Faye Pov
Sekitar jam 10 malam aku baru sampai dirumah Yoko. Aku sudah memberitahu Tante Lert sebelumnya bahwa aku mungkin akan sedikit larut mengantarkan Yoko kembali kerumah, karena harus terlebih dulu menghadapi drama ngambeknya di Hutan Kota tadi sore.
Sifat Yoko masih tidak berubah.
Gampang tantrum, curigaan, dan posesif.
Tapi aku sangat mensyukuri semua itu. Tanda jelas di depan mata, dan lampu hijau menyala terang bahwa perasaan Yoko kepada ku masih sama.
Kini otak ku tengah berpikir keras bagaimana caranya agar aku cepat-cepat menyelesaikan urusan ku di Amerika, dan kembali kesini untuk melamar Yoko.
Aku ingin segera menikahinya. Tidak masalah walaupun Yoko sedang kuliah, kan nikahnya bisa hari minggu.
Iya kan ?
Setelah motorku sampai tepat di depan rumah. Tanganku bergerak membantu melepaskan helmmya karena kedua tangan Yoko sibuk memegang bunga dan dua kotak dessert box yang tadi kami beli sebelum pulang.
"kamu gak mau mampir?"
"ya mau lah" jawabku
"eh, tapi jangan deh udah malem. Nanti kamu nginep lagi" Yoko cepat-cepat meralat penawarannya.
Gampang banget berubah kayak molekul air, untung sayang.
"yaudah kalo nggak boleh" Aku menjawab datar dengan sedikit kecewa.
Tidak berapa lama security rumah Yoko yang biasa menyapaku datang menghampiri kami dengan senyum sumringah di wajahnya.
"bos, sehat?" Sapanya kepada ku, lalu matanya langsung tertuju kepada Motor yang aku bawa.
"-kemana aja jarang keliatan, motor nya boleh juga nih?" katanya lagi.
Yoko yang melihat ku berinteraksi santai dengan Securitynya hanya diam memperhatikan kami.
"biasa, sibuk ngurus peternakan" jawabku santai.
"-mau nyobain?" aku menyodorkan kunci motor kearahnya dan Security yang biasa ku panggil Pak Wan atau Pak Wawan ini langsung menyambutnya dengan mata berbinar.
"boleh?" Pak wan bertanya hampir tidak percaya dengan apa yang kukatakan barusan.
Jelas boleh, bagus malah. Jadi aku ada alasan untuk lebih berlama-lama dirumah Yoko hehe.
Smooth like butter~
"boleh pak, bawa muter-muter aja sana. Kalau bisa sampe ke eropa" kataku. Dan Yoko langsung melotot kearahku.
Yes princess. I do it for a purpose , don't glare at me like that.
"waduh, sip kalau gitu" Pak Wan langsung mengambil kunci motor yang ku sodorkan kearahnya.
"Pak, jangan lama-lama dia mau pulang" Yoko menyela.
"nggak ci, paling cuma muter-muter sekitar sini aja"
"santai aja pak, bensinnya Full kok. Gak apa-apa santai" jawabku lagi
Aku tersenyum kearah Yoko, dan hampir lupa kalau semua pegawai dirumah ini mengambilnya Cici. Karena mereka menganggap Yoko dan keluarganya adalah Chindo.
"nggak apa-apa kan Ci?" aku bertanya pada Yoko, dan respon nya hanya mendengus kearah ku.
"oke katanya pak, sono bawa gih yang jauh" aku beralih menengok kearah Pak Wan yang kini sudah duduk gagah diatas motor dengan mesin yang sudah menyala.
Setelah meminta izin. Pak wan kemudian berlalu dan kini tinggal aku dan Yoko berdua berdiri di depan rumah.
"yaudah masuk, sekalian ketemu sama mama sana" Yoko kemudian berjalan mendahului ku dan aku ikut mengekor dibelakangnya dengan perasaan riang gembira.
KAMU SEDANG MEMBACA
DIE WITH SMILE [FAYEYOKO]
FanfictionJatuh cinta pada Lansia tengil ternyata semenyenangkan itu ya. Faye Raya Melati, you're dead of me! Our age difference it doesn't matter babe, Aku akan mencintaimu secara terang-terangan, dan ugal-ugalan, kamu harus tau bagaimana rasanya di cintai...
![DIE WITH SMILE [FAYEYOKO]](https://img.wattpad.com/cover/378906307-64-k246998.jpg)