kecil, matanya memandangi sekeliling seperti seorang penjelajah yang akan memulai ekspedisi besar.

"Ayon..." gumamnya pelan, suaranya cadel dan basah, memanggil Arion yang sedang duduk di sofa membaca dokumen.

Arion mengangkat kepala. Senyumnya langsung merekah. "Ada apa sayang?"

Souta menggumamkan sesuatu yang tak jelas, lalu memalingkan wajah ke arah Gin yang baru keluar dari dapur dengan sebotol susu hangat untuk si kecil.

"Ginn~"  serunya manja, lebih keras kali ini. Tangan kecilnya terangkat ke udara.

Tak jauh dari sana. Harris terlihat tengah mengambil beberapa cemilan ringan dari lemari penyimpanan makanan. Ia ikut menoleh dan tersenyum, berjalan pelan menghampiri adik kecil mereka yang kini tampak... gelisah.

"Ayyis disini juga," ujarnya lembut.

Lalu, seperti adegan lambat dari film yang terlalu manis untuk dilupakan, Souta mulai menggoyangkan kakinya. Ia berdiri, meski masih goyah. Kedua tangannya meraba-raba udara seperti sedang mencari keseimbangan tak kasat mata. Semua kakaknya menahan napas.

Langkah pertama.

Kaki kirinya maju perlahan, tubuhnya limbung. Tapi ia tidak jatuh.

Langkah kedua.

Kakinya terseret sedikit, tangannya terangkat seperti sedang memohon pelukan.

Harris dengan cepat meletakkan semua cemilan yang ia bawa di atas meja kecil. Mengambil handphone di saku celananya, bersiap merekam momen berharga ini.

"Ayo sini ke Gin." GIn membuka tangannya lebar.

Souta tertawa—sebuah tawa renyah dan penuh cahaya, sebelum ia melangkah sekali lagi. Lalu sekali lagi. Tubuhnya oleng sedikit ke kanan, dan hampir jatuh...

"Eh, eh!" Arion sudah bersiaga, tapi tidak menyentuhnya. "Ayo Souta bisa!"

Dan akhirnya, langkah kecil itu berhasil mencapai tujuan. Souta menjatuhkan diri tepat di pelukan Gin yang menunggu di karpet.

"Aaaah!" seru ketiganya bersamaan. "Souta bisa jalan!"

Bayi kecil itu tertawa geli, pipinya memerah karena semangat. Ia menepuk-nepuk dada Gin, lalu menoleh ke Arion dan Harris dengan senyum lebar yang memperlihatkan dua gigi mungilnya. Tangannya menggapai-gapai lagi, seakan berkata, Lihat, aku bisa!

"Ayo lagi! lagi!" seru Gin. masih memeluknya.

"Ayo coba jalan ke Harris."

Souta tampak bingung. Ia melihat ke kiri dan kanan, lalu menyembunyikan wajahnya di dada Gin sambil tertawa malu-malu.

"Udah capek dia." kata Arion sambil tertawa pelan. 

Gin mengangguk, lalu menggoda, "Ini dia, langkah pertama buat jadi bayi nakal yang bakal lari-lari dan nggak bisa diem."

Souta mengangkat wajah. Matanya setengah mengantuk tapi masih bersinar.

"Gin yan nakal!" serunya dengan lidah cadel yang membuat ketiga kakaknya tertawa keras seketika.

Dan dimalam yang sunyi tapi hangat itu, cinta tumbuh seperti halusnya embun: perlahan, lembut, dan selamanya tertinggal dalam hati siapa pun yang menyaksikannya.

Langkah kecil itu, mungkin tak berarti bagi dunia.
Tapi bagi mereka—itu adalah langkah pertama menuju rumah yang sesungguhnya.





Punya draft tentang Harris as sipil, mau gak? agak aneh soalnya, jadi ragu...

infantem.Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang