"Sudah siap?" tanyanya, memandang Zara yang mengenakan gaun sederhana namun elegan. Dalam hatinya ia berdecak kagum. Malam ini Zara tampil sangat cantik. Selalu cantik. Ia tak bisa berkedip melihat keindahan di depan matanya. Aromanya sungguh memabukkan. Konsentrasinya menjadi terpecah.
Zara mengangguk, meraih tasnya. "Jadi, restoran Turki? Harusnya ini lebih baik daripada makan malam dengan pembahasan pajak."
French tertawa kecil, membukakan pintu mobil untuk Zara. "Aku janji, malam ini tanpa pembicaraan pajak. Hanya makanan enak. Mungkin sedikit candaan tentangmu, tentu saja."
Zara mendengus pelan tetapi tidak bisa menyembunyikan senyum kecilnya. Dalam perjalanan ke restoran, mereka berbicara tentang hal-hal ringan film, buku, dan tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi. Zara mulai merasa lebih nyaman, meskipun ia masih mencoba menjaga jarak emosional.
Restoran Turki itu terletak di sudut jalan kecil dengan suasana yang hangat dan pencahayaan temaram. Aroma rempah-rempah memenuhi udara, membuat perut Zara langsung lapar. French memesan beberapa hidangan khas-mezze, kebab, dan baklava untuk pencuci mulut. Sementara menunggu makanan datang, French mencoba membuka topik yang lebih personal.
"Zara, kau pergi ke Turki sebelumnya, kan? Bagaimana rasanya?"
Zara, yang sedang menyesap air putihnya, berhenti sejenak sebelum menjawab. "Ya, beberapa bulan lalu. Aku rindu Mama dan Dada, jadi aku menghabiskan beberapa minggu di Istanbul. Itu...menenangkan. Aku merasa seperti kembali ke rumah."
French menatap Zara dengan penuh perhatian. "Aku bisa melihat itu, Zara. Kau punya cara berbicara tentang Turki yang membuatnya terdengar seperti tempat yang istimewa."
Zara tersenyum kecil. "Itu memang tempat yang istimewa, French. Ada kenangan masa kecil di sana. Meskipun aku lahir di sini, Turki tetap terasa seperti rumah kedua." Ia sangat senang dengan pembahasan mengenai Turki.
French mengangguk lagi, lalu, dengan suara yang lebih pelan, berkata, "Aku selalu penasaran bagaimana rasanya punya tempat untuk disebut 'rumah.' Aku tidak pernah benar-benar merasakannya."
Zara menatapnya dengan bingung. "Maksudmu?"
French tersenyum kecil, tetapi ada kesedihan di baliknya. "Aku yatim piatu, Zara. Orangtuaku meninggal saat aku masih kecil. Aku tumbuh berpindah-pindah dari satu keluarga angkat ke yang lain. Tidak ada satu tempat pun.. yang benar-benar terasa seperti rumah."
Zara tertegun mendengar pengakuan itu. Ia tidak menyangka bahwa pria yang terlihat begitu percaya diri dan terkadang arogan ini memiliki masa lalu yang tidak begitu menyenangkan. "Aku...maaf mendengarnya," katanya pelan.
French menggeleng. "Itu sudah lama sekali. Tapi, aku rasa itu alasan kenapa aku selalu mencari stabilitas. Baik itu dalam pekerjaan, atau..." Ia berhenti sejenak, lalu menatap Zara. "...dalam hubungan."
Zara merasa sedikit canggung dengan arah pembicaraan ini. Namun, ia tidak bisa mengabaikan perasaan simpati yang mulai tumbuh. "Aku tidak tahu harus bilang apa," katanya jujur.
French tersenyum lagi, kali ini lebih lembut. "Kau tidak perlu bilang apa-apa, Zara. Aku hanya ingin kau tahu, aku serius tentang ini. Tentang kita."
Zara menatapnya dengan mata penuh keraguan. "French, kau tahu...aku masih sangat muda. Sedangkan kau pria yang sudah matang. Aku bahkan tidak yakin apa yang aku inginkan dalam hidupku. Bagaimana aku bisa yakin tentang ini?"
French mengangguk pelan, menghargai kejujurannya. "Aku mengerti. Aku tidak meminta jawaban sekarang, Zara. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku akan tetap di sini, apa pun yang terjadi."
Makanan datang tepat saat percakapan itu berakhir, memberikan mereka kesempatan untuk mengalihkan perhatian. Namun, kata-kata French terus terngiang di pikiran Zara sepanjang malam. Ada sesuatu tentang pria ini yang membuatnya merasa tenang sekaligus bingung. Dan untuk pertama kalinya, ia bertanya-tanya apakah mungkin ada ruang untuk pria itu dalam hatinya.
Mungkin ini saatnya ia membuka diri. Pria itu tak seburuk yang ia pikirkan. Malah terlalu baik jika dipikirkan.
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
PLEASE LOVE ME ✓ (COMPLETED)
Historia Corta"Kau pikir aku akan menyerah? No.." French mengepalkan tangannya emosi ketika melihat Zara sedang bersama mantannya. "Gadis kecil.. kau harus bertanggung jawab. Kau sudah membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya." Start : 27 Juni 2022 End : 7 November 2025
