Chapter 34 - Aku Mau Masuk Islam

151 6 2
                                        

Satu bulan sudah berlalu sejak sejak Zayna mendapati Gavriel mencari buku tentang islam. Dan selama itu pula, setiap sore, selepas kerja, Gavriel selalu menyempatkan diri ke rumah Ustadz Damar. Belajar salat, kadang hanya duduk mendengar anak-anak mengaji.

Hari ini, di taman kecil depan rumah Zayna, mereka duduk berdua di bangku kayu. Alvaro sedang bermain gelembung sabun di halaman, tertawa kecil setiap kali gelembung itu pecah di udara. Suara tawa anak itu membuat sore terasa hidup. Tapi di dada Gavriel, ada sesuatu yang bergetar gugup, tapi juga mantap.

"Na," panggilnya akhirnya, pelan.

"Hm?" Zayna menoleh. Sinar sore memantul di mata cokelatnya yang teduh.

"Aku udah mikir ini lama banget," katanya lirih. "Dan aku nggak mau nunda lagi."

Zayna menatapnya dalam. "Ada apa?"

Gavriel menatap ujung sepatunya sebentar, lalu berkata, "Aku mau masuk Islam."

Kalimat itu keluar seperti napas panjang yang akhirnya berhasil dilepaskan setelah lama ditahan. Hening mengisi udara di antara mereka. Bahkan tawa Alvaro pun seolah jauh.

Zayna terdiam, tak ada kata keluar, tapi ia tahu, Gavriel tidak sedang main-main. Sorot mata itu terlalu tenang, terlalu yakin.

"Gavriel, kamu yakin?" ucapnya perlahan.

"Aku udah nyari jawaban ke mana-mana, Na. Selama aku belajar aku terus merasa nyaman, dan itu sama sekali bukan nyaman sejenak namun nyaman yang terasa seperti arah pulang yang sesungguhnya."

Zayna menghela napas, tangannya mencengkeram ujung rok. "Aku takut kamu terburu-buru."

"Aku nggak buru-buru," potong Gavriel lembut. "Dua bulan ini aku belajar pelan-pelan. Aku tahu artinya syahadat, aku tahu tanggung jawabnya. Aku tahu ini bukan tentang status, tapi keyakinan."

Zayna menunduk. Suaranya bergetar ketika berkata, "Kamu tahu konsekuensinya, kan? Keluarga kamu nggak akan terima. Mereka mungkin bakal benci kamu."

Gavriel tersenyum tipis, pahit tapi tenang. "Aku udah lama nggak punya rumah di sana, Na. Sekarang aku cuma pengen punya tempat untuk pulang ke tempat yang bener-bener damai."

Zayna memejamkan mata, menahan air mata yang tiba-tiba memanas.
"Kalau kamu udah yakin, aku nggak bisa cegah."

Gavriel mengangkat wajahnya, menatap Zayna dengan sorot lembut. "Aku bukan cuma mau masuk Islam, Na. Aku juga mau nikahin kamu."

Zayna membeku. "Apa?"

"Di hari aku ngucap syahadat, aku mau langsung akad. Di hari yang sama."
Suaranya pelan tapi mantap. "Bukan karena buru-buru. Tapi karena aku nggak mau nunggu lagi untuk nyuciin hubungan kita di mata Allah."

Zayna menatapnya lama. Dadanya sesak, pikirannya berputar cepat antara cinta dan ketakutan. Ia tahu keinginan Gavriel tulus. Tapi di belakang itu, ada bayangan dua keluarga yang pasti akan meledak ketika tahu. Ayahnya baru pulih dari koma. Arumi dan Aktar masih sensitif soal masa lalu. Dan keluarga Gavriel. Ah, itu lebih rumit dari apa pun.

"Kasih aku waktu buat mikir," ucapnya akhirnya, lirih. "Aku nggak bilang nggak. Tapi aku takut, Riel. Takut kalau ini malah jadi awal dari luka baru."

Gavriel mengangguk. "Aku ngerti. Aku nggak maksa. Aku cuma mau kamu tahu dulu."

Ia berdiri pelan, menatap Zayna dengan senyum yang entah kenapa terasa menenangkan. "Aku bakal ngomong ke keluargaku tentang ini."

••••

Matahari menyorot hangat di langit sore yang cerah, tapi tidak ada yang hangat di hati Gavriel saat itu. Mobil hitam yang dikendarainya berhenti tepat di depan pagar rumah besar bergaya kolonial, rumah yang tak pernah ingin ia datangi lagi. Namun hari ini, dia datang bukan untuk bernostalgia, bukan pula untuk berdamai. Tapi untuk menutup pintu yang sudah lama dibiarkannya terbuka, sambil menahan luka yang tak pernah diberi nama.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 27 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Love Different Religions (On Going)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang