Tidak ada hal yang ingin di hindari oleh Grace selain bertemu dengan orang-orang yang memiliki kekuasaan besar. Mereka yang memiliki kekuatan lebih akan selalu bertingkah sesuka hati, tanpa perlu memikirkan perasaan seseorang yang bisa saja tersakiti karenanya. Mulai dari memaksa kehendak, mengatur segalanya, bahkan menindas semua kalangan yang lebih rendah dari mereka. Dari semua hal yang ingin di hindari Grace, justru kini dirinya yang terjebak dalam lingkaran kegelapan yang di ciptakan oleh keluarga kelam ini. Sayangnya Grace telah terjebur sangat dalam, berharap untuk menyelam dan kembali menepi di daratan adalah hal yang sangat mustahil, kecuali keajaiban itu memang nyata.
Grace hanya diam dan menerima dengan pasrah saat Lily sama sekali tidak mau menatapnya, Lily terlihat sangat tidak sudi bahkan hanya untuk sekedar meliriknya. Grace mengira bahwa reaksi yang diberikan Lily mungkin saja lebih ekstrim, bukannya justru terlalu tenang begini, Grace sangat merasa gelisah di tempat duduknya, terus memandang ke arah Lily yang hanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong, tak mau melihatnya, tak mau juga mendengarnya.
Kecemasan terus dirasakannya, sudah cukup lama mereka bertiga duduk dalam keheningan, tanpa ada yang berusaha membuka percakapan. Sebenarnya Grace beberapa kali mencoba untuk memulai, namun Ken melarangnya, begitu juga dengan Lily yang terlihat sangat muak jika mendengar suaranya sedikit saja.
"Lily, kau bisa menamparku atau melakukan apapun, luapkan semuanya.." merasa bahwa keheningan ini membuatnya semakin menderita, Grace kembali mencoba untuk membuka obrolan, yang tentu saja tidak ditanggapi baik oleh semua orang. "Lily.." Grace kembali beranjak, mencoba untuk mendekat ke arah Lily, namun dengan gerakan anggun tanpa dipenuhi emosi, Lily bergerak ke arah yang berlawanan, mengisyaratkan tanpa kata bahwa wanita itu tidak nyaman jika Grace memaksa kembali mendekat.
"Diam. Dia akan bicara jika dia sudah selesai dengan fikirannya."
Ken menarik tangan Grace dengan pelan, mencegah Grace yang bersiap akan berlutut dan memohon di hadapan Lily.
Grace kembali ke posisinya, mengharap cemas karena setelah beberapa saat akhirnya Lily perlahan menatap ke arah mereka, tatapan itu masih kosong, tanpa emosi ataupun tatapan penuh hardik. Tidak ada yang bisa menebak bagaimana perasaan Lily saat ini, kecuali tentu saja rasa terluka yang selalu wanita itu berikan sesekali.
"Aku.. kecewa.." ucap Lily pelan dan menatap kearah Grace.
Mata Grace berkaca-kaca, mengangguk seolah setuju dengan perkataan Lily yang tentu saja kecewa olehnya, "Kau ingin menjambak ku? mendorongku? menendangku? lakukan apapun, Lily." suara Grace bergetar, rasa bersalahnya kian menjadi.
"Stop it, Grace." suara Ken kembali menyelanya.
Lily hanya menggeleng, "Tidak sepenuhnya salah mu, tapi kalian berdua."
"Maafkan aku, aku benar-benar salah."
Lily kembali terdiam, seolah semua hal yang terjadi begitu berat, perkataannya tertumpuk tanpa bisa di tumpahkan. Semua yang terjadi masih seperti mimpi, dan semua keluh kesah yang ada tampak kelu tanpa bisa di hilangkan.
"Yes, it has happened." air mata seketika bergulir dari mata Lily tanpa bisa ditahan lagi, bergulir di antara pipi wanita itu yang terlihat lebih pucat. "Aku tidak akan menghabiskan energi ku untuk menampar atau memaki kalian untuk satu hal yang sudah terjadi, benar-benar sudah terjadi." Lily menghembuskan nafas pelan, terlihat berat saat mengatakan akhir kalimatnya, memastikan bahwa saat ini, dan semua yang terjadi benar-benar nyata.
"I'm sorry, it hurts you. Tapi aku tidak menyesal." Ken mengatakan nya dengan datar, tak terlihat sama sekali berusaha untuk menenangkan Lily, justru semakin menyakiti Lily dengan ucapannya barusan.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Friend's Husband
RomanceMenjatuhkan pilihan kepada seseorang yang salah, lalu memilih melanjutkan dan menjalani nya. Cinta yang dipaksakan begitu nyata sehingga membuat Grace harus menyakiti perasaan wanita lain nya. Grace dan Ken memulai semuanya dengan sadar, lalu merek...
