we fell in love in october (heejake).

226 11 0
                                        

//pic are cr to the owner.

Jake's point of view.

This crew neck wrapped around my body, it became a little bit hotter than usual well that's because people are gathered around right now. Suara dentuman musik mengisi seluruh ruangan yang terbilang cukup sempit karena terlalu banyak manusia berkumpul di sekeliling ku.

Aku sendiri, dengan gelas plastik berisi minuman perisa anggur. Ini pesta ulang tahun yang bahkan aku tidak mengenal siapa yang berulang tahun saat ini. Semua karena temanku yang mengajakku untuk pergi bersama, karena diundangan tertulis membawa gandengan. Dan itu aneh karena kenapa kesannya seperti sedang berkunjung ke pernikahan seseorang?

Yang ku lakukan saat ini hanya terus meminum, memakan sedikit camilan yang ada di sebelah ku. Dan mengobservasi beberapa orang sekitar ku. Sampai akhirnya pandangan ku tertuju pada seseorang berambut merah yang sedikit luntur jauh terlihat seperti merah muda.

Senyuman lebar terukir diwajah tampannya, aku terpukau. Dan entah mengapa aku merasa perlahan dia mendekati kearah ku akan tetapi aku langsung memalingkan wajahku.

"Hey, what should i call you?"

Suara nya begitu sopan memasuki telinga ku, terasa sedikit geli. Dan ada sesuatu tengah berjalan diperutku sampai akhirnya aku merasakan bahu ku ditepuk pelan olehnya membuat ku menatap lurus kearah nya.

"Boleh kenalan kan?" He ask with his pretty smile showed up.

"Eh? Iya, Jake"

Kali ini terdengar kekehan, hampir saja mataku terbelalak karena hey bagaimana bisa tawa itu terdengar merdu meski hanya sekilas.

"Evan, senang bisa kenalan sama kamu jake"

Aku hanya mengangguk malu, menggapai salaman itu dengan canggung. Oh ayolah aku sedang berada di pesta ulang tahun bukan ajang pencari jodoh!

"You're alone? Atau gimana jake?"

"Aku? Oh enggak- tadi sama temen ku Jay.. but now he's gone gak tau kemana" Jelasku pada evan sambil menggoyangkan pelan gelas plastik milikku.

Aku bisa melihat evan menganggukkan kepalanya perlahan, mengatupkan bibirnya sejenak sebelum ia berancang membangun komunikasi antara diriku dengannya.

"I see.., mau keluar for awhile?"

He offered, apakah wajahku begitu menampakkan ketidak nyamanan yang begitu jelas..?

Dan anehnya aku mengiyakan ajakan itu begitu cepat tanpa berpikir panjang, tanpa berbasa basi dengan orang yang bernama evan ini, bahkan tanpa ada rasa curiga sedikitpun.

Aku berjalan mendahului nya, menuju pintu keluar dan akhirnya kita berjalan sedikit menjauh dari rumah yang tampak sempit tersebut.

"I assume that you're completely stranger, not in a bad way maksudku-"

Kalimatnya terjeda begitu aku langsung membuat klarifikasi.

"Yes, aku bahkan merasa bersalah sama yang punya acara.. cuz i have no clue about who they are.."

Tawa Evan meledak, kali ini lebih lepas dibanding sebelumnya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya seolah tidak percaya dengan kejujuran yang baru saja ia dengar.

"Lapar gak? Atau mungkin kita bisa geser ke cafe or something else?" Tanya evan, melirik ke sekitar.

Aku mengangguk, tawaran itu terdengar jauh lebih menggoda daripada aku harus kembali ke ruangan penuh keringat tadi.

Malam itu berakhir dengan kami yang duduk di salah satu minimarket, lalu berakhir dengan obrolan yang tidak kunjung usai sampai akhirnya aku dan evan sampai di depan gedung apartemenku.

Entah mengapa aku merasa tak terusik dengan kehadiran orang asing yang bernama evan ini, aku mengajaknya untuk masuk ke dalam apartemen ku menghabiskan beberapa camilan yang kami beli sembari menonton film.

Apartemenku yang biasanya sunyi mendadak terasa hidup. Kita duduk di sofa, menonton film dengan volume yang rendah, dan sesekali tertawa tanpa alasan yang jelas.

Beberapa hari setelah pertemuan itu, pesan singkat darinya tidak pernah absen menghiasi layar ponselku. Sampai pada suatu sore, Evan mengajakku untuk bertemu lagi. Dan entah mengapa perasaan aneh muncul, aku merasa sedikit gugup.

​"Jake,"

Panggilnya saat aku dengannya sedang berjalan santai di area taman. Langkahnya terhenti, membuatku ikut menoleh padanya.

Ada jeda sejenak. Ia merapikan rambut merah mudanya yang tertiup angin, lalu menatapku dalam. Senyuman manis yang pertama kali kulihat di pesta itu kini berubah menjadi tatapan yang lebih hangat dan tulus.

"Is it okay.. if i ask you to go on a date with me?"

Aku tertegun, jantungku berdegup begitu kencang. Mengapa tidak, kita baru saja bertemu beberapa hari yang lalu. Dan meskipun kita terlihat memiliki kesamaan aku merasa perasaan ini tumbuh terlalu cepat.

Aku terdiam sejenak, menatap matanya yang berbinar, lalu sebuah senyuman perlahan terukir di wajahku.

"Are you being serious right now?" Tanyaku memastikan

Evan mengangguk pelan, masih dengan senyuman hangatnya. Sesekali tatapan itu menyihir diriku.

"Tapi kalau kamu-"

"Boleh"

Aku mendahuluinya, terkekeh pelan sambil menunduk. Entah kenapa tanah yang ku pijak jauh lebih menarik dibanding aku harus melihat wajah teduh tampan itu.

"Jake? Ini boleh beneran?"

Aku mengangguk pelan, kemudian kembali menatapnya mencoba untuk menetralkan detak jantungku yang semakin kencang.

Evan yang melihat itu pun tersenyum lepas, dan tertawa lega.

"So..., let me take you to our first destination"

He said as he offering his hand to hold me, as i agrees with that. Aku menautkan jariku dengan jarinya, genggamannya terasa begitu erat dan hangat.

"Mimpi apa yah aku semalam bisa gandeng kamu.."




























"Kalau kita officially lovers, aku boleh cium kamu ga jake?"




























back again, after sibuk syuting.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: May 09 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

noending [en-]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang