"Hyung tahu sendiri, kan? Penyakit Jisungie itu tidak bisa disembuhkan... Karena itu, Jisung pernah bilang padaku, dia ingin dirawat olehku setidaknya seminggu sebelum dia pergi... Lalu, untuk tubuhnya... Dia ingin mengorbankan bagian tubuh yang masih bisa berguna untuk orang-orang yang membutuhkan."
"Mengorbankan? Ti.. Tidak! Aku tidak setuju! Bagaimana mungkin dia harus kehilangan nyawa dengan raga yang tidak utuh?!"
"Tapi itu keputusan yang ia buat!"
Chenle berlari meninggalkan Renjun, ia benar-benar kesal dengan tingkah lelaki itu yang tidak seperti biasanya.
Sehari setelahnya...
Cuaca pagi kali ini sangat mendung, bagai awan juga merayakan kehancuran ini.
Member lain selain Jisung dan Chenle, mereka semua berlatih di agensi.
Sedangkan Chenle, ia masih berada di rumah sakit untuk membawa Jisung kembali ke asrama. Sebenarnya, dokter masih belum mengizinkan Jisung pulang, mengingat kondisinya yang semakin hari semakin melemah. Tapi, karena permintaan agensi, tak ada cara lain. Mereka harus tetap tampil bertujuh besok.
"Kau baik-baik saja?" gumam Chenle yang tengah mengemasi baju maupun selimut yang berserakan.
"Aku baik-baik saja," balas Jisung yang tengah duduk di kursi roda-nya.
"Emmm... Chenle~ya, aku ingin mengucapakan sesuatu..." gumam Jisung dengan suara yang kian memelan.
"Apa itu?" Chenle menghentikan aktivitasnya.
"Emm... Chenle' kan sudah mulai merawatku dengan penuh hingga meninggalkan latihan... Apakah itu artinya, aku akan pergi sebentar lagi?" Jisung terkekeh pelan.
"Apa maksudmu, hah?!" Chenle langsung menarik kerah baju yang dipakai lelaki bongsor itu.
"Hahaha, Chenle~ya... Aku sedih jika harus melihatmu seperti ini, maukah kau melepasku? Kumohon..."
"Melepas? Semudah itu kau mengatakannya? Sekuat mungkin aku tak akan pernah melepaskanmu! Jika harus pergi maupun pulang, kita pulang bersama!"
"Chenle~ya... Ini sakit... Jika kau ikut bersama-ku nanti, secara tidak sadar kau melukaiku..."
"Bukan maksudku untuk melukaimu... Tapi, tolong bertahanlah sebentar lagi saja, aku tak akan meminta lebih... Aku harus membalas semua kebaikan-mu, jika itu demi kesehatanmu... Tidak apa! Aku saja yang pergi."
"Kau ini bicara apa?! Kau tidak boleh ikut... Cukup aku saja," gumam Jisung yang kini surai-nya tengah tertiup angin.
"Mereka akan sedih jika harus kehilangan orang se manis dan se energik dirimu," imbuhnya.
"Bukankah keributan di asrama selalu kau yang melakukannya? Lantas, kalau kau pergi meninggalkan kami dan mereka... Apakah semua itu akan tetap berjalan sama, hah?! Aku tanya padamu PARK JISUNG!!" Chenle mulai geram dengan keadaan.
"Masih ada Haechan Hyung dan juga Chenle, Jaemin Hyung juga..."
"Kau pikir dengan kepergianmu mereka akan tetap seperti itu?! Kau tahu? Jaemin Hyung itu sangat menyayangi dirimu, sebagian besar kebahagiaannya adalah saat kau berada di dekatnya! Kau pikir dia akan tetap tersenyum bodoh bahkan ketika pemakaman-mu?!"
"Yah, itu permintaan-ku," gumam Jisung menanggapi apa yang baru saja Chenle lontarkan.
"Maksudmu?"
"Itu permintaan terakhir yang akan ku katakan suatu hari nanti, meminta agar kalian tetap tersenyum dan jangan sekalipun meneteskan air mata di hari pemakaman ku."
"Bodoh! Permintaan macam apa itu?!"
Seketika hening, tak ada yang membuka pembicaraan setelah itu.
Beberapa jam kemudian, mereka sampai di dorm. Chenle bergegas memasak makanan untuk mereka makan bersama.
KAMU SEDANG MEMBACA
OUR JISUNG
RandomJisung seorang anak laki laki berusia 11 tahun yang tidak memiliki teman. dia kesulitan berkomunikasi, takdir mempertemukan jisung dengan Mark, Renjun, Jeno, Haechan, Jaemin, dan Chenle yang usianya 2 tahun lebih tua dari nya, para Hyung mengajari n...
