Yoko Pov
Aku masih terduduk lesu, dengan berkali-kali menarik nafas berat memikirkan apakah keputusan ku selama ini untuk benar-benar menjauh dan menghindar dari Faye sudah benar?
Move on dari perasaan ku terhadap Faye adalah suatu kemustahilan. Aku masih merawat perasaan ini baik-baik didalam hati ku.
Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku berhenti mencintainya, bahkan jika kenyataan terburuknya adalah Faye tetap menikah dengan Charlotte sekalipun, aku masih mencintainya.
I'm always gonna have a soft spot for her, no matter how moved on I maybe.
My biggest lie is when I said I don't love her anymore, but I still do with all my conscience.
And I know, she's my deepest scar's in my life, she's destroyed me and ruined anything.
Leaves me in sorrow, drowning, and I swim in my tears with no help.
I'm so patethic.
Baru saja aku siuman dari rasa sakit, hidupku kembali di guncang dengan kedatangan Faye dan semua masa lalu kami yang belum selesai.
Aku masih membencinya, aku masih tidak terima dengan semua yang Faye lakukan. Semua penjelasannya malam itu tentang pernikahan konyolnya dengan Charlotte tidak semudah itu membuatku berubah pikiran.
Mau di bilang menikahi Charlotte karena terpaksa atau karen di grebek warga sekalipun aku tidak peduli.
Judulnya dia tetap membohongi ku!
Iya aku tahu, sejak awal Faye memang brengsek bahkan sejak aku pertama kali mengenalnya. Dan dengan sombongnya aku bilang aku akan menerima apapun konsekuensinya meskipun aku tahu Faye mungkin tidak akan pernah bisa di taklukan.
Tapi aku tidak pernah menyangka bahwa aku ternyata sangat hancur begitu di hadapkan pada kebrengsekan Faye yang sesungguhnya.
Aku mungkin terlalu percaya diri, dan tidak menyadari bahwa perasaanku begitu sangat dalam dan ini menjadi bencana untuk ku.
Sehancur itu aku, sampai berpikir untuk bunuh diri di depan gedung pemerintah hanya karena tidak bisa menerima kenyataan bahwa orang yang ku cintai membohongi ku dan malah akan menikah dengan orang lain.
Kit ati lah babi.
Kalau saja waktu bisa di ulang kembali, pada hari itu saat mendengar obrolan Faye dan Charlotte seharusnya aku tidak buru-buru pergi. Kalau bisa aku menyempatkan waktu untuk menyiram mereka berdua dengan dua botol pertamax dan membakarnya hidup-hidup.
Kalaupun aku masuk penjara setidaknya aku jadi napi paling cantik dan tersenyum puas di persidangan karena telah membinasakan dua mahluk terlaknat itu dari muka bumi.
Misalkan...
"Mana the older women yang kamu anggap hak milik itu? Kok gak pernah keliatan?" Suara Ryujin langsung menarik ku kembali kedunia nyata.
Dia datang tanpa kusadari dan sudah duduk di depan ku, kamu janjian di salah satu Restoran dalam rangka Silaturahmi karena aku dan Ryujin sudah lama tidak bertemu.
"udah gak ada, udah di tarik sama negara" jawab ku datar.
"owh putus kalian? bagus dong.. Apa aku bilang, dia emang berengsek" jawab Ryujin lagi.
"berisik Ryu! Kamu jangan nambah-nambah beban pikiran aku deh"
"-lagian aku sama dia gak pernah pacaran, kita cuma bercinta" balasku
Ryujin langsung memasang wajah ilfil mengerutkan dahinya.
Hubunganku dan Ryujin masih baik, dengan semua drama kami di masa lalu kini Ryujin sudah bisa mengontrol perasaanya dan memilih menyerah untuk mengejarku.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIE WITH SMILE [FAYEYOKO]
FanfictionJatuh cinta pada Lansia tengil ternyata semenyenangkan itu ya. Faye Raya Melati, you're dead of me! Our age difference it doesn't matter babe, Aku akan mencintaimu secara terang-terangan, dan ugal-ugalan, kamu harus tau bagaimana rasanya di cintai...
![DIE WITH SMILE [FAYEYOKO]](https://img.wattpad.com/cover/378906307-64-k246998.jpg)