14 days #G7 #7Q
"Capek banget."
Azul Ashengrotto, langsung mengempaskan diri ke sofa panjang di kubik yang ditempati oleh Night Raven College selama beberapa hari ke depan dalam lembaga nomor satu di Twisted Wonderland. Jika boleh memilih, Azul lebih baik berdagang ketimbang melakukan tes lisan, atau fisik seperti saat ini yang baru selesai pukul lima sore dari pukul setengah tujuh pagi.
"Kaucapek, Idia-senpai sudah mau pingsan itu." Riddle menunjuk Idia dengan dagunya, yang sibuk dikipas oleh Kalim saat kesadaran perlahan mulai menguap di pangkuannya. Riddle geleng-geleng kepala menonton Vil menggunakan handuk bersih yang telah ia basahi dalam basin air dingin, lalu mengompresnya ke wajah Idia. Bibir kecil Azul lantas mangap kecil saat menyaksikan pemandangan itu; Malleus, dan Leona yang sama-sama menaruh atensi pada Idia penuh rasa gusar yang tidak mereka tunjukkan. Di sini, kali ini, Vil yang harus memastikan rekan-rekannya sehat—DEMI GREAT SEVEN, INI BARU HARI KETIGA, IDIA! ucapnya yang mengguncang bahu si biru dengan harapan bahwa ada respon baik itu merengek atau mengerang darinya.
"... Vil-san, apa ia baik-baik, saja?"
"Loh, 'kan situ yang punya healing magic!" Vil mendesis. Menantang si pemuda laut untuk menyanggah apa yang kini terjadi.
"Tidak apa-apa, kok. Idia-san, dan aku lebih mudah letih ketimbang kalian. Didiamkan saja, nanti juga bangun."
Leona Kingscholar mengangkat alisnya. "Dari mana datangnya kalimat meyakinkan itu?"
Azul mengendikkan bahu sembari minum air kelapa yang dibawa Kalim sebelumnya. Segarnya rasa manis sepat mengairi tenggorokan yang kering. Begitu ringan, seakan menjadi penawar untuk peluhnya. Tidak perlu es batu, air kelapa itu sudah sejuk sejak dibawa oleh kawannya itu. Sekarang, Azul mengerti mengapa Kalim begitu menyukai air kelapa.
Riddle duduk di lantai berkarpet beludru, kepala merahnya ditahan oleh bantal yang disusun sebelumnya, menghela napas sembari menghirup mentol kristal yang senantiasa ia kantungi. Dari Yinyue, katanya, membantunya untuk tetap tenang. Dalam heningnya, Riddle tetiba terlonjak mengingat apa yang diujar oleh naga Timurnya, dan segera melangkah mendekat ke arah Idia yang kepalanya masih dipangku oleh Kalim, dan dikipas oleh Vil. Si pirang model kelas dunia itu tak bisa menyimpan rasa bingungnya saat si ratu merah berlutut ke arah kepala asrama surai biru yang ternyata kesadarannya benar-benar hirap.
Malleus pun heran, ada apa dengan anak-anak manusia yang lemah ini? Ini baru hari ketiga, sudah ada yang tumbang, sudah pastilah ia akan menceritakan ini pada Lilia saking kelakarnya situasi yang sama sekali tidak pernah Malleus pikirkan bahwa mereka akan terjebak selama beberapa hari di tempat ini, jauh dari Seven Queen yang biasanya merawat keperluan mereka. Sementara Leona sudah mendengkur kecil di karpet, dengan tumpukan bantal-bantal yang ia susun dengan sedemikian rupa. Bohong kalau Malleus tidak ingin menghantam Leona sebab kurangnya empati.
"Nanti juga sadar, ya, kadal. Jangan kauberpikir begitu."
"Oh?" Malleus memberi seringai tajam. "Sempat kukira dirimu memang tidak memiliki hati nurani."
"JANGAN MULAI, DEH." Suara Vil kembali membuat semuanya bergeming. Sosoknya memang diperlukan untuk saat ini, apalagi, Crowley, secara langsung menitipkan keenam yang lain padanya. Karena Vil merupakan satu-satunya Great Seven yang leadershipnya paling cakap, dan tidak mencari keuntungan apa pun saat membantu. Tidak perhitungan, dan tidak terlalu mudah untuk terpancing emosi. Kecerdasan emosinalnya sangat baik, tidak juga pasif, sehingga staf Night Raven College, dan pihak Departemen Sihir menunjuknya sebagai perwakilan dari Great Seven nanti untuk Night Raven College.
YOU ARE READING
Nesta
FanfictionNesta; pure. a Twisted Wonderland antology. credit: Disney-Twisted Wonderland, Aniplex, and our dear Yana Toboso-sensei. Aku mah minjem karakternya aja dari kemaren-kemaren.😂😂 Enjoy, Kantokusei-san. Welcome!! first published: August 15, 2022. by...
