Aku menatap dirimu yang kini hanya tersisa foto dan kenangan. Wajahku mungkin terlihat layu... Seperti tak bisa menerima takdir. Jujur, aku masih belum bisa merelakanmu. Kau terlalu baik dan menyimpan banyak kenangan indah bersamaku. Namun, semuanya menjadi kenangan yang pedih. Bahkan, hanya untuk mengingatmu... Dadaku sakit, sakit sekali...
Lee Haechan, barusan itu Lee Haechan. Yah, seperti yang kita kenal. Lelaki ceria, cerewet, dan sering bikin onar. Rasanya aneh jika seorang Lee Haechan tiba-tiba jadi pendiam dan puitis seperti ini. Namun, nyatanya dia memang seorang yang puitis.
Dia menatap layu ke arah jendela kamar. Dia baru saja duduk di bangku yang entah dijadikan meja belajar atau meja makan. Sangat berantakan.
"Haechan Hyung, katanya mau main ke luar?" Yang tadi itu Chenle. Beberapa hari lalu dia sempat membuat janji dengan Haechan untuk main ke taman depan rumah. Dekat, dekat banget.
"Sekarang?" tanya Haechan sekilas menatap Chenle yang sudah berpakaian rapih lengkap dengan sunglass nya.
"Ya iya lah, kan nanti sore Hyung bakal ke agensi."
"Yaudah, lah... Kalau gitu, buruan!" Haechan melewati Chenle. Kemudian melenggang ke luar kamar.
"Loh?? Nggak siap-siap dulu?" Chenle kebingungan.
"Buat apa? Udah rapi gini."
"Hyung nggak pake celana panjang?"
"Nggak ah! Pakai yang nyaman aja."
_____
Mereka berjalan. Melewati hiruk-pikuk kota yang amat ramai. Ngomong-ngomong, mereka tidak jadi bermain di taman. Entah karena niatan apa, Tiba-tiba Chenle mengajak Haechan ke pusat kota.
"Kalau tau gini, mah... Mending pake celana panjang aja!" keluh Haechan kesal.
Chenle yang mendengar itu hanya bisa terkekeh pelan.
"Dibilangin gak mau nurut, sih!"
"Ya kamu nya aja yang gak jelas, katanya cuma mau ke luar rumah, eh... Malah ke pusat kota!" dengus Haechan kesal.
"Ih yaudah yah, biarin! Masa cuma di luar rumah, nggak asik lah!"
"Mana ada orang janjian piknik di luar rumah," sambungnya.
Haechan menghela napas panjang. Terlihat dari wajahnya, ia terlihat sangat kesal. "Jadi, kita mau ke mana?"
"Hmmm... Ke pemakaman? Menarik, bukan?" ucap Chenle tanpa beban.
"Ha? Okey, aku pulang duluan, yah." Haechan langsung memutar arah, lalu berjalan pergi.
Chenle lantas berlari kecil mengejar Haechan.
"Hey! Kok malah pulang gitu aja sih?!" dengus Chenle kesal.
"Ya, kenapa lo ungkit-ungkit hal yang udah berlalu??" ujar Haechan tak suka.
"Aku nggak ngungkit kok, aku cuma mau nyadarin lo yang hampir 2 tahun ini nggak dateng ke kuburan adik lo sendiri!"
"Terus apa urusannya sama gue? Udah, aku nggak punya adik lagi. Lo yang terakhir!"
Chenle terdiam. Apa benar itu Haechan? Sifat dan cara bicaranya berbeda sekali.
"Hyung... Jangan sok ngelupain deh, aku tahu... Hyung bukan orang yang mudah lupain sesuatu. Jangan bohongin diri Hyung sendiri..."
KAMU SEDANG MEMBACA
OUR JISUNG
RandomJisung seorang anak laki laki berusia 11 tahun yang tidak memiliki teman. dia kesulitan berkomunikasi, takdir mempertemukan jisung dengan Mark, Renjun, Jeno, Haechan, Jaemin, dan Chenle yang usianya 2 tahun lebih tua dari nya, para Hyung mengajari n...
