"Rin, kita mampir sebentar ke Menteng, ya? Aku ada perlu sama Papi, mau ngobrol."
Irene menoleh pada spion tengah memperhatikan Alaia yang masih memangku tab-nya sejak masuk mobil tadi, sebelum kemudian ia melirik pada Dejan yang mengemudi di sebelahnya.
"Urgent?" Irene bertanya. "Kamu baik-baik aja 'kan, Mas? Semenjak kamu balik lagi untuk temani Alaia, kamu mendadak sibuk sekali. Andre telepon kamu lagi atau ada masalah yang genting?"
Memang benar, setelah Dejan kembali dengan penampilan yang sedikit urakan-Irene melihat kemeja kerja pria itu yang mencuat keluar dari celana yang sebelumnya rapi dan kening Dejan juga dipenuhi keringat. Ia keanehan. Dejan juga tidak betul-betul menghabiskan waktu dengannya dan Alaia justru sibuk dengan ponsel dan menjauh untuk menerima panggilan. Dari raut yang ia perhatikan, Dejan terlihat frustasi berat.
"Is there any problem, Sayang?" tanya Irene lagi kali ini menumpu tangannya pada tangan Dejan yang tengah memegang persneling mobil dengan telapak tangannya.
"Nope. I'm okay," balas Dejan meyakinkan dengan senyuman. Kemudian ia juga melirik spion. "Aya?" panggilnya pada sang putri.
"Ya, Daddy?" Alaia mengangkat wajahnya, memberi senyuman yang sangat manis pada sang ayah angkat dan melepaskan sejenak tab yang tadi ada di pangkuannya ke kursi sebelah. Alaia selalu bersikap sopan pada Dejan dan Irene karena sedari kecil sudah dididik dengan baik di panti asuhan. "Kenapa, Dad?"
"Kita ke rumah Eyang dulu ya, Sayang? Mau nggak, Nak?"
Alaia langsung berbinar. "Mau, Daddy, mau! Aku udah lama gak ketemu Eyang Rossa!"
Dejan tersenyum manis melihat reaksi anak itu.
Irene pun samanya. "Baru seminggu gak ketemu Eyang, udah kangen seperti itu, hm?" Ia terkekeh kecil.
"Iya, Mom. Aku kangen tidur sama Eyang, kangen disuapin makan sama Eyang, pokoknya aku mau lama-lama di rumah Eyang ... Boleh 'kan, Mom, Dad?" tanya Alaia memohon pada kedua orang tuanya dengan ekspresi yang justru lucu.
"Boleh," jawab Dejan.
"Boleh," jawab Irene juga bersamaan yang mengundang hore dari anak perempuan menggemaskan itu.
"Bagaimana kegiatannya selama satu minggu ini di kindergarten?" tanya Dejan pada Irene tentang anak angkat mereka.
"Masih menyesuaikan, Mas," Irene membuka bedak padat bermerknya untuk memastikan penampilannya masih tetap oke begitu mereka masuk ke perumahan elit di Menteng yang merupakan kediaman mertuanya. Ya, tentu Irene tidak mungkin akan berpenampilan buruk. "After graduating from pre-school to kindergarten, Alaia masih beradaptasi dengan pelajaran yang mungkin agak lebih rumit baginya dan juga harus berinteraksi dengan teman-teman barunya. Tapi sejauh ini gak ada masalah, dia menjalaninya dengan baik. Anak kita pintar," lanjutnya dengan senang.
"Thank God," pria itu mengembuskan napasnya. "Maaf, aku belum menyempatkan waktu untuk menemani kamu mengantar Alaia masuk ke sekolahannya, tapi aku percaya kamu bisa selalu ada untuknya," kata Dejan yang kemudian mematikan mesin mobil ketika mereka sudah parkir sempurna di dalam pekarangan rumah megah Adhitama Baskara.
"Mommy, Daddy, aku boleh duluan masuk?" tanya Alaia antusias ketika mereka telah sampai dan ada seorang pelayan yang hendak membukakan kursi penumpang.
"Boleh, Sayang, hati-hati ya," kata Dejan dengan tulus.
"Thank you, Daddy. Love you so much," Alaia mendekat pada Dejan dan mengecup pipinya, kemudian mendekat pada Irene dan melakukan hal yang sama. "And love you so much, Mommy cantik," lanjutnya dan langsung keluar dari mobil dan berlari masuk ke rumah diikuti pelayan yang kewalahan mengejar dari belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Best Mistake
Literatura FemininaSemua yang terjadi di antara Dejan dan Nindya adalah kesalahan. Bukan kesalahan siapapun, tapi Dejan tetap menyebut penyebab mereka bersama karena suatu kesalahan. Sebab semua yang terjadi bukan atas dasar keinginan bersama. Kebersamaan mereka tak...
