Thalia.
Tau ah gondok aku sama Najla. Sejak kapan coba diantara kami bertiga ada cerita murahan begitu?
Teman ya teman, gebetan ya gebetan, pacar ya pacar, musuh ya musuh. Nggak lucu abis si Najla.
Tau yang lebih nggak lucu lagi apa? Walaupun aku tau nggak akan ada cerita picisan begitu antara kita bertiga, tapi tetap aja sejak tadi aku pulang, sampai sekarang jam dua belas malam, aku nggak bisa tidur.
Yang aku lakukan sejak tadi cuma guling-guling bodoh di tempat tidur, mikirin kata-kata Najla tadi sore. Enak banget memang tuh anak kalo ngomong, suka minta ditabok.
Kalau Najla minta ditabok, berarti si Dhanu minta dibunuh. Tau nggak apa yang aku temukan di path waktu iseng iseng on tadi? Dia sama si Nada update path. Dua kali! Catat ya, dua kali.
Pertama, watching, oke yang ini aku terima mereka emang nonton dan itu di update sebelum aku nelfonin dia. Tapi yang kedua? Mereka makan di salah satu kafe es krim gitu, yang jauh tempatnya jauh banget, yang udah nggak tau berapa lama aku idam-idamkan. Tega memang si Dhanu, itu di update setelah aku sampai rumah.
Oh kalian nanya dia langsung telfon apa enggak setelah aktifin hp? Big no! Dia baru telfon jam 9 malam tadi, jadi rasain aja sepuluh panggilan dari dia aku kacangin.
"Tha belom tidur?" kak Tio masuk ke dalam kamarku, agak-agaknya aku terlalu berisik guling-guling, sampai abangku ini bisa tertarik buat ngecek kesini.
"Enggak kak, nggak bisa tidur." Aku bangkit dari posisiku, agar dapat menemukan wajah kak Tio.
"Tidur kamu, udah malem." Kak Tio baru ingin menutup pintu, ketika kalimatku menahan gerakannya.
"Kakak belom tidur juga?" Kak Tio menggeleng sekilas sebelum memberikan alasannya.
"Masih ada tugas." Gila memang abangku ini, jam segini masih ngerjain tugas, lah aku sih ogah ya begadang buat ngerjain tugas. Buat nonton aku masih rela, ini ngerjain tugas.
Beda banget memang aku ama abangku ini, sekarang dia lagi sibuk ngejar S2nya sambil kerja di firma arsitektur punya papa.
Dia juga sudah tunangan, tunangannya tetangga depan rumah kami dulu, sekarang lagi sibuk kerja jadi pengacara publik.
Rencananya mereka mau nikah begitu rumah yang abangku bangun jadi. Mungkin sekitar pertengahan tahun depan.
Hidup abangku benar-benar rapih dan terencana, hampir semuanya berjalan sesuai planning.
Apa yang dia lakukan saat ini udah dia rencanakan baik-baik dari jauh-jauh hari, dari zaman dia masih kecil. SMP favorite, SMA favorite, universitas favorite, semua dia lakuin dengan total.
Lah aku? Boro-boro yang favorite, dapat negeri aja syukur. Aku sampai sekarang bahkan belom tau mau lanjut kuliah atau kerja aja.
"Kak?" Panggil ku lagi, membuat kak Tio akhirnya beranjak dari pintu.
"Hmmm?" Kak Tio bergumam satu suku kata, sedangkan aku memikirkan pilihan kata yang tepat untuk mengajukan pertanyaan
"Kakak ama kak Fira kok bisa jadian?" aku menautkan jari-jari ku sambil menatap kak Tio, menunggu jawaban darinya.
"Karena kita saling suka, kamu kenapa nanyain itu?" kak Tio menaikkan sebelah alisnya, lalu beringsut duduk di atas kasurku.
"Kok bisa? Kan kalian temen dari kecil?"
"Loh, emang kenapa kalo temen dari kecil?" mendengar jawaban kak Tio yang selalu berputar-putar, membuat ku menatap kak Tio gemas.
"Ya, 'kan nggak enak aja gitu kak," ujar ku kaku, sedangkan kak Tio menatapku semakin bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Crush
Ficção Adolescente#26 in teenfiction (19 April 2017) Jika ada tempat, dimana memiliki terasa begitu mustahil, dan meninggalkan rasanya terlalu sulit, maka Dhanu dan Thalia berdiri di sana. Begitulah keduanya, yang satu berlari, yang satu hanya diam, yang satu mengeja...
