Semua yang terjadi di antara Dejan dan Nindya adalah kesalahan. Bukan kesalahan siapapun, tapi Dejan tetap menyebut penyebab mereka bersama karena suatu kesalahan. Sebab semua yang terjadi bukan atas dasar keinginan bersama.
Kebersamaan mereka tak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Kamu itu pembohong yang handal!"
Saat masuk ke dalam rumah, Nindya langsung murka. Ia sampai tak mempedulikan Bude Yuli yang menyambut membuka pintu rumah dengan senyuman. Nindya terus melangkah dengan Dejan yang mengikutinya dari belakang. Mereka akan meledak sekarang juga, itu pasti karena Nindya benar-benar tidak terima akan fakta yang baru ia ketahui detik ini juga.
"Aku tahu kamu hanya memperalat aku sejak awal, Dejan!"
Bude Yuli agak terkejut dengan bentakan Nindya. Pikirnya ada hal yang tidak baik terjadi sebelum majikannya itu kembali ke rumah. Apalagi kini melihat Nindya berbalik menghadap Dejan dengan ekspresi marah nan tidak terima. Bude Yuli tidak bisa apa-apa disana selain diam-diam undur diri karena tidak mau ikut campur dan terkesan menguping pembicaraan Dejan dan Nindya.
"Memperalat bagaimana?" tanya Dejan geleng-geleng. "Kapan aku memperalat kamu dan untuk apa juga? Pemikiran kamu terlalu kemana-mana hanya karena fakta yang baru kamu tahu dari Eyang itu."
"Kamu ..."
Nindya menjeda ucapannya. Ia sungguh-sungguh ingin marah, tetapi entah kenapa rasa amarahnya kini berbeda, ia lebih kepada kecewa. Nindya telah menaruh hatinya, mempercayakan hidupnya dan menggantungkan seluruh tentang dirinya pada sang suami. Namun ternyata ada rahasia besar yang tidak ia ketahui selama ini.
Dejan memiliki anak dengan kekasih masa lalunya yang mana sampai sekarang masih berkomunikasi dengan baik bahkan sampai selalu dijenguk olehnya.
"Kamu gak bilang kamu memiliki anak dari Irene. Kamu gak pernah bilang alasan sebenarnya kalian berakhir karena apa. Kamu juga bohong padaku tentang kunjunganmu ke Berlin itu," Nindya menatap Dejan dengan sengit.
"Apa yang Eyang bilang itu semuanya benar. Ternyata kamu hanya mempermainkan aku, semua yang kamu lakukan itu hanya kebohongan. Kamu gak pernah menginginkan aku karena yang kamu inginkan hanya Irene, benar? Kamu mana mau tidur dengan wanita selain Irene Irene itu 'kan? Pikiranmu saat itu sedang kacau walau aku sadar sepenuhnya kalau kamu tidak mabuk, tapi Eyang tepat sekali, aku hamil karena kecelakaan saja,"
Nindya tertawa sarkas. "Ingat di malam hari pernikahan kita? Kamu sebegitu tidak menginginkannya aku. Ternyata ...," Nindya mengangguk-angguk. "Ada hati yang kamu jaga. Lalu kenapa kamu tiba-tiba menginginkan anak? Sekarang aku mengerti kenapa. Sebab anak kalian meninggal dan kamu akan mengambil anakku di masa depan nanti, begitu kan?!"
"Jangan bicara macam-macam, Nindya," kata Dejan terdengar tidak suka.
"Kamu bisa lakuin apapun, Mas, hanya dengan uang! Kamu bisa cepat ceraikan aku, kamu bisa ambil hak asuh anak dariku dan kamu akan kembali dengan kekasih lamamu itu dengan sambil mengurus anakku. Kamu pikir aku bodoh sampai gak kepikiran kesana? Tapi, Mas," Jemari telunjuk Nindya teracungkan. "Jangan mimpi bisa ambil anakku sesuka kamu sampai aku mati!" lanjutnya menekan.
"Aku sudah tidak pernah bertemu dengan Irene, Nindya!" Dejan meyakinkan. "Demi Tuhan!"