Twenty Four. (VIII)

19 4 0
                                        


14 Days #G7 #7Q

Tiada yang membuat Idia lebih gugup; ketibang melihat ayah Russet di mimbar sana sebagai Kepala Kementrian Sihir yang sedang memberi ucapan terima kasih, dan penghargaan pada masing-masing institut sihir yang memenuhi undangannya. Di sisi pria itu, ada pria lain yang sedikit lebih muda, dari Divisi Pendidikan, sang Jenderal Pendidikan itu sendiri, abang pertama Russet; Adam Hellebore yang kini memasang senyum khasnya yang subtil itu. Ya, Russet memiliki empat orang kakak laki-laki, dan keempatnya adalah kepala masing-masing Divisi dalam Kementerian Sihir. Kepala Idia terasa berat, apa pun yang dilontarkan oleh ayah mertua, dan iparnya langsung menguap dalam benak. Di sisi kiri, Vil meminjam bahunya untuk bersandar karena demamnya benar jadi. Di sisi kanan, Malleus dengan khidmat menyimak apa yang dikatakan oleh petinggi-petinggi Kementerian, dan Jenderal Pendidikan.

"Sakitkah kawanmu, Idia?"

Ini telepati dari Adam, membuat Idia terkesiap.

"Y-ya, mungkin? Ma-maksudku, ya, sakit."

"... Kelelahan, ya?"

Idia menundukkan pandangan, nyaris mengalihkannya bahkan. Enggan menjawab karena ia anggap ini sebagai aib Vil yang tengah terlelap kecil di bahunya. Adam mengulum senyum tipis sebelum melanjutkan dengan arif.

"Sudah diobati, belum?"

"Sudah, kok. Hanya saja, demamnya memang baru jadi siang tadi."

Terlihat, Adam di mimbar mengangguk.

"Kamu sehat? Teman-temanmu sehat juga, 'kan?"

"Aku sudah sehat. Teman-teman juga baik-baik saja."

"Capek, yah?"

Idia hanya tertawa renyah saat menjawab.

"Nanti, bagian Night Raven College, biar aku saja yang antar pulang."

"Mohon bantuannya, kak."

Iya, Idia memanggil keempat kakak Russet dengan prefiks. Disuruh Ibunya. Russet langsung terbahak saat Idia mengadukan hal ini padanya. Padahal, kakak Russet semuanya tergolong easy going. Kecuali Yohannan Hellebore, si Kepala Divisi Pertahanan dengan pangkat Letnan Kolonel di Pangkalan Militer. Seorang petarung tangguh yang sering terjun ke lapangan untuk menuntaskan urusan negara apabila dengan sedikit cara tegas diperlukan. Akan tetapi, saat Idia bermalam di kastil mereka—ya, keluarga Hellebore masih menempati sebuah kastil turun temurun—dan, itu sering, Yohannan yang senantiasa bertanya pertama pada Russet apakah ia sudah merawat Idia atau belum.

Sambutan itu berakhir sebelum Idia menyadarinya. Namun, semuanya dikembalikan lebih dulu di quarter masing-masing untuk mengemas, sembari menunggu giliran untuk dipulangkan. Dalam hening, Idia tidak duduk jauh dari Vil yang berbaring di couch. Yang lain hanya membisu, tidak ada yang bercakap sebab daging tak bertulang kini terlalu kaku untuk digerakan. Leona ikut duduk di sisi Idia, sesekali menempelkan tangannya ke pipi Vil sebelum menariknya.

"Panas banget lagi..."

"Nanti kuat jalan tidak, ya..." Idia berkomentar sembari menyapukan handuk kecil di kening, dan lekuk leher Vil yang berpeluh dingin. Ia melakukan panggilan untuk Russet, mengabari keadaan Vil supaya Dilara bisa langsung bertindak nanti saat Vil sudah dikembalikan ke Pomefiore, maksud Idia biar Rook saja yang menunggu di Mirror Chamber.

Malleus bersedekap. Riddle dengan Kalim mengepak barang Vil. Azul bersandar di back frame, tidak mengalihkan pandangan dari Vil barang sedetik pun. Mana tahu ia mau minum atau apa pun itu. Kabar bahwa sakitnya Vil langsung diproses oleh Kepala Kementerian Sihir, ia melakukan tindakan untuk memulangkan ketujuh murid Night Raven College lebih awal. Saat tengah menunggu dalam sunyi, pintu terketuk sebanyak tiga kali sebelum Azul membukanya dengan tanggap untuk menyambut sesiapa yang berkunjung. Azul langsung terkesiap saat melihat dua sosok tinggi besar dengan suit hitam itu menyapa. Azul tahu mereka. Ayah mertua, dan ipar Idia.

NestaWhere stories live. Discover now