Semua yang terjadi di antara Dejan dan Nindya adalah kesalahan. Bukan kesalahan siapapun, tapi Dejan tetap menyebut penyebab mereka bersama karena suatu kesalahan. Sebab semua yang terjadi bukan atas dasar keinginan bersama.
Kebersamaan mereka tak...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Fabian Argantara.Dejan melihat dengan mata kepalanya sendiri saat pria itu datang untuk menjemput Nindya di kindergarten. Pria itu benar-benar bersikap dewasa dengan menghampirinya, mereka terlibat perbincangan yang sebentar, selagi Nindya dibiarkan oleh Dejan tetap di dalam mobil sedangkan ia memilih menunggu di luar karena tahu ada rasa tak nyaman yang dirasakan wanita itu.
Dejan pernah bertemu dengan Fabian. Saat dulu sekali dua kali ia menjemput Nindya pulang bekerja, pria itu selalu memperhatikan mantan istrinya tersebut. Benar saja, Fabian mendapatkan Nindya setelah bercerai darinya dan yang membuatnya iri adalah perlakuan tulus yang diberikan kepada Nindya sangat terlihat.
"Is she okay?"
Itu adalah kalimat pertama yang tertuju pada Dejan.
"I don't think so," balasnya.
Sesaat Fabian sampai, Nindya juga langsung keluar dari mobilnya dan berlari untuk cepat masuk ke dalam mobil Fabian yang terparkir tidak begitu jauh dari posisi mobilnya. Dejan menertawakan diri sendiri, sebegitu bencinya Nindya terhadapnya. Kesalahan yang ia perbuat memang sangat fatal, ditambah Dejan benar-benar menyesali ucapan bodohnya yang menuduh kehadiran Nindya ada maksud dan tujuan tertentu.
"Sudah bertemu dengan Raiden?"
Entahlah, Dejan merasa niat Fabian memang baik menanyakan, tetapi karena suasana hatinya sedang kurang baik jadi Dejan rasa Fabian seperti mengejeknya.
"Sudah," balas Dejan seadanya. "But we haven't greeted each other yet."
"Lo sama Nindya ..." Fabian menggantungkan kalimatnya.
Dejan mengerti maksudnya. "Sulit. Ini pertama kalinya dan rasanya emosi masih menguasai kami."
Fabian mengangguk. "Gak perlu terburu-buru, bisa pelan-pelan. Gue harap lo gak menyalahkan Nindya atas apa yang terjadi, semua ini berjalan karena ada alasan. Lo bisa tenangin diri lo dulu, untuk bisa lepas dari emosi lo. Gue paham gak gampang menerima faktanya."
Memang tidak mudah. Sampai sekarang Dejan masih belum bisa menerima. Pertanyaan berawalan kenapa begitu memenuhi pikirannya.
"May I know something?"
"Tentu," kata Fabian.
"Kalian sudah bersama berapa lama?"
Fabian tentu tidak akan menyangka pertanyaan semacam itu akan keluar dari bibir Dejan yang ia tahu tidak akan pernah mau bicara tentang hal personal pada seseorang yang tidak begitu dikenal dekat sepertinya.
Melihat keterdiaman Fabian, Dejan mengerti pria itu tidak ingin mengungkapkannya.
"Where have you been living all this time?" tanya Dejan lagi. Ia frustasi. Sangat. Ia ingin tahu segalanya. Demi Tuhan. Namun Dejan tak tahu harus bagaimana.