14 days. #G7 #7Q
"Kalian saja yang putuskan, katanya. Dikira mudah?"
Idia nyaris menjambak rambutnya sendiri karena jawaban Russet terulang dalam kepala bagaikan kaset galat. Menimbulkan denging yang tak berhenti saat ketujuh dari mereka kini berkumpul kembali untuk membuat keputusan. Begitu nestapa. Yang lain juga sama, hanya Malleus yang pasif, tetapi tak ada yang tahu bagaimana isi kepalanya.
Hujan datang mengguyur Night Raven College, memberikan rasa sejuk bagi masing-masing darah yang mendekati titik didih, meski tak sepenuhnya mengurangi rasa cemas. Jarak di antara mereka begitu terukur memandang kosong persis ke tebing, yang di bawahnya ada lautan. Gelombang kuat disertai angin menggebu di tengah segara, begitu memesona sekaligus mematikan. Seakan, si angkuh Poseidon tengah mengamuk akan suatu hal.
"Masih ada waktu kurang dari 48 jam... sejak saat itu, kita belum menemukan ketetapan sama sekali." Perasaan Riddle menggebu, seakan terbelah dua antara keinginan menambah ilmu serta pengalaman, dan tanggung jawab untuk menjaga Yinyue. "... Milikku adalah sesuatu yang datang dari budaya lain, jika kekeliruan terjadi, pihak mereka akan menganggap ini sebagai genderang perang karena orang mereka dijadikan mainan."
Vil Schoenheit menyandarkan punggung di dinding, melipat tangan di dada dalam gestur kalem. Kepalanya tertunduk dengan kelopak yang menyembunyikan sepasang kristal ametis, tampak menimang-nimang apa yang hendak dikata, tetapi apa daya lidah begitu kelu sehingga ia yang biasanya mengatur jalannya percakapan pun kini merasa tak berdaya.
Azul angkat bicara kemudian, "Apakah kita bisa mempercayai orang dari Kementerian Sihir itu?" Netra yang sama dengan namanya mengamati setiap orang yang lalu lalang di hallway. Mereka keheranan melihat G7 berkumpul di satu tempat dengan jarak yang cukup dekat, tetapi juga tidak terlalu menempel satu sama lain.
"Feeling-ku, kita sama-sama saling percaya." Mereka agak terkesiap dengan suara teduh yang tak asing. Datang dari Malleus Draconia yang kebetulan matanya menangkap presensi Naleera di seberang gedung tanpa gadis itu ketahui. Naleera ditemukan berjalan bersama Sebek, yang entah bagaimana, si manusia setengah peri itu sangat terobsesi dengan keselamatan Naleera. "Memang agak... bagaimana, ya? Sulit. Aku akui ini merupakan hal yang tidak bisa dianggap mudah. Tapi, agaknya, kita memang harus percaya dengan wanita-wanita itu—"
Leona segera menaggapi Malleus. "Karena mereka memberikan kepercayaannya pada kita, benar?"
"Percaya pada Andela sepertinya sulit." Azul tersungging gugup menutupi kekhawatirannya sendiri dengan sempurna, selayaknya sikap defensif. "Seperti apa, ya? Ia masih—terlalu mudah untuk dipengaruhi. Seperti kanvas putih bersih, itulah mengapa aku memakaikannya kalung itu, sebuah aksesori untuk menjaganya. Meski si kembar agak protektif hingga dalam titik yang mengerikan, tetapi aku tidak bisa tenang juga membiarkan mereka mengawasi Andela saja. 14 hari itu waktu yang menyakitkan. Meski bisa selesai dalam sekejap jika kita enjoy untuk melaluinya."
Kalim di sisinya juga melakukan tawa yang sama. "Mungkin akan bijak jika aku menitipkan Nahla pada Jamil." Ia mengeratkan sweater putihnya erat-erat, sebagai bentuk dukungan diri. "... Ada... memang ada waktunya untuk kita mempercayai mereka, meski hanya sesaat."
"Aku percaya pada dewiku sejak lama," butuh usaha besar bagi Idia untuk tidak langsung mengalihkan pembicaraan. Ia memilih mundur, dan duduk di kursi panjang yang sejak awal ditempati oleh Leona, dengan Vil yang berdiri tak jauh dari sisinya. Ia membuka gawai untuk membaca pesan yang datang dari Russet terkait kehadirannya dalam asrama saat gadis itu telah menaruh makanan untuknya di kamar. Idia memutuskan untuk tidak membalas pesan itu. "aku yang tidak percaya pada diriku sendiri."
YOU ARE READING
Nesta
FanficNesta; pure. a Twisted Wonderland antology. credit: Disney-Twisted Wonderland, Aniplex, and our dear Yana Toboso-sensei. Aku mah minjem karakternya aja dari kemaren-kemaren.😂😂 Enjoy, Kantokusei-san. Welcome!! first published: August 15, 2022. by...
