Chapter 36 : A Tiffany Ring

1.7K 197 115
                                        

Yoko Pov

Sudah hampir satu setengah tahun berlalu dari kejadian itu, Faye benar-benar hilang ditelan bumi. Tidak ada kata maaf ataupun penjelasan sama sekali yang keluar dari mulutnya.

Jangankan menanyakan kabar, tanda-tanda kehidupan nya pun tidak terlihat, hilang begitu saja seperti diculik wewe gombel.

Unsur hewaninya sangat kuat, tak punya akal dan perasaan. Jahat, biadab, setan pun sepertinya tunduk dengan kelakuannya.

Hari-hari penuh air mata itu telah berlalu. Aku tidak akan pernah lupa bagaimana Faye menyakitiku hingga aku hampir memilih mati dari pada menanggung rasa sakit karena patah hati.

Aku bersumpah setiap air mataku yang jatuh kebumi adalah dosa yang harus Faye tebus suatu hari nanti.

Menjalani hari-hari penuh depresi, mencari celah antara hidup atau berhenti. Berenang di kolam air mata, membayangkan orang yang benar-benar aku cintai menikah dan berbahagia dengan orang lain.

Perasaanku di hina kan, di buang, di hancurkan, aku berdarah-darah sendirian sementara dia sibuk merawat wanita lain dengan cinta.

Lantas apa?

Menikah itu suatu hal sakral yang hanya dilakukan oleh dua yang saling sepakat untuk mencintai. Faye akan menikahi Charlotte, membayangkan kembali betapa menggelegarnya suara Faye di kamar itu saat mempertahankan Charlotte dan mati-matian meminta Charlotte untuk tetap menikah dengannya.

Secinta itu kah?

Terus selama ini aku apa?

Topping di hubungan mereka?

Selingkuhan?

Gundik?

Berani-beraninya Princess di perlakukan seperti ini.

Sial, aku tidak pernah membayangkan bahwa poisisiku di hidup Faye sehina itu. Aku merasa tolol sampai ketulang karena mencintai dia dengan seluruhnya. Tapi nyatanya... Aku, tak lebih dari bunga liar di halaman rumah orang.

Menyedihkan.

Kami masih berada di satu kota, tapi tidak ada kebetulan manapun yang mempertemukan kami berdua.

Tandanya apa?

Iya, tandanya dia memang bedebah.

Sependek pemikiran ku, aku belum berpindah rumah sama sekali, dan belum juga lulus kuliah. Jika memang Faye punya akal, dia pasti tahu kemana harus mencari ku untuk sekedar minta maaf atau basa-basi memberi penjelasan.

Tidak ada yang bisa diharapkan dari manusia itu, ralat. Setan itu.

Aku hanya berharap dia mati, dan kekal di neraka bersama abu lahab dan kawan-kawanya, bertemu dengan Fir'aun dan berkumpul dengan manusia-manusia jahat lainnya.

"Yo?"

"Hadir"

"kenapa diem aja?"

"lagi mikirin rencana jahat buat Faye"

"aduh, aku mual denger nama itu pengen muntah darah rasanya" Marissa menyauti dari balik kemudi.

Kena teluh kah? Sampai muntah darah? Ang ang ang

"-biarin aja, orang kayak gitu nanti juga dapat Korma" sambung Marissa lagi.

"sejak kapan Faye umroh?"

"You know, is a word meaning the result of a person's actions as well as the actions themselves" Jawabnya dengan penuh percaya diri.

"It's Karma bitch" aku mengoreksi.

DIE WITH SMILE  [FAYEYOKO]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang