Jisung seorang anak laki laki berusia 11 tahun yang tidak memiliki teman. dia kesulitan berkomunikasi, takdir mempertemukan jisung dengan Mark, Renjun, Jeno, Haechan, Jaemin, dan Chenle yang usianya 2 tahun lebih tua dari nya, para Hyung mengajari n...
Rekomendasi lagu dari author: -Denting (Melly goeslaw cover) -Hijrah cinta (Rossa) -once again (madclown & kim na young) - Sad (Sonnet Son) -kehilanganmu (Shanna Shannon) -pesan terakhir (Lyodra) -Dawai (Fadhilah Intan) -kembalikan senyumku (Melly) -kamu dan kenangan (Maudy ayunda)
Jangan peduliin liriknya, dengerin aja melody nya😚
Sebenarnya masih ada banyak sih... Cuma recomended ini aja deh😁🤍 Happy reading~ ______
Keesokan harinya. Cuaca begitu mendung. Awan gelap itu seakan-akan membuktikan bahwa hari ini... Banyak orang tengah menangisi kepergian sosok lelaki yang sudah Mati-matian untuk bertahan.
Pemakaman diadakan secara tertutup. Hanya manager, staff, keluarga, dan para member saja yang boleh datang.
Kabar akan itu telah menyebar begitu cepat sejak agensi mengabarkan. Banyak fans maupun non fans datang ke pelataran gedung, yah apalagi kalau bukan agensi mereka? Kebanyakan dari mereka menaruh karangan bunga, dan surat untuk tetap sabar menghadapi hari yang menyedihkan ini. Banyak dari orang-orang penting pun mengucapkan rasa terimakasih, bagaimanapun... Dia lelaki yang debut sejak muda, dia menghadapi rintangan dan bekerja tidak sesuai umur. Sungguh, lelaki berbakat yang sangat dihormati.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
박 지성 Park Jisung
Di pemakamannya. Haechan dan Renjun tak ada hentinya menangis. Ia terus memeluk batu nisan yang dipenuhi oleh bunga. Wajah mereka begitu memilukan, mengingat bagaimana mereka berjuang mati-matian...
"Kamu serius ninggalin kami, Jie? Kamu serius nggak mau denger ceramah Hyung lagi?" Bahkan, Renjun pun kini sangat sulit mengatakan itu, suaranya nyaris hilang akibat menangisi lelaki itu sepanjang hari.
Chenle tidak datang. Ia tidak ikut ke pemakaman. Karena apa? Yah, karena dia tidak tega. Walaupun terlihat tidak peduli, Chenle itu selalu memperhatikan. Bahkan pada detail-detail kecil.
Ngomong-ngomong soal Jaemin, sungguh! Dia tak meneteskan air mata sedikitpun sejak tadi malam. Sama sekali tak ada butiran kristal di matanya. Hanya saja, bibirnya pucat, matanya terlihat berat. Itu saja, yah... Semua orang pasti tahu seberapa sakit hatinya.
Sementara itu. Chenle kini berada di asrama. Ia terus melamun, menatap kota lewat balkon kamarnya.
Jisungie... Kamu masih di sini, kan?
Sampai sekarang, aku masih ngerasain keberadaan kamu loh...
Kamu nggak pergi, kan?
Jie... Kalau mau pamit, kenapa nggak sekalian bawa aku aja? Aku bakal ikut kok. Tapi, kamu malah ninggalin aku kek gini.