21 Jam🕘

47 31 3
                                        

SELAMAT MEMBACA

-
-
-

Seorang perempuan berada di dalam ruangan dengan pencahayaan minim, tatapannya tajam, ia menatap sebuah kalung dengan belati kecil yang menjadi mainannya. Tanpa berlama-lama, perempuan itu memakai kalung di lehernya. Belati kecil yang mengkilat itu sungguh indah menempel di leher jenjangnya.

Walau hanya sebuah belati kecil yang menjadi mainan kalung, namun sudah banyak korban akibat belati tersebut. Sedikit gila memang, bagaimana bisa ia memakai kalung yang mainannya sebuah belati, bagaimana jika belati itu juga ikut melukai lehernya? Persetan dengan hal tersebut, kalung itu adalah barang berharga yang begitu ia jaga. Ia akan pakai kalung itu saat menghadapi musuh. Selain untuk mematahkan nyali musuh ketika melihat belati bertengger di lehernya, juga sebagai alat jika di perlukan.

Drettt.... Dreett....

Fokus perempuan itu teralihkan saat handphonenya berbunyi.

"Bagaimana?"

"................"

"Aku segera datang"

"..............."

Tut.

Setelah mematikan handphone, perempuan itu mengambil masker hitam di saku celananya dan segera menutupi wajah. Mengikat tinggi rambut panjangnya. Dia membuka jaket hitamnya hingga menyisakan kaos hitam yang begitu pas di tubuhnya.

Berjalan dengan angkuh menuju ruang bawah tanah, sesampainya perempuan itu, pintu segera di buka dengan lebar.

"SELAMAT DATANG NAILE!" Ucap semuanya dengan kompak.

Perempuan itu tersenyum di balik maskernya, ia dapat melihat 2 pria paruh baya terikat dengan kuat.

"Halo, bagaimana tempat ini? Apakah anggotaku memperlakukan kalian dengan baik?" Tanya perempuan itu dengan senyum lebar, tapi tentu saja yang ada di sana melihat itu adalah senyum mematikan.

"Lepas! Siapa kau? Aku tidak ada urusan denganmu!" Ucap pria itu.

"Kau ingin menyakiti temanku, bukan? Itu artinya kau mengibarkan bendera perang kepadaku!" Ucapnya dengan santai.

"Siapa temanmu?" Tanya pria satu lagi.

"Kau tidak perlu tau siapa temanku, yang perlu kau tau bahwa kau telah masuk ke kawasanku!" Ucapnya penuh kilatan amarah. Perempuan itu melebarkan telapak tangannya, dengan cepat salah satu pria berpakaian serba hitam itu memberikan sebuah pisau.

"Ah, aku mulai dari mana ya?" Tanyanya menempelkan ujung pisau ke dagunya seolah sedang berpikir untuk membuat keputusan. "Kau!"

Dengan cepat perempuan itu menyayat habis kulit lengan pria yang menjadi mangsanya. Teriakan demi teriakan menghiasi ruangan tersebut, darah bercucuran, gelak tawa dari perempuan itu menggelegar dengan hebatnya.

Selanjutnya ia mengukir beberapa lukisan di wajah pria satu lagi, membuat teriakan kesakitan yang sama sekali tidak dipedulikan. Mata perempuan itu menggelap, perasaan emosinya tercurah semuanya di sini. Ia memotong jari-jari mangsanya hingga berjatuhan ke lantai, semua jari tangan dan kaki habis tak tersisa.

Perasaan gelisah, emosi, dendam, sakit hati, masa lalu yang kelam, bercampur aduk sehingga perempuan tersebut menghabisi mangsanya dengan membabi buta. Darah bercucuran di mana-mana, teriakan mangsa bagaikan alunan musik yang menyenangkan baginya, benar-benar psycopat kejam.

Perempuan itu mengambil pedang, menebas kepala mangsa, mencincang habis tubuh itu, kini tubuh satu pria itu tidak lagi ada bentuknya. Habis tidak tersisa akibat kekejaman perempuan itu. Ia tertawa puas melihat hasil kerjaannya. Lalu tatapannya jatuh kepada pria satu lagi, pria yang shok melihat kondisi temannya, tidak dapat menahan diri lagi, akhirnya pria itu menutup mata tidak sadarkan diri.

REVENGECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang