Lanjutan dari need to know.
Di kediaman apartemen tempat tinggal jake, hari ini ia tak ada kegiatan apapun untuk dilaksanakan. Jadwal yang ia buat menandakan hari ini ia seharusnya kosong dan menggunakan waktu sebaik mungkin untuk beristirahat.
Jake sendiri sudah memesan beberapa makanan cepat saji untuk ia nikmati sendiri, tenang saja porsi nya pun tidak begitu banyak namun setidaknya cukup untuk dirinya seorang diri.
Ia menyalakan televisi nya, mendaratkan bokongnya diatas sofa miliknya. Suara dari pemutaran film terdengar begitu kencang memenuhi seisi ruangan, tangan sibuk menyukai dirinya sendiri sembari pandangan ia fokuskan pada tayangan di televisi.
Evan
| Jake
| Lagi diluar?
Ponselnya berbunyi dan menyala menampakkan pesan yang dikirim dari salah satu teman dekatnya yang sempat ia cumbu-
Engga, Lagi nonton |
| Boleh nyusul?
Sejenak jake berpikir, ia masih teringat akan kejadian beberapa hari lalu yang membuat dirinya merasa sedikit canggung. Bahkan bagaimana keduanya yang tak bertukar pesan setelah hari itu.
| Otw ya
Belum sempat ia menjawab, justru lelaki yang jauh lebih tua darinya itu sudah lebih dulu mengabarinya.
"Duh.., gimana ya"
Rasa gelisah muncul begitu saja, entah mengapa pula ia harus seperti ini kalau temannya itu terlihat biasa saja. Jake mengalihkan atensi nya kearah jam dinding, gerakan jarum jam terdengar bergema kala jake masih dengan pikiran kacau nya.
Hampir 7 menit lamanya jake mengeram diam, pikirannya berkecamuk entah ia harus menolak Evan nantinya atau justru menerima lelaki tersebut. Ini hanyalah kunjungan teman pada umumnya tapi entah kenapa ia rasanya jauh lebih gugup bahkan jauh lebih gugup dibandingkan ia didatangi tamu tak diundang.
Dingdong!
Lamunannya terlupakan begitu terdengar suara bel, ia menghembuskan nafasnya begitu kuat bersiap menyambut kedatangan 'Teman' nya tersebut.
"Hai" begitu lembut sapa nya, sampai jake tak sadar kalau ia menahan nafasnya.
"Jake?"
"Eh iya! Masuk"
Jake kembali menikmati camilannya tapi kali ini ia ditemani tak lagu sendirian, gerakannya tertahan bahkan untuk sekedar menoleh saja jake tidak bisa. Kenapa semua hal jadi begitu sulit ketika ada Evan disana.
"Oh ya, nih gua bawa yang manis"
Alisnya mengernyit tak mengerti maksud dari temannya itu,
"Kasian aja sama lu aja, soalnya engga ada kan yang ngasih lu valentine gini"
"Monyet, gini mah gua juga bisa beli sendiri!" Merasa kesal setelah mendengar alasan lebih lanjut dari temannya itu, sementara yang meledek puas ketika mendapati reaksi yang diberikan.
"Makan dong, dah gua beliin masa mau di diemin"
Jake meraih isi totebag kecil tersebut, melihat berbagai macam rasa, bentuk permen bahkan coklat pun bermacam-macam. Entah memang Evan yang tak mengerti atau justru ia sengaja membeli sebanyak itu, atau mungkin itu adalah hasil yang didapat dari seorang wanita secara Evan cukup terkenal dikalangan wanita.
"Ini emang banyak gini?" Tanyanya dengan ragu.
Evan mengangguk, "Iya, biar ciumannya beda rasanya"
"Orang gila"
Lelaki itu hanya terkekeh pelan, tak bisa dipungkiri kalau jake juga menyukai Evan yang begitu terang-terang an kalau ia menyukai nya.
"Serius jake, shit I just can't forget about that easily, the way you let out a sigh after we kiss that time..."
It feels the world stop revolves around, jake couldn't think straight anymore. As Evan told him about that day, he went silent just like now.
Degup jantungnya berpacu begitu cepat, ia bisa merasakan kalau dirinya saat ini menahan nafas nya. Terasa begitu sesak hingga tak mampu mengeluarkan sepatah kata apapun.
"Mau main game ga? If you can't guess the flavour berarti harus terima hukuman" Ucap Evan dengan ide gila nya saat ini.
Pikir Jake ini adalah kesempatan emas untuk Evan, tapi entah mengapa ini hal yang cukup menarik untuk di coba.
As he agreed, he start to take the blindfold that Evan gave to him. His sight was covered enough not even a hole was shown up.
Dan tanpa sepatah kata apapun ia ucapkan, dan sebetulnya Evan tak kalah menegang karena ucapannya barusan. Perlahan Evan membuka bungkus permen tersebut, yang kemudian ia menyecap rasa dari permen tersebut dengan meyakinkan dirinya untuk tenang, ia mendekatkan jarak antara keduanya.
Bilah bibir keduanya bertemu untuk kali keduanya, Evan yang berusaha memasukkan lidahnya agar Jake dapat merasakan dari perisa permen yang baru saja ia jilati.
"You sure you already take the candy van?" Tanya Jake karena ia masih belum bisa merasakan apapun di lidah nya bahkan setelah Evan membelit lidah nya pun tak terasa apapun.
"Udah, kesempatan satu kali"
"Two, sekali lagi van. Gua belum ngerasa apa-apa" Dengan jujur Jake mengungkapkan nya, meskipun pada akhirnya ia sedikit menyesal karena bisa saja setelah ini Evan akan memanfaatkan kesempatan.
He leans in again, start to give him slight of a peck. But when Evan tried to pull out Jake starts to make him even more closer than before which made him shocked.
Jake benar-benar menciumnya, ini tidak seperti seseorang yang ingin tau dan ingin menebak rasa permen dari permainan mulut melainkan Evan bisa merasakan how desperate Jake was.
"Hold on-"
"Fuck.. Evan.."
Telinga nya memerah padam dan terasa panas, Jake tidak seharusnya seperti ini. Padahal pada awalnya ia yang memiliki prasangka buruk pada Evan, tetapi kejadian aslinya malah dirinya sendiri yang mencuri kesempatan itu sendiri.
Sedangkan Evan, ia terkejut bagaimana Jake yang tidak seperti biasanya. Perasaan malu menguasai dirinya ketika merasakan bagaimana Jake yang menciumnya dengan tak sabar.
"Ja-ke, berhenti aja ya, kayaknya gua bodoh banget ya ngajakin main enggak jelas gini" Ungkapnya sembari ia mencoba untuk melepaskan kain yang menutupi pandangan Jake saat ini.
Dan ketika kain itu terlepas, perlahan Jake membuka kelopak matanya memandangi seseorang yang berada di hadapannya. Sejenak ia menulusuri tiap pahatan wajah tenang tersebut, mata nya sayu dan Evan menyadari hal tersebut.
"Don't, don't look at me like that Jake.."
He was the one who flushed, can't even get his sight straight towards Jake.
Jake tak mengucapkan sepatah kata apapun, ia terlalu fokus memandangi bibir yang sempat ia beri ciuman beberapa menit lalu.
"Oh god.., it makes me wanna kiss you right now"
"Go ahead Evan~"
It's supposed to be a valentine special.., well sorry for not being updated life's went crazy lately 🥸
Should i make a book instead? Biar ada lanjutan lagi..?
Oh ya for the next i will focused on Blue moon first, Blue moon based on my actual rl jadi ending nya tergantung ending yg what happened to me 🙌🏻
- Ken.
KAMU SEDANG MEMBACA
noending [en-]
Fiksi Umumfull of enha one-shot/two-shot mature content! Homophobic dni. Do not copy my work. [18/05/23] #1 sunhee [10/05/23] #1 sunjake [05/09/23] #1 hoonjake [28/08/25] #8 heewon
![noending [en-]](https://img.wattpad.com/cover/334415600-64-k469782.jpg)