thirty one

2.8K 339 83
                                        

//

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

//

Bertahun-tahun Irene masih terjebak di masa lalu. Terus terpuruk di balik kamar bak istananya dengan hanya terus memikirkan kenangan buruk yang sempat menyapa hidupnya dan teringat sampai sekarang. Irene tidak tahu akan bagaimana jalan hidupnya karena ia merasa sudah putus asa semenjak dirinya terguncang sebab sang buah hati terlahir dengan tidak selamat. Kalau tidak didampingi oleh keluarga, mungkin Irene sudah memilih untuk menyudahi hidupnya. Betul, nyatanya mentalnya terganggu.

"Ya, Mi?" Irene menoleh ke pintu ketika ketukan berbunyi dan disusul Rina yang melongok ke dalam. "Kenapa?"

"Sayang," panggil Rina melangkah mendekati Irene dan menggenggam kedua tangan sang putri. "Dejan berkunjung. Dia ada dibawah dan ingin bertemu dengan kamu."

Seulas senyum muncul di bibir Irene. Sudah lama pria itu tidak berkunjung, terkadang Irene mengirim pesan pada Dejan walaupun tidak begitu fast respon. Walau tak bisa dipungkiri ada rasa tak terima ketika Dejan berkata jujur telah dijodohkan oleh wanita lain dan bahkan telah melangsungkan pernikahan, namun setidaknya Irene masih memiliki harapan, Dejan masih menunggunya untuk bisa pulih kembali. Dengan berjanji padanya, Dejan hanya akan menjalani pernikahan itu selama satu bulan sebagai syarat permintaan dari orang tuanya saja, selanjutnya pria itu akan tetap memilihnya. Paling tidak membuat perasaan khawatir Irene berubah menjadi tenang.

"Aku sudah menunggunya dari lama," balas Irene dengan raut wajah bahagia. "Papi dimana, Mi?"

Rina tersenyum. "Papi tidak dirumah dan tidak tahu Dejan datang," ujarnya menenangkan. "Mami tahu kamu rindu sama dia. Sebentar, Mami panggilkan Dejan untuk temui kamu, ya?"

Irene mengangguk cepat dan memeluk maminya. "Thank you so much sudah selalu mendukung hubunganku dengannya, tidak seperti Papi yang menentang kami. Aku sayang Mami," katanya.

Rina mengelus kepala anaknya. "Mami tahu apa yang membuat anak Mami bahagia. Kamu hanya butuh Dejan ada di samping kamu, Sayang," ujarnya lagi dengan penuh pengertian.

Sepeninggal Rina yang kembali keluar untuk memanggil Dejan, Irene memilih cepat-cepat mematut dirinya di depan cermin. Penampilannya masih tetap sama. Irene hanya memakai pakaian rumahan, rambutnya digerai dan wajahnya hanya terpoles bedak tipis serta bibirnya yag pucat itu diberi sedikit sentuhan lipgloss. Setidaknya, di depan Dejan ia tidak buruk-buruk sekali.

"Masuk," katanya ketika pintu diketuk.

Dejan berdiri disana. Tubuhnya dibalut coat hitam, di dalamnya memakai kemeja hitam dan bawahan juga celana hitam. Irene tersenyum, setelan hitam memang tidak mengecewakan jika pria itu memakainya.

Rindu yang begitu menggebu membuat Irene berlari ke arah Dejan dan langsung lompat masuk ke dalam pelukannya. Dejan menangkapnya, mendekapnya dan menahan tubuhnya. Irene memejamkan mata ketika menghirup aroma parfume maskulin pria itu lagi setelah sekian lama. Irene juga bisa merasakan suhu dingin dari tubuh Dejan yang entah kenapa membuatnya ingin memeluk dengan erat.

Best MistakeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang