Grace tengah menyelesaikan mandinya dengan memakai kimono yang menutupi tubuh telanjangnya, rambut panjang nya tergerai basah dan secepat mungkin dirinya menuju meja di dalam hotel yang berada di sisi pojok kanan ruangan, bergerak duduk di atas kursi di depan meja itu dan mulai sibuk untuk mengeringkan rambutnya. Alis Grace mengernyit saat tak menemukan Niva dimana pun semenjak dirinya terbangun pada pukul tujuh pagi tadi. Wanita itu juga tidak meninggalkan pesan apapun yang menjadi petunjuk kepada Grace dengan keberadaan Niva yang entah berada dimana.
Suara ketukan pintu membuat Grace terhenti dari kegiatan nya, dan tersenyum senang dan berfikir bahwa mungkin saja itu Niva yang datang. Grace melangkah ke arah pintu kamar dan membukanya dengan semangat, dan seketika itu juga tubuhnya membeku dan menatap tak percaya siapa yang berdiri di ambang pintu dan siapa yang baru saja mengetuk pintu kamarnya itu.
Bukan Niva, tapi.. Ken.
Ken menelusuri penampilan Grace dengan lekat, seolah tak melewatkan seinci pun tubuh seksi Grace yang hanya terbalut kain tipis yang Ken sangat begitu hapal bahwa Grace tidak memakai kain apapun lagi di balik jubah mandinya. Seketika Grace tercekat saat pandangan mereka bertemu, Ken menatapnya dalam dan tajam, seketika itu juga Grace mundur untuk memberikan Ken ruang agar bisa masuk ke dalam saat Ken bergerak maju terus dan semakin menatapnya dengan menusuk tanpa menghentikan langkahnya.
Grace hanya terdiam dan membalas tatapan Ken yang sangat dalam dan menggelap saat pria itu perlahan-lahan memperhatikan tubuhnya dari atas kebawah, tatapan nya tak lepas di beberapa bagian tubuh Grace yang memang tempat yang paling sering di sentuh oleh pria itu. Ken menutup pintu kamar itu dengan menggunakan kaki nya sehingga menimbulkan bunyi keras yang memenuhi ruangan senyap itu. Grace bergidik ngeri merasakan bahwa tatapan Ken saat ini seperti menelanjanginya
"Kau mengatakan akan pulang dua hari lagi."
Langkah Ken terhenti saat Grace memecah keheningan di antara mereka, lalu pria itu membuka kedua tangan nya ke arah Grace, membuat Grace yang tau apa maksud Ken bergerak mendekat dan masuk ke dalam pelukan Ken yang sangat hangat. Ken mengusap punggung nya di dalam pelukan mereka, mengecup puncak kepalanya berkali-kali sebelum mengalihkan kecupan nya di sisi kanan kupingnya. "Aku merindukan mu."
Setelah mengucapkan kalimat penuh kerinduan nya, Ken mendongakan dagu Grace untuk menatap ke arah Grace yang tersenyum merespon nya, kemudian Ken menundukan wajahnya ke arah Grace dan langsung memberikan ciuman panas kerinduan kepada Grace yang langsung disambut dengan baik oleh wanita itu. Grace melingkarkan tangan nya di leher Ken dan memberi ruang kepada Ken untuk mengeksplore bibir dan lidahnya sesukanya.
"Kau sangat manis.. sayang."
Ken melepaskan tautan bibir mereka, dan berbisik lirih di depan bibir Grace yang kini semakin merekah dan basah akibat lumatan panasnya, kembali diberikan nya kecupan kepada bibir yang membuatnya kecanduan itu dengan kecupan ringan berkali-kali. "Aku tidak bisa jika hanya mencium mu."
Grace tersenyum simpul, dengan tatapan nya yang menggoda, Grace mengunci tatapan Ken dan sedikit menjauhkan tubuh mereka yang sebelum nya berpelukan. Ken mengawasi setiap pergerakan Grace, dan seketika matanya menggelap penuh nafsu dan gairah saat Grace bergerak membuka tali kimono yang merupakan satu-satunya kain yang menutupi tubuh nya dengan gerakan sensual dan perlahan-lahan, seolah mengundang Ken untuk menikmatinya dan memanjakan nya. Pandangan Ken mengikuti kain halus tipis yang telah teronggok di bawah kaki Grace, kemudian pandangan nya menelusuri tubuh Grace dari ujung kaki hingga kepala dengan membara. Lalu saat tatapan mata mereka beradu, Grace tersenyum penuh kemenangan saat melihat Ken yang melihat nya seolah dirinya adalah mangsa dari binatang buas yang tengah kelaparan dan mencari makan.
Grace membalikan tubuh dan melangkah dengan menggoda secara sengaja untuk membuat Ken semakin terbakar gairah, tapi baru dua langkah dirinya berjalan dan Ken sudah menangkapnya, menggendongnya dan membawa tubuh Grace ke tengah ranjang yang langsung di susul oleh Ken di atasnya dan bergerak menindihnya. Kini Grace kembali berada dibawah kuasa pria itu, menyerahkan dirinya untuk dinikmati habis-habisan oleh Ken, menerima pria itu dengan tangan terbuka dan melayani nya dengan senang hati.
***
Niva, Hans, dan Lois tengah menikmati makan siang mereka di pinggir kolam hotel yang cukup ramai di weekend kali ini. Mereka makan dengan tenang dan sesekali bercanda riang seperti biasa yang sering mereka lakukan. Keadaan kolam renang itu cukup ramai, sehingga membatalkan niat mereka yang awalnya ingin berenang bersama.
Perhatian mereka teralih, saat melihat Grace datang seorang diri dan bergerak menghampiri mereka untuk bergabung.
"Ku kira kau tidak akan menyusul."
Hans menyelipkan sedikit nada godaan nya kepada Grace yang hanya di respon dengan senyum terpaksa oleh wanita itu.
"Apa tidak masalah jika kau bergabung bersama kami?" tanya Niva sedikit cemas.
Grace menggeleng. "Kalian tidak perlu khawatir, dia tidak akan memarahiku hanya karena aku bergabung bersama kalian disini."
"Kau tidak mengajaknya bergabung?"
Lois menanyakan pertanyaan yang sepertinya mustahil terjadi, tapi menurut Lois tidak ada salahnya untuk bertanya, dan mereka tentu saja tau tentang kehadiran Ken secara tiba-tiba di hotel ini, mereka jelas tidak bisa berbuat apa-apa atau melarang Ken untuk menemui Grace, terlebih lagi Ken jelas memiliki koneksi dan mereka tidak perlu mempertanyakan bagaimana bisa pria itu tau keberadaan mereka disini bahkan disaat Grace tidak memberitau pria itu.
"Ken sedang mandi saat aku pergi, dan dia sepertinya tidak tertarik untuk bergabung."
Hans mengangguk dan terkekeh. "Tentu saja Ken tidak akan mau bergabung dengan kami, secara jelas karena level kami berbeda dengan nya."
"Tidak seperti itu, dia hanya merasa canggung dan aku berfikir daripada dia akan mengacaukan liburan kita, lebih baik dia tidak usah di ajak."
Niva tersenyum penuh arti menatap Grace dan berniat menggodanya dengan sengaja.
"Lalu, berapa ronde yang kalian habiskan seharian ini?"
"Sepertinya tidak terhitung." Lois mengedipkan mata menggoda ke arah Grace dan membuat Grace merona seketika karena godaan mereka yang tentu saja membuat dirinya salah tingkah. Grace tidak tau bagaimana mungkin mereka bisa tau, atau mungkin itu sudah terlihat jelas dengan kondisi tubuhnya yang penuh bercak merah karena ulah bibir Ken yang mengecup semua permukaan leher nya yang sensitif, sehingga menimbulkan kemerahan yang cukup terlihat jelas karena Grace juga tidak berusaha untuk menutupinya.
"Apakah kalian memakai pengaman?" tanya Hans yang seketika saja membuat Grace sempat terdiam. seketika teringat bahwa besok adalah jadwalnya untuk melakukan suntik kontrasepsi dengan dokter pribadi Ken yang telah dijadwalkan kepadanya untuk melakukan suntik setiap dua bulan sekali.
Grace merutuki dirinya dan hampir saja lupa untuk melakukan hal sepenting itu. Lalu Grace hanya menggeleng menanggapi Hans tanpa menjelaskan lebih lanjut tentang hal yang seharusnya menjadi privasinya tersebut.
"Kau sangat beruntung. Ken benar-benar terlihat sangat tampan dan juga tentunya sangat kaya, kau bisa menjadi kaya mendadak jika menikah dengan nya."
Seolah merasa perkataan Niva adalah lelucon, Grace hanya tersenyum kecut mendengar ucapan Niva yang seolah sangat mustahil juga baginya. Beruntung? Grace tidak pernah merasa beruntung karena Ken ada di hidupnya. Mungkin jika dirinya hanya satu-satunya, kalimat Niva sangat nyata dan tak di ragukan. Namun yang Grace rasakan justru kebalikan nya, bukan nya beruntung justru malah membawanya ke dalam banyak masalah. Seandainya mereka semua tau bahwa posisi Grace hanyalah selingkuhan pria itu, akan kah mereka tetap mengatakan kepada Grace bahwa seharusnya Grace beruntung karena berhasil mendapatkan Ken?
***
KAMU SEDANG MEMBACA
My Friend's Husband
RomanceMenjatuhkan pilihan kepada seseorang yang salah, lalu memilih melanjutkan dan menjalani nya. Cinta yang dipaksakan begitu nyata sehingga membuat Grace harus menyakiti perasaan wanita lain nya. Grace dan Ken memulai semuanya dengan sadar, lalu merek...
