14 days #G7 #7Q
Si hawa tengah duduk di permukaan meja, dan adam menemukan dirinya berdiri di antara kakinya. Pergelangan lengan menemukan jalan ke pinggang ramping, seakan telah terbiasa dengan lingkar bagian tubuh tengahnya. Kepalanya melandai di dada, mendengar degup jantung yang membuat sanubari tenteram meski slogannya adalah hidup segan mati tak mau. Tipikal Idia, ia mendusal di sana dalam waktu yang lama, menghidu dalam-dalam ambu gadisnya yang harum mewangi bunga-bunga segar. Sementara dewinya tengah memegang tablet sembari main 2045, dan menunggu balasan dari Rook Hunt. Katanya, jika mau jenguk Vil, ke dia saja dulu. Karena Dilara dengan Vil juga kurang tidur. Idia bilang itu tidak masalah saat Russet bertanya tanggapannya.
Lagipula, pasti mengunjungi orang sakit juga tidak akan lama, karena Idia agak takut melihat orang yang sakit. Dan Russet selalu kurang nyaman menyaksikannya. Ada sesuatu dalam dadanya yang bergejolak saat melihat orang yang kurang sehat. Hawanya berbeda. Masalahnya, Idia, dan Russet terkadang bisa melihat masa berakhirnya hidup mereka apa bila terlalu lama menjenguk, sebab itu keduanya selalu terlihat buru-buru untuk pulang apabila mengunjungi orang sakit. Karena pengalaman. Itu juga Idia yang bilang duluan ke Russet-gadis itu tidak berani bicara hal-hal demikian di hadapan Idia.
"Mau ke pelabuhan habis ini..." Idia menggumam di balik ceruk lehernya yang bening. "Mau ke pelabuhan..."
"Ih, kamu, mah, gigit!" Russet menarik surai biru Idia sampai bola mata ambernya bisa memandang lelangit kamar. Namun, yang ditarik rambutnya malah tertawa kecil. Ada beberapa alasan Idia menggigitnya, dia menggigit tepat di sirkuit sihir. Idia tahu bahwa sirkuit sihir Russet tengah tidak stabil karena dua minggu berturut-turut hanya berada di lingkungan Night Raven College atau Ignihyde. Tidak pernah benar-benar keluar. Keterikatannya dengan alam membuat Russet minimal satu minggu sekali harus mengunjungi hutan, atau tempat terbuka. Dan Idia menggigitnya untuk menekan balik sihir gelap yang mulai merayap di dalamnya. Hanya Idia yang mampu mengendalikan dualitas dewinya.
"Tumben mau ke pelabuhan?" Russet melepaskan rambutnya. Idia cengengesan saat menjawab, "Ada buku yang sudah kupesan sejak aku dalam sertifikasi itu... Mau aku ambil."
Idia tidak repot-repot menyembunyikan maksudnya untuk merengek ke pelabuhan. Selain spot favoritnya bisa memandang jauh ke laut lepas yang mengkilap, di sana akan ada banyak kedai yang menjual jajanan manis. Idia menyukai jajanan manis, meski terkadang, jadi tidak berasa karena dewinya memberikan dia sakit gula dadakan.
"Kenapa kamu gak bilang saja kemarin? Aku bisa mengambilkannya untukmu."
"Aku mau sama kamu."
"Kamu hopeless tanpaku, ya?"
"Iya lagi."
"Kok, ngaku, sih?"
Idia meremat pahanya sebagai balasan jengkel. Ia memandangi Russet sekali lagi, yang masih pakai dress begitu pendek, yang menunjukkan sebagian besar lekuk tubuh—meski terkadang, Russet biasa mengenakan onesie karena kamar Idia sangat dingin. Idia selalu mengunci pintunya, tentu. Tiada yang akan mengganggunya juga apabila ia ingin melakukan sesuatu dengan Russet. Tapi, tidak. Ia harus menahannya untuk sekarang, dan butuh usaha besar untuk Idia agar tidak membaringkan Russet ke mejanya.
"Nih, sudah dibalas. Lepaskan lenganmu. Aku pakai seragam Ignihyde dulu." Namun, Idia makin melekatkan tubuhnya pada Russet, tiada jarak yang tercipta. Si hawa bahkan bisa merasakan degup jantung sang adam. Ia menciumi kepala Idia, membujuknya agar melepaskan dekapannya sesaat. Idia tentu merengek sebelum melepaskan lengannya. Bola mata emasnya mengikuti setiap pergerakan Russet. Dari mulai mengenakan celana hitamnya, hingga mengganti dress itu dengan turtleneck, dan dilapisi lagi dengan jaket biru hitam Ignihyde, serta ankle boots putihnya yang feminin itu. Idia yang pakaikan sepatunya.
YOU ARE READING
Nesta
FanfictionNesta; pure. a Twisted Wonderland antology. credit: Disney-Twisted Wonderland, Aniplex, and our dear Yana Toboso-sensei. Aku mah minjem karakternya aja dari kemaren-kemaren.😂😂 Enjoy, Kantokusei-san. Welcome!! first published: August 15, 2022. by...
