Jisung putus asa, dadanya benar-benar sakit. Ia tak kuat menahannya.
"Aku sudah menulisnya... Aku berhasil, hyung.... Tolong aku..."
Tak lama, penglihatannya kabur dan ia mulai kehilangan kesadaran. Hingga akhirnya ia benar-benar pingsan.
Tok tok tok!
Tak lama, terdengar suara pintu di gedor kuat.
"Jisung~ah!"
"Jisung~ah buka pintunya!" para Hyung yang memanggilnya.
Pintu kamar kala itu terkunci.
Mau tidak mau, Jeno mendobrak masuk.
Mereka melihatnya. Melihat Jisung tergeletak tak berdaya.
"Apa-apaan ini?!" panik Jaemin.
"Cepat panggil ambulance!!" teriak Renjun dengan cepat membuat haechan secara refleks membuka handphonenya.
Disaat yang lain tengah sibuk mengurusi Jisung, Chenle hanya terdiam tak berkutik. Ia membeku di depan pintu dan tak berani masuk ke dalam kamar.
"Ini salahku? Apa semua ini perbuatan ku?"
Chenle begitu ketakutan, ia takut perbuatannya waktu itu akan menghilangkan nyawa si bungsu.
"Chenle~ya! Kenapa terus berdiri di situ?! Ayo bantu kami!!" teriak Haechan kesal.
"Ah! I... Iya..." Chenle langsung berlari ke arah Jisung.
Ia melihat beberapa butir pil berserakan di dekat tubuh Jisung. Ia lantas menyadari, setelah ia meninggalkan kamar, penyakit Jisung kambuh.
"Maafkan akuuuu," teriak Chenle begitu khawatir.
Mereka yang mendengar itu lantas terdiam, apa yang terjadi?
"Kau ini kenapa?!" bingung Renjun.
"Ada apa Chenle? Ayo ceritakan," tanya Mark kemudian.
Chenle terdiam, pikirannya benar-benar kosong. Ia tak tahu harus berbuat apa?
Benar-benar hari yang buruk. Tolong jangan bilang jika Jisung harus hiatus lagi. Itu tidak masuk akal! Ayolah, semua akan kecewa!
Pukul 03.46 kst.
Jisung sudah dibawa ke rumah sakit dan sekarang sedang menerima pengobatan.
Jaemin, Jeno, Mark, Renjun dan Haechan tengah duduk, menunggu penjelasan dari dokter.
Sedangkan Chenle, ia terus berdiri menghadap ruangan yang saat ini tengah mereka pakai untuk menangani Jisung.
Nyaris menangis, Chenle yang dikenal jarang menangis benar-benar tertekan.
Renjun yang melihat tangan Chenle terus saja gemetar, akhirnya berdiri kemudian menemui Chenle.
"Kau kenapa?" gumam Renjun seraya ingin mengetahui apa yang terjadi pada anak itu.
"Bu—bukan apa-apa!"
"Ayo ceritakan! Aku tidak akan marah, loh!"
"Tapi..... Aku takut sama Jaemin Hyung," jelas Chenle sedikit takut.
"Takut? Kenapa?"
"Aku tidak tahu... Tapi, mungkin yang membuat Jisung jadi seperti ini adalah aku," balas Chenle khawatir.
"Ha?" tak percaya Renjun.
"Ma—maafkan aku."
"Ti—tidak! Kau harus menjelaskan semuanya dulu...."
Renjun kemudian menarik Chenle ke tempat yang jauh dari member lain berkumpul.
Mereka menuju pelataran rumah sakit yang sedikit berangin itu.
"Apa maksudmu?" gumam Renjun meminta penjelasan.
"Aku tidak tahu! Aku tidak tahu apa yang baru saja ku katakan kepadanya!" teriak Chenle sangat takut.
"Ayo... Ingat-ingat dan katakan saja, kami tidak akan kecewa dan membencimu, kok!"
"Kau tidak bohong, kan?" Chenle mencoba memastikan.
"Iya."
Mereka pun duduk di bangku taman.
"Jadi... Setelah pulang latihan waktu itu, aku masuk ke kamar Jisung hanya untuk menghiburnya, karena saat berangkat ke agensi... Dia membicarakan hal yang agak mengganggu pikiran ku."
"Aku berinisiatif memberinya semangat kembali..."
"Haaa... Aku ceroboh sekali..." imbuh Chenle dengan suara yang semakin mengecil.
"Hyung... Aku pulang duluan, yah? Aku tidak berani menatap anak polos itu," gumam chenle kemudian meninggalkan lelaki yang tengah terpaku itu.
"Dia menyayangi mu," ucap Renjun ragu-ragu.
Chenle yang hendak meninggalkan pelataran rumah sakit lantas menghentikan aktivitasnya.
"Maksudmu?" tanya Chenle ragu-ragu.
"Dia sangat menyayangi mu. Aku pernah 1 kamar dengannya. Dia bilang, “suatu saat nanti, aku ingin membalas kebaikan Chenle selama ini, aku telah merepotkannya, dan jujur saja... Chenle adalah salah satu orang yang telah ku anggap sebagai saudara sendiri.”... Begitu katanya."
"........" Tak ada respon, Chenle tetap terdiam setelah mendengar perkataan Renjun.
"Hyung... Apakah aku telah gagal menjadi seorang kakak?"
"Maksudmu?"
"Jisungie terus menganggapku sebagai orang baik yang pernah ia kenal. Padahal, aku sendiri secara tidak langsung terus melukainya dan tak mengizinkannya beristirahat."
"Jangan berkata seperti itu."
"Tapi itu memang benar adanya, kan Hyung?"
Yah, Renjun tidak tahu harus menjawab apa. Memang benar, hampir semua anggota tim seperti itu. Mereka memacu semuanya agar berjalan lancar dan tak terkendala. Dulu, waktu Jaemin sedang sakit juga dia harus tetap tampil untuk menyenangkan hati para menonton.
Sama hal nya dengan Chenle yang dulu harus tampil walaupun dengan kaki yang terluka.
"Ngomong-ngomong... 2 hari lagi kita harus tampil, kan?" gumam Chenle bertanya pada Renjun.
"Benar juga, yah?"
"Aku akan mengajukan pada manager hyung agar Jisung tidak ikut tampil kali ini."
"Jangan gegabah, Zhong Chenle. Jisungie itu sangat senang bila bisa menyapa penggemar melalui panggung, kau juga ingat, kan? Saat dia sakit, tapi dia terus tampil di 3 acara..."
"Tapi kalau terus begini, dia akan hancur!"
"Yah, pekerjaan kita menghibur... Jika salah dalam bertindak kita akan kehilangan penonton... Memang itu adanya, kita harus tetap konsisten dan totalitas..."
"Hyung.... Berhentilah, aku tahu... Aku yang salah, karena itu aku ingin merawat hingga detik terakhirnya!" teriak Chenle mulai kesal dengan situasi.
"Maksudmu?"
"Hyung tahu sendiri, kan? Penyakit Jisungie itu tidak bisa disembuhkan... Karena itu, Jisung pernah bilang padaku, dia ingin dirawat olehku setidaknya seminggu sebelum dia pergi... Lalu, untuk tubuhnya... Dia ingin mengorbankan bagian tubuh yang masih bisa berguna untuk orang-orang yang membutuhkan."
"Mengorbankan? Ti.. Tidak! Aku tidak setuju! Bagaimana mungkin dia harus kehilangan nyawa dengan raga yang tidak utuh?!"
"Tapi itu keputusan yang ia buat!"
Chenle berlari meninggalkan Renjun, ia benar-benar kesal dengan tingkah lelaki itu yang tidak seperti biasanya.
_______
Kalau ada typo ingetin author yah, maaf jarang update🙏
Voment jangan lupa💚💚💚💚💚
Love you buat kalian yang udah baca💚💚💚💚💚💚💚
KAMU SEDANG MEMBACA
OUR JISUNG
RandomJisung seorang anak laki laki berusia 11 tahun yang tidak memiliki teman. dia kesulitan berkomunikasi, takdir mempertemukan jisung dengan Mark, Renjun, Jeno, Haechan, Jaemin, dan Chenle yang usianya 2 tahun lebih tua dari nya, para Hyung mengajari n...
