thirty three

5K 458 187
                                        

//

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

//

Kehidupan memang tidak akan selalu berjalan dengan mulus, tetapi kenapa Tuhan selalu mengujinya setiap saat? Dejan rasa, selalu ada saja masalah yang harus ditanggungnya. Kapan Tuhan akan memberikannya kebahagiaan itu? Sedangkan dirinya selalu menunggu-nunggu.

Dan ketika kebahagiaan itu pelan-pelan dapat Dejan lihat, belum juga sepenuhnya bisa ia rayakan, perasaan itu harus kembali jatuh lagi, sakit lagi. Setelah empat hari bermalam di Berlin, Dejan memilih kembali ke Jakarta. Semua sudah diusahakan olehnya, Dejan menjanjikan pada Rossalia bahwa ia akan datang secepat yang ia bisa untuk menemani Nindya. Tetapi ya, semua itu memakan waktu dua hari dan di hari berikutnya Dejan baru bisa sampai di Indonesia.

Lalu apa yang didengarnya dari bibir maminya?

"Anindya keguguran."

Saat itu, Rossalia berucap dengan pandangan kosong.

Dejan tak tahu kenapa semua masalah datang bertubi-tubi seperti ini. Bahkan dirinya dan Nindya saja belum begitu menikmati dan merayakan sepuasnya akan kehadiran buah hati mereka. Lalu kini dipaksa harus menerima kepergiannya. Tepat, Dejan pernah di posisi yang sama seperti saat ini untuk yang kedua kalinya. Rasanya sangat tidak enak sampai-sampai ia berpikir apa memang dirinya tak pantas memiliki seorang anak?

Ruangan rawat kelas satu yang di dalamnya hanya ada Dejan duduk di kursi sebelah ranjang dengan sorot mata lelah tertuju pada istrinya yang terbaring dalam keadaan terpejam. Netranya bergerak turun memandang perut sang istri yang sudah tak lagi melendung seperti terakhir kali ia tinggalkan sebelum berangkat ke Berlin. Tangan dingin Dejan terangkat untuk meraba perut itu yang dilapisi pakaian rumah sakit. Ketika menyentuhnya, Dejan termangu. Benar, keberadaan anaknya sudah tidak ada di perut Nindya. Lantas membuatnya menundukan kepala dalam-dalam.

Semua ini salahnya.

Seharusnya Dejan tak menikahi Nindya di awal.

Seharusnya Dejan tak berhubungan dengan Nindya.

Seharusnya mereka tak usah kenal.

Maka semua kesakitan ini tidak akan mereka rasakan.

"Hey, kamu bangun?"

Dejan menegapkan tubuhnya saat mendongak menemukan kedua kelopak mata Nindya sudah terbuka dan menatap ke arahnya tanpa membuka suara. Mata itu hanya beberapa kali mengedip, namun bibir itu terbungkam. Dejan tahu Nindya pasti enggan melihatnya lagi. Tertebak bahwa wanita itu ingin dirinya enyah dari ruangan ini. Sejak datang, Rossalia sudah memperingatinya bahwa Nindya tidak ingin melihatnya lagi, Nindya sudah tahu Dejan pergi ke Berlin untuk menemui Irene.

"Kalau boleh aku memberi saran, lebih baik Dejan menyelesaikan hubungan masa lalunya dulu. Kita semua sama-sama salah. Salah besar untuk Papi dan Mami memutuskan menjodohkan aku dengan Dejan. Salah besar untuk Dejan yang menyanggupi dan salah besar untukku karena menerimanya begitu saja."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 09, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Best MistakeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang