29. Bad Romance

1.4K 21 2
                                        



Cahaya matahari pagi menembus tirai putih bersih yang menjadi satu-satunya penghalang di sebuah kamar yang kini telah terbuka sepenuhnya. Pintu kaca berukuran besar itu telah terbuka lebar, menampakan sinar mentari pagi yang begitu cerah tanpa malu-malu terus memancarkan dengan pantulan sinarnya yang sedikit menyilaukan.

Grace menggeliat dan merasa terganggu dengan cahaya yang menerpa wajahnya, mengusiknya dari kedamaian tidur lelapnya yang terasa sangat singkat. Matanya mengerjap samar dan berusaha melirik jam yang berada di atas nakas, di sela kesadarannya yang belum pulih sepenuhnya. Kedua tangan Grace mengusap wajahnya dengan kasar, dan merasa kesal sekaligus menahan setiap lontaran kasar yang ingin di ucapkannya, karena jam masih menunjukan pukul tujuh pagi, tapi pintu kamarnya yang menghubungkan ke arah balkon luas tempat cahaya matahari bersinar itu telah di buka tanpa aba-aba, membuat tidurnya tentu saja tak nyenyak.

Dalam kependiamannya, Grace mendengus kesal dan setelahnya bergerak untuk bersandar di kepala ranjang, tak lama matanya menangkap sosok yang ada di sudut ruangan, Grace melemparkan tatapan kesal yang tak di tutupi kepada seseorang yang hanya menatapnya datar dari tempatnya duduk.

"Apa yang kau lakukan? aku baru saja tidur." dengus Grace kesal dan bersedekap dari atas ranjang.

Ken menatapnya dengan pandangan datar, seketika Grace mengernyit heran karena pria itu terlihat kesal juga kepadanya.

"Kau sudah tidur semalaman penuh. Kau bahkan menolak ku tadi malam."

Grace menatap Ken yang duduk di sudut ruangan, pria itu terlihat menahan amarah meskipun jawaban yang diberikan pria itu menggunakan bahasa yang amat lembut, berbanding terbalik dengan ekspresinya yang lambat laun terlihat jelas jika benar-benar kesal kepadanya.

"Kau datang tengah malam saat aku sudah tidur, itu bukan salahku." Grace kembali merebahkan tubuhnya. Kembali teringat saat tadi malam Ken telah tiba dini hari dan langsung mengajaknya bercinta saat pria itu baru saja menampakan batang hidungnya. Dengan kesadaran penuh Grace menolaknya dan memilih untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu. Dirinya sangat jarang bisa merasakan tidur nyenyak dalam waktu yang lama, dan wakfu untuk tidur lebih terasa mengasyikan dibanding menghadapi Ken dengan segala bujuk rayu sialannya.

"Bersiap-siaplah. Ada yang harus kita bicarakan."

Grace yang semula berniat untuk memejamkan matanya kembali, kini telah membuka kedua matanya dan melirik kearah Ken yang sedang menyesap wine ditangannya dengan perlahan. Tanpa sadar Grace menelan ludah, pesona Ken jelas tidak bisa di remehkan, bahkan hanya dengan meminum wine saja pria itu terlihat benar-benar menggoda. Ken menyesap wine itu dengan perlahan, cara pria itu memainkan gelas yang ada di sebelah tangannya terlihat sangat memabukan, membuat perhatian Grace seketika teralih dan sadar sepenuhnya dari kantuk yang menderanya.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Grace pelan.  Berusaha untuk memfokuskan pada topik pembicaraan, bukan kepada Ken yang terlihat sangat panas dan seakan mengundangnya untuk bermain-main di atas pria itu di sudut ruangan.

Tak ada jawaban dari Ken, pria itu hanya menyesap wine ditangannya dan terus memperhatikannya. Grace melihat Ken yang telah berpakaian santai namun rapi dengan rambut basah yang dibiarkan acak-acakan. Membuat penampilan pria itu terlihat seperti pria lajang sesungguhnya.

"Aku tidak akan mengatakan disini. Bersiap-siaplah karena aku akan menunggu mu hanya selama satu jam. Tidak lebih."

Setelah menjawabnya dengan nada datar. Ken beranjak berdiri dari kursinya, bergerak menghampiri Grace yang masih berbaring dengan selimut yang menutupi tubuhnya sampai ke leher. Grace terus memperhatikan Ken yang semakin mendekat ke arahnya, kemudian pria itu memberikan kecupan di dahi dan bibirnya. Grace memilih memejamkan mata saat Ken bermain dengan cukup lama di bibirnya dan baru berhenti setelah mereka kehabisan nafas.

My Friend's Husband Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang