33. Trapped

1.3K 20 1
                                        



Suasana penuh haru yang terjadi beberapa saat lalu, saat proses bersatunya dua insan dalam ikatan pernikahan nan suci yang penuh dengan derai air mata bagi di sekeliling mereka yang menyaksikan. Berbanding terbalik dengan kedua pengantin yang justru selalu menebarkan senyuman bahagia mereka. Sesungguhnya Grace tidak terlalu antusias dengan pernikahan ini, namun dirinya di tutut untuk memberikan senyuman terbaik, memberikan sambutan ramah kepada seluruh tamu yang hadir di hari pernikahannya.

Grace tak mengira sebelumnya, bahwa pernikahan mereka akan di lakukan secara megah oleh keluarga Kale. Grace tidak memiliki wedding dream layaknya wanita pada umumnya, jadi ketika Kale menyerahkan kepadanya untuk mengatur semua kepentingan pernikahan, Grace dengan tegas menolak dan memilih mengikuti apa saja yang akan diberikan kepadanya. Bahkan sekedar memilih gaun yang akan dikenakan saat hari pernikahan nya, Grace tak begitu perduli.

Sebelum pernikahan ini terjadi, Grace sudah diberitau dengan bagaimana konsep pernikahan mereka yang akan berlangsung, namun tetap saja, apa yang telah di suguhkan sekarang berkali lipat lebih megah daripada yang di fikirkan nya. Entah sudah berapa kali Grace merasa terkejut dengan semua hal yang terjadi hari ini, sampai rasanya Grace terlalu lelah untuk kembali mengetahui bahwa Ken kembali menemuinya secara diam-diam setelah beberapa saat mereka tidak pernah bertemu kembali, dan pria itu muncul tepat dihari pernikahan nya.

Grace hanya terdiam dan berusaha mencerna, seolah kehabisan energi saat pria itu berhasil membawanya ke sebuah ruangan yang terletak paling ujung dan sedikit tertutup dari hiruk pikuk. Di depan pintu terlihat Peter yang langsung mempersilahkan mereka masuk, menutup pintu itu dan bersiap untuk berjaga di depan pintu ruangan ini.

"Apa kau puas sekarang?" Ken memerangkap tubuh Grace di dinding, sementara tangan pria itu mengurung tubuhnya dan merapatkan jarak mereka. Tatapan Ken menelisik penampilan Grace yang masih menggunakan gaun pengantinnya dengan seksama. "Kau fikir bisa semudah itu terlepas dariku?"

"What are you talking about?" ujar Grace dan memperhatikan wajah Ken yang teramat dekat di depannya.

"Sepertinya ada banyak hal yang ingin kau jelaskan."

"Nothing. We are over. Jangan menggangguku lagi. I'm married now." Grace mengalihkan wajahnya kesamping, saat Ken bersiap memberikan ciuman di atas bibirnya.

"Kita tidak pernah berakhir. I just give you time. Bukan putus."

Ken mengelus pipi Grace, menahan dagu wanita itu agar terus menatap matanya, mengunci tatapan mereka. "Apa kau fikir ini semua terjadi karena kau menang? karena pria brengsek itu bisa mencuri mu dariku? I just let this all happen. Kale tidak sehebat itu untuk membuat ku kalah." setelah menyelesaikan ucapannya, Ken menahan pipi Grace yang akan menghindarinya lagi, kemudian memberikan ciuman di atas bibir yang terpoles oleh lipstik merah menggoda tersebut, mencecapnya dalam sebelum melepaskan dengan rasa tak rela.

"Aku tidak punya waktu banyak. Tapi ini bukanlah akhir bahagia seperti yang kau harapkan, justru ini adalah awal mula pertikaian yang sesungguhnya. Aku tidak akan mengulur waktu lagi kali ini."

Ken kembali mencium bibir Grace, tangan pria itu tak tinggal diam, bergerak ke seluruh tubuh Grace yang bisa dijangkau oleh tangan besarnya, memberikan sentuhan memabukan yang sudah lama tak mereka lakukan, ciuman penuh gairah dan rindu tertahan tak terelakan, Grace terhanyut saat Ken semakin memperdalam ciuman panas nya.

Beruntung Grace tersadar dan langsung mendorong tubuh Ken saat pria itu hampir saja meloloskan gaun pengantin nya, bersiap menyatukan tubuh mereka dalam pusat kenikmatan. Memenuhinya kembali setelah sekian lama.

"Aku benar-benar ingin menidurimu sekarang. Bercinta dengan kau yang masih menggunakan gaun pengantin sialan itu." Ken mengelus bibir bawah Grace yang dilumatnya habis-habisan sebelumnya. Matanya terus menatap bibir yang terasa menggoda itu dengan tatapan dalam. "Tapi waktu ku hampir habis, ayahku tidak bisa menahan Kale dan pengawalnya lebih lama lagi. So, i have to go now."

Ken melepaskan tubuh Grace yang membeku, seolah semua kalimat yang di ucapkan oleh Ken terasa sangat sulit untuk di mengertinya. Saat menyadari tubuh Grace yang terlalu lemas untuk dilepasnya, Ken mengulurkan waktu kembali. Memeluk tubuh wanita yang tidak pernah dipeluknya lagi belakangan ini, memberikan kecupan di puncak kepala Grace, kemudian membisikan sesuatu yang sejak tadi terfikirkan olehnya.

"Kau terlihat cantik dengan gaun ini."

Grace melepaskan pelukan mereka dengan penuh tenaga karena Ken terus menahan tubuh mereka agar tetap berdekatan. Saat pelukan mereka terlepas, Ken memberikan kecupan di kening wanita itu, dan satu kecupan ringan dibibirnya. Sebelum akhirnya benar-benar pergi dari hadapan nya. Grace melihat kepergian Ken yang tampak tergesa dan melihat pria itu yang meloncat melalui jendela besar yang ada di ruangan ini.

***

Langkah Grace begitu tenang, seolah kejadian yang terjadi beberapa saat lalu antara dirinya dan Ken di sebuah ruangan tertutup itu tak mempengaruhinya. Meski dirinya tak begitu mengerti dengan semua perkataan yang dilontarkan Ken kepadanya. Grace memilih tak ambil pusing, Ken memang selalu seperti itu. Pria itu terasa seperti bermain teka-teki dan yang sulit untuk ditebak, membuatnya tak mudah terbaca seperti buku yang langsung bisa ditebak alurnya. Setelah memastikan bahwa penampilan nya tidak berantakan saat bersama Ken tadi. Kemudian tatapan Grace beralih ke arah Kale yang berdiri di ujung ruangan, bersama pria paruh baya yang sudah bertemu dengan Grace beberapa kali sebelumnya, pria itu adalah ayahnya.

Pria yang diketahuinya bernama Remus itu tak banyak berbicara kepadanya saat pertemuan yang terjadi di antara mereka beberapa kali. Grace selalu bergidik ngeri saat tatapan mata mereka bertemu, seolah Remus memiliki aura yang menakutkan, bahkan di saat pria tua itu hanya duduk santai dengan segelas alkohol yang selalu menemaninya. Pria itu terlihat berwibawa namun kelam di saat yang bersamaan. Meskipun samar, Grace selalu menyadari bahwa Remus menatapnya dengan pandangan yang sulit di artikan, seolah mengatakan bahwa pria itu mengetahui semuanya.

Interaksi yang terjadi di antara Kale dan ayahnya terlihat berbeda. Grace menyadari bahwa Remus tak benar-benar mendengarkan apa yang dikatakan Kale, bahkan pria itu tak pernah menjawab dengan kalimat yang panjang. Hanya dengan anggukan, atau bahkan hanya sekedar kata-kata yang singkat. Grace tak pernah melihat bagaimana interaksi antara Ken dengan ayahnya itu, namun dari apa yang Grace ketahui, pria paruh baya itu terlihat lebih memihak kepada Ken dibanding dengan Kale.

"Kale.."

Grace mengintrupsi obrolan mereka, sebenarnya berinteraksi dengan Remus sangat dihindarinya, aura berbahaya pria itu membuatnya ketakutan dan tak nyaman, namun Grace terpaksa menghampiri Kale saat tatapannya tak sengaja bertemu dengan Remus. Pria tua itu terlihat mengecek ponsel ditangannya, sesekali menatapnya kemudian bergantian melihat ponsel ditangannya, seolah sedang memastikan sesuatu.

"Grace.. aku mencarimu sejak tadi." Kale memberikan kecupan singkat dipelipisnya, merangkulkan tangannya ke pinggang Grace dengan posesif, tak memperdulikan bahwa Remus terus memperhatikan tingkah yang Kale lakukan kepadanya.

"Aku bersama dengan Joy tadi." jawab Grace asal dan terdengar kikuk, terlebih saat Remus menatapnya dengan alis yang tertaut, kemudian tersenyum miring ke arahnya.

"Kucing kecil akan selalu lebih jinak kepada tuan mereka yang sesungguhnya."

Perhatian Grace dan Kale teralih, menatap Remus yang terlihat santai dan terus menghisap tembakau yang tengah diapit di sela jarinya. Tak memperdulikan bahwa ucapan nya barusan mengundang tanya dari keduanya.

Namun saat melihat Remus yang tak berniat untuk kembali melanjukan perkataan nya, justru pria tua itu memilih berpamitan kepada mereka. Seolah kepergian nya dari tempat ini adalah hal yang sudah di nantikan nya sejak tadi.

***

My Friend's Husband Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang