Pantalone - Aphrodisiac

13.5K 308 218
                                        

Manik berwarna [E/C] yang seiras dengan warna mata bayinya itu bergetar penuh takut dan kekecewaan, ia menatap Pantalone yang menggendong lembut bayinya yang baru saja lahir.

Ujung pistol bersentuhan dengan dahinya, tatapan Pantalone begitu membisu—seolah tak ada cinta yang ia kira Pantalone berikan padanya sebelum ini—tatapan itu berbeda.

Tubuh wanita muda itu gemetar, bibirnya tak bisa membuka dengan baik karena tekanan antara ketakutan dan kesedihan menyatu.

Ia masih lemas. Ia baru saja melahirkan, ia bahkan belum memeluk bayi perempuannya. Rasanya sakit kala ia melihat secara langsung bagaimana Pantalone membunuh bidan dan pelayan yang membantunya melahirkan kemudian mengambil secara paksa bayinya yang cantik itu.

"Pantalone... apa yang kau lakukan..?" Lirihnya gemetar. Manik berwarna biru tua milik Pantalone masih menatap lurus manik [E/C] milik Emilia.

Suara ceklekan dari pistol terdengar, bersamaan dengan jari jemarinya yang siap menekan pelatuk.

"Aku hanya memanfaatkan mu untuk melahirkan seorang anak perempuan yang mengalirkan darahku." Ucap Pantalone yang berhasil membuat Emilia meneteskan air matanya.

"Tidak.. tolong.. izinkan aku memeluk putri kecilku sekali saja. Untuk terakhir kalinya!" Lirih Emilia, air matanya terus jatuh, lengannya meraih Pantalone dengan lemah. Tubuhnya bergeser dari kasur, berusaha meraih bayi kecilnya yang tidur dengan nyaman di pelukan Ayahnya.

"Tidurlah."

BANG!!

Suara peluru yang keluar dari pistol milik Pantalone memenuhi ruangan, kemudian membuat keheningan yang mencekam. Bau darah begitu amis kala tubuh Emilia yang sudah tak bernyawa mengeluarkan seluruh darahnya yang tersisa dihadapannya.

Pantalone mengernyit, ia kemudian berbalik, menggeser mayat bidan dan pelayan yang berada di lantai dengan kakinya. Suara sepatunya menghentak memenuhi ruangan tiap langkah yang ja ambil, maniknya melirik kearah bayi yang berada di pelukannya.

Senyum tipis ia angkat kala ia menatap wajah bayi yang baru saja lahir itu tengah tidur lelap, tidak menyadari bahwa ibunya telah mati ditangan ayahnya sendiri.

"Lucunya, bayiku, putriku. I'll burn this fucking world for you if you want to." Ujar Pantalone lembut, jarinya yang tadinya memegang pistol beralih mengelus pipi tembam milik bayi perempuannya.

Lelaki yang masuk dalam anggota Fatui harbinger itu berjalan santai sembari berdengung dengan bayinya menjauhi rumah yang sudah siap dibakar oleh anak buahnya.

-

18 tahun berlalu, bayi mungil yang semula begitu kecil dan lucu di pelukannya itu telah berubah menjadi seorang gadis yang bersiap dalam fase wanita, kedewasaan, yang dimana ia sendiri bahkan tak siap, tak sanggup menghadapinya.

Ia memberi nama gadisnya itu, [Name]. Ia menyembunyikan seluruh masa gelapnya, pekerjaannya, dan.. kebenaran dari ibunya.

Untungnya, [Name] bukanlah anak yang keras kepala. Ia hanya mengangguk apabila ia katakan tidak, dan Pantalone sangat menyukai sifat dari anak gadisnya itu.

Suara hentakan kaki—yang terdengar jelas itu berlari—memenuhi koridor menuju kantor utamanya. Kemudian, pintu kantornya dibuka, menampilkan gadis dengan manik berwarna [E/C] yang tersenyum sumringah. Hari ini hari ulang tahunnya.

"Ayah! Ayah! aku udah 18! aku dikasih hadiah apa?" Tanyanya dengan senyum lebar. Pantalone yang duduk di kursi kantornya—tengah memeriksa dokumen keuangan Fatui—hanya bisa tersenyum dengan perilaku anaknya itu.

"Mau apa?" Tanya Pantalone lembut, [Name] dengan segera masuk kedalam ruangan, duduk di kursi tamu di ruang kantornya.

"Apa ya? nanti deh! aku mau main jalan sama temen boleh gak?" Tanya [Name], kali ini air wajah Pantalone berubah jadi cemberut. Ia posesif kalau soal gadisnya.

✎: ̗̀➛ᵍᵉⁿˢʰᶦⁿ ᶦᵐᵖᵃᶜᵗ&ʰᵒⁿᵏᵃᶦ ˢᵗᵃʳ ʳᵃᶦˡ ; ᴼⁿᵉˢʰᵒᵗ!ⁿˢᶠʷ ˣ ʳᵉᵃᵈᵉʳTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang