13. Enemy

2.4K 36 1
                                        



     Ken menelusuri pandangan tajam nya kepada Grace yang duduk diam tanpa memandang ke arah Ken yang ada di depan nya. Fokus wanita itu hanya kepada makanan yang sedang di lahapnya dan mengabaikan Ken yang terus menatapnya tanpa merasa risih.

"Aku akan ke Australia minggu depan."

Grace mengangkat kepalanya, menaikan kedua alisnya tanpa menjawab apa-apa.

"Dan aku ingin kau ikut bersamaku." lanjut Ken yang berhasil membuat perhatian Grace teralih memperhatikan pria itu dengan raut wajah aneh, menatap pria itu seolah perkataan Ken barusan terdengar seperti bercanda. Namun setelah menatap Ken dengan cukup lama dan mencari dimana letak candaan dalam kalimat nya, Grace tertegun, wajah pria itu terlihat datar tanpa ekspresi dan menunjukan keseriusan pada kalimatnya barusan.

"Tidak bisa. Aku banyak kerjaan." balas Grace acuh.

"Aku akan meminta atasan mu untuk memberikan mu cuti selama dua minggu."

Ken kembali memfokuskan dirinya ke arah laptop yang berada di depan nya, pria itu terlihat sibuk dan berkutat dengan berkas dan laptopnya sepanjang hari, namun tetap memaksakan kehendak untuk bertemu dengan nya. Pria itu kini berada di apartemen Grace di siang bolong di saat seharusnya pria itu berada dibalik meja kerja di kantor megah nya, bukan nya berada di dalam ruang tamu apartemen Grace dan menemani wanita itu makan siang. Grace sendiri tidak sedang bekerja karena sedang tidak sehat, jadi dirinya meminta izin kepada Lois untuk absen hari ini. Begitu mendengar bahwa Grace sedang tidak sehat, Ken dengan segala jiwa posesif nya memaksa menemani Grace sepanjang hari, bahkan membawa perkerjaan pria itu yang bertumpuk dan mengerjakan nya sembari menemani Grace seharian disini.

Grace mendelik tajam mendengar kearoganan Ken, pria itu tidak bisa seenaknya mengatur pekerjaan nya. Lagi pula, apa yang akan di lakukan Grace jika ikut bersama pria itu padahal Ken kesana untuk urusan pekerjaan. Belum lagi dengan segala resiko yang akan di hadapi jika ada yang melihat mereka bersama dan akan bocor kemana-mana.

"Kau tak akan bisa karena itu bukan perusahaan milikmu, mana mungkin atasan ku memberi izin sedangkan kau bukan siapa-siapa." Grace tersenyum penuh kemenangan karena merasa Ken tidak akan mampu melakukan nya. "Lagi pula, jika kau bekerja lalu apa yang akan ku lakukan? hanya menunggu mu dan berdiam diri seharian?"

Ken hanya mengangkat alis dan bahkan tidak melirik Grace sama sekali. "Kita liat saja nanti. Dan kau tidak akan merasa bosan, jika kau mau kita bisa bercinta seharian disana." Ken melirik Grace dengan tatapan menggoda saat dilihatnya pipi wanita itu yang bersemu merah dengan kalimatnya barusan. Grace selalu memerah jika Ken mengucapkan kata-kata vulgar di depan wanita itu, membuat Ken sebenarnya tidak tahan dan ingin mencium wanita itu lalu mengurung Grace di bawah kuasanya jika saja Ken tidak ingat bahwa Grace sedang sakit sekarang.

Tanpa di duga, Grace mendekatkan diri kepada Ken dan duduk di sebelah pria itu. Tangan Grace bergerak menyingkirkan laptop di pangkuan pria itu dan tak lama Grace telah duduk di atas pangkuan Ken, menggantikan posisi laptop sialan itu. Ken hanya menaikan alis, membiarkan apapun yang akan di lakukan Grace.

Grace melingkarkan sebelah tangan nya di leher Ken sementara sebelah tangan nya bergerak mengusap dada Ken dengan sensual. Bibir Grace bergerak mengecup rahang tegas Ken yang kini mengetat karena mulai merasakan gairah. Ken memejamkan mata, membiarkan sentuhan tangan Grace semakin jauh dan menimbang apakah akan menuntaskan gairah nya kepada wanita yang sangat seksi di pangkuan nya ini atau tidak. Grace sedang sakit, itu yang menjadi pertimbangan Ken dan dirinya berfikir Grace tidak bisa ia tiduri jika masih sakit. Namun Grace justru menghancurkan benteng pertahanan nya, saat dirinya berusaha sekuat tenaga untuk tidak menyentuh Grace di saat wanita itu berada di dalam jangkauan nya. Justru Grace sendiri yang melemparkan tubuh indahnya kepada Ken sekarang.

My Friend's Husband Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang