Aku memeluk diriku dengan erat, berusaha menyalurkan kekuatan bahwa semua akan baik-baik saja padahal nyatanya tidak. Sedikitpun tidak.
Punggung ku remuk, menopang beban yang tak mampu ku tanggung.
Kakiku patah, berlari tanpa pernah tau kapan sampai di ujung.
Tanganku terluka parah, memeluk duri tanpa pelindung.
Manusia lain mana mungkin benar-benar rela, ku pinjam pundaknya untuk berbagi beban. Mustahil.
Semua hanya omong kosong yang akan selalu diomong-omongkan, sambil menyayat satu-satunya hati yang tersisa utuh.
Kadang aku jadi tak mengenali diriku sendiri, linglung, tergopoh-gopoh ke sana ke mari mancari arti dari waktu yang habis.
Lebih dari dua ribu hari, aku masih tak tau makna diriku.
Hantaman keras yang mengancurkan seluruhku, termasuk juga perasaan yang memang sudah retak, kini jadi luluh lantak.
Aku memutuskan untuk menutup rasa ini dengan papan, menimbunnya dengan tanah, memberinya nisan bergelar KITA.
Akan ku tabur bunga, sisa-sisa kisah yang tidak lagi wangi.
Mari berhenti untuk saling terbebani.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cerita Takdir
SpiritualKarna seseorang yang datang dan pergi dalam hidup bukan lah sekedar kebetulan. semua permainan takdir. maka nikmati dan belajar lah bersama nya.
