31. Second Chance

1.2K 22 2
                                        


    Suara deburan ombak yang semakin terdengar jelas di keheningan senja yang seharusnya meneduhkan, justru berbanding terbalik dengan kondisi Grace saat ini yang benar-benar merasakan bahwa sekujur tubuhnya dipenuhi keringat dingin yang tak semestinya. Melihat pria itu adalah keinginan terakhirnya, bukan karena membenci atau hal buruk lainnya, justru dengan melihat pria itu kembali merupakan harapan yang pernah dimilikinya, namun tak sampai membuatnya berani membayangkan hal lebih. Grace merasa bahwa dirinya akan kembali jatuh dan tersungkur, mungkin tidak akan menemukan jalan pulang lagi jika tetap memaksa untuk terperangkap bersamanya lagi.

"Grace.."

Suara pria itu seketika memenuhi kepala dan fikirannya, dikepalanya masih terekam jelas bagaimana malam-malam panas yang pernah mereka lalui sebelum semuanya kandas begitu saja hanya dengan hitungan waktu.

"Kau.." Grace tercekat, namun masih sempat melirik Pelia di sebelahnya yang menggelengkan kepala lemah, seolah tak mengetahui kejadian ini.

"Seperti sudah cukup lama aku tidak melihatmu lagi."

Grace hanya diam, fikirannya berkecamuk, atau lebih tepatnya menahan rasa rindu yang tiba-tiba menguap dan menahan dirinya untuk tidak langsung berlari ke pelukan pria itu dan memeluk dengan erat dan sejadi-jadinya.

"Apakah ini pertemuan yang disengaja?" tanya Grace sarkas, menutupi perasaan yang sesungguhnya bahwa dirinya merindukan sosok yang berdiri tegak di hadapannya.

Kale mengangkat bahunya acuh, "Aku tidak memiliki niat seperti itu, bahkan aku tidak tau jika kau berada disini."

Namun bukan Grace namanya jika hanya percaya begitu saja, berurusan dengan Ken dan kehidupan beratnya sudah cukup membuat Grace banyak belajar tentang hal-hal sederhana yang bisa aja di buat-buat. Tatapan nya melirik curiga ke arah Peila, namun lagi-lagi wanita itu hanya menunjukan wajah memelasnya karena tatapan Grace seakan terus menghakiminya.

"Senang bertemu denganmu lagi."

Mata tajam Grace melihat Kale yang terkekeh dengan kalimatnya, sedikit terusik dan menyesal telah mengucapkan itu, karena Kale terlihat menertawakannya.

"Apakah aku harus mengatakan hal yang sama?" tanya Kale.

"Tidak perlu. Aku tidak perduli bagaimana perasaan mu."

Rupanya hal tersebut sukses membuat Kale menghentikan tawanya, kalimat Grace cukup membuatnya terdiam, dan keheningan kembali menyapa mereka, membuat Grace memanfaatkan kesempatan itu untuk memperhatikan penampilan Kale yang tak banyak berubah sejak terakhir kali mereka pertemu dalam hari yang penuh drama itu. Tubuh Grace memanas saat matanya juga menyadari bahwa Kale telah melakukan hal yang sama.

"Bisa berikan waktumu yang berharga untuk bebicara denganku sebentar?"

Lagi-lagi Grace bergeming, tawaran Kale terasa sangat menggiurkan, namun entah apa yang membuat Grace seolah menahan setiap rasa yang muncul kepada Kale, seolah ada pembatas besar yang membuatnya merasa bahwa Kale tak boleh semudah itu menjangkaunya.

"Sepertinya tidak ada yang harus di bicarakan."

Kale hanya tersenyum, dan Grace menyadari dari interaksi mereka sejauh ini, bahwa sikap pria itu tidak banyak berubah.

"Aku ingin keras kepala kali ini, sama sepertimu."

"Apa maksudmu?" tanya Grace malas.

"Anggap saja kita baru mengenal satu sama lain sejak malam ini. Aku ingin mengulang pertemuan pertama kita menjadi lebih baik mungkin?"

"Tidak ada bedanya bagiku."

"Aku menyukaimu pada pandangan pertama, mengajakmu berkencan dan kau berakhir menjadi kekasihku. Bukankah itu lebih baik daripada harus menculikmu dan memperkosamu?"

My Friend's Husband Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang