Ketukan heels berwarna merah menyala di atas lantai marmer sedikit teredam akibat suasana sekitar yang sangat ramai. Ruangan itu dipenuhi oleh para pria berjas hitam, juga wanita yang memakai gaun-gaun nan elegan yang melekat ditubuh mereka yang berlekuk. Grace tersenyum tipis dengan anggun saat berpapasan dengan seseorang yang di kenalnya. Langkahnya pelan namun pasti saat menuju ke satu titik yang berada di ujung ruangan.
"Selamat malam."
Grace mengulurkan tangannya ke depan dan langsung di sambut dengan uluran tangan yang sama oleh seseorang yang ditemuinya sekarang. Grace memberikan senyuman ramah terbaiknya sebelum kemudian bergerak melepaskan jabatan tangan mereka.
"Selamat malam, Grace. Semoga kau menikmati acara ini."
Tatapan Grace mengarah kepada wanita tua yang ada di depan nya saat ini. Wanita tua itu adalah ibu Lily yang memang cukup akrab dengannya. Grace dan Joy selalu menghabiskan waktu bersama Lily setiap harinya saat mereka dalam masa pendidikan dahulu, jadi mereka telah saling mengenal keluarga masing-masing dengan cukup dekat. Grace mengangguk dengan semangat. "Acara ini terlalu indah untuk di sia-siakan." Grace mengedipkan sebelah matanya kepada ibunda Lily yang menatapnya dengan senyuman ramah yang lebar. Lily memang memiliki keceriaan yang sama seperti ibunya, selalu tersenyum dan baik hati kepada siapapun seolah tanpa prasangka.
Perhatian mereka seketika teralih saat Joy menghampiri dengan langkah cepat ke arah mereka lalu memberikan sapaan yang sopan kepada ibunda Lily, seperti yang sudah dilakukan Grace sebelumnya. Grace memperhatikan interaksi mereka dan ketika Joy telah selesai, mereka berpamitan untuk menemui Lily yang sedang bersama Ken di sebuah meja bulat bersama dengan tamu-tamu yang lainnya.
Grace menghembuskan nafas dan mengabaikan tatapan Ken yang terus mengarah kepadanya semenjak Grace telah menginjakan kakinya di dalam ruangan yang telah di hias dengan sangat cantik ini. Grace terus berusaha mengabaikan tatapan itu dan memfokuskan dirinya kepada hal lain, dirinya juga berusaha agar tidak melihat ke arah Ken apapun yang terjadi. Namun sepertinya, sekarang telah tiba saatnya bagi Grace dan Joy untuk menyapa kedua orang yang merupakan tuan rumah pada acara megah yang di adakan malam ini.
Ken melarangnya dengan sangat untuk datang ke pesta perayaan anniversary pernikahan nya bersama Lily. Mereka bahkan bertengkar hebat karena Grace tentu saja akan datang untuk memenuhi undangan Lily dan datang sebagi sahabat baiknya, Grace tidak mungkin melewatkan hari yang cukup penting bagi Lily. Sementara Ken terus berupaya menggagalkan dengan menggunakan segala cara agar Grace tidak akan datang malam ini. Namun tentu saja Grace yang keras kepala berhasil membuat Ken kalah dalam perdebatan mereka kali ini. Dan disinilah Grace sekarang, menyaksikan bagaimana di depan sana Ken yang berperan menjadi suami sempurna bagi Lily dalam pesta perayaan pernikahan mereka yang bahagia.
"Apa kita akan menemui mereka sekarang?"
Joy bertanya dengan nada yang cukup keras, suasana ramai di sekeliling mereka membuat suara Joy teredam dan harus sedikit berteriak untuk memastikan Grace mendengar ucapannya. Grace mengangguk samar. "Tentu saja, aku juga tidak bisa berlama-lama disini, jadi lebih baik kita menemui mereka sekarang."
Mereka berjalan bersisihan, Grace menatap ke arah mereka dengan rasa percaya diri, dihilangkan nya rasa gugup dan khawatir saat mereka berhadapan nanti, namun sekuat tenaga Grace berhasil melawan kegundahannya dan terus melangkah maju dengan tenang. Grace hanya harus bersikap tenang, maka semua akan baik-baik saja. Dalam hati Grace terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa rahasia mereka tidak akan mungkin terbongkar sekarang. Lalu melalui ekor matanya, Grace melirik Joy yang terlihat begitu riang saat langkah mereka telah sampai kepada Lily dan Ken yang langsung berdiri dan menyambut saat melihat kedatangan Joy dan Grace.
"Aku sangat merindukan kalian."
Lily bergerak memeluk Grace dan Joy bersamaan, mereka bertiga saling memeluk secara bersamaan dan berbagi pelukan bersama. Grace membalas pelukan Lily tak kalah eratnya, begitupun Joy yang bahkan sedikit sedih bercampur bahagia karena akhirnya bertemu dengan Lily. Mereka bertiga cukup lama tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Dan reaksi yang di tampilkan Lily selalu sama jika mereka bertemu lagi setelah sekian lama tak berjumpa, Grace menikmati pelukan Lily atas tubuhnya, kemungkinan besar pelukan hangat yang diberikan Lily kepadanya tidak akan terjadi lagi di kemudian hari. Mata Grace mencuri pandang ke arah belakang tubuh Lily yang masih memeluknya, Ken menatap mereka dengan pandangan yang sulit di artikan. Detik berikutnya, tatapan mereka beradu sejenak, tatapan Ken kepada Grace teramat intens sehingga mengalirkan gelenyar aneh di tubuh Grace saat mencoba menantang tatapan itu. Tubuhnya seolah terbakar karena tatapan Ken seperti menyiratkan sesuatu yang sensual. Grace bahkan seketika merasakan basah di saat pria tidak melakukan apapun dan hanya menatapnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Friend's Husband
RomanceMenjatuhkan pilihan kepada seseorang yang salah, lalu memilih melanjutkan dan menjalani nya. Cinta yang dipaksakan begitu nyata sehingga membuat Grace harus menyakiti perasaan wanita lain nya. Grace dan Ken memulai semuanya dengan sadar, lalu merek...
