Luocha - Sin

6.7K 265 35
                                        

Suara derit kayu terdengar pada apartemen berukuran 6 × 10 meter—yang berasal dari hentakan kaki—milik lelaki jangkung dengan tinggi badan 180 cm itu memenuhi hening apartemen yang dibagi itu.

Surai rambutnya yang berwarna pirang panjang itu bergerak lembut tiap ia melangkah. Sampai ia berhenti di depan pintu dengan hiasan pinky dan gantungan penanda ruangan.

Ia diam sejenak, tangan kirinya memegang buku catatan bersampul warna pink—ia berniat mengembalikan buku catatan milik teman satu apartemennya yang ia pinjam lusa lalu—ia tak ingin berlama-lama.

Tangannya bergerak pelan, buku-buku jarinya mengetuk pintu kamar yang nampak sunyi itu. Satu ketukan, dua ketukan, hingga tiga ketukan, tak ada respons.

Khawatir, pria yang biasa dipanggil Luocha itu membuka pintu kamar yang rupanya tak dikunci. Namun, saat masuk—pemandangan mengejutkan menyambutnya—gadis yang meminjaminya buku catatan itu tengah membuka kedua pahanya lebar-lebar, menampilkan kelamin basah perempuan yang bertepatan pada pintu masuk.

Hening—tak ada suara, canggung. Luocha membatu, gadis bernama [Name] itu membeku. Keduanya merenggang malu.

"K-ketuk dulu!! keluar!" Pekik [Name] menghancurkan suasana canggung dan malu itu sembari melemparkan bantal yang berada disebelah tubuhnya yang sudah setengah telanjang.

Luocha segera keluar, menutup pintu kamar gadis itu rapat-rapat dengan wajah memerah seperti tomat. Ia bingung, masih berusaha merespons apa yang terjadi, seolah ini masih mimpi.

Ia masih ingat jelas bentuk, dan betapa basahnya vagina milik gadis itu. Semakin ia ingat, semakin libidonya bertambah. Ia segera meletakkan buku catatan gadis itu pada sisi pintu, kemudian berlari ke kamarnya.

-

Manik berwarna kuning kehijauan itu menatap gadis bersurai [H/C] dalam, tiap gerakan, tiap hentian, tiap pembicaraan, selalu ia perhatikan, membuat sang perasa merinding geli.

Gadis dengan nama panggilan [Name] itu menoleh, kemudian menghampiri lelaki bersurai pirang itu. Langkah kakinya kuat dan berat, seperti marah campur kesal.

"Bisa berhenti menatapku seperti itu? lupakan saja masalah lampau itu, anggap saja tak terjadi apa apa." Ucap [Name] tegas, gerak tubuhnya pun memperlihatkan jelas ia tak main-main. Itu sebuah peringatan.

Luocha menoleh kearah lain, rona merah melebar sampai telinganya. "Y-ya, akan ku usahakan.." Lirihnya kecil, ia sedikit tersenyum—malu—

Sebal, [Name] membalikkan badannya dengan helaan nafas berat, tanda ia marah. Ia segera berjalan cepat setelahnya, meninggalkan Luocha tanpa menoleh kebelakang.

Roknya bersorak sorai kasar, mengikuti jalannya yang berat dan penuh hentakan, persis melampiaskan kekesalannya itu.

"Lucu." Gumam Luocha, maniknya bergulir ke paha gadis itu, kemudian teringat lagi dengan insiden malam itu.

Ah, celananya sempit.

-

[Name] Mabuk. Mabuk berat. Seharusnya ia tak minum sebanyak itu hanya karena dipergoki lelaki pirang itu, menyebalkan.

Kepalanya terasa berat, perutnya terasa mual, tenggorokannya terasa kering dan sakit, lidahnya pun mati rasa. Ini semua salah Luocha!

Kakinya terhuyung-huyung melangkah kedepan, tubuhnya terombang-ambing berusaha mempertahankan posisi, kepalanya terasa sedang berlayar, mencari kesegaran, matanya berat.

"Pusing.." Gumamnya, ia bersandar pada sisi dinding yang dingin, tak peduli lagi dengan sekitar, kepalanya sudah cukup berat.

Tenggorokannya geli, kemudian, hiccup, ia cegukan.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 26, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

✎: ̗̀➛ᵍᵉⁿˢʰᶦⁿ ᶦᵐᵖᵃᶜᵗ&ʰᵒⁿᵏᵃᶦ ˢᵗᵃʳ ʳᵃᶦˡ ; ᴼⁿᵉˢʰᵒᵗ!ⁿˢᶠʷ ˣ ʳᵉᵃᵈᵉʳTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang