Extra Chapter; Para Superhero Cilik

55K 2.2K 143
                                        

Cericit burung gereja terdengar samar diantara damainya pagi. Melalui celah tirai, matahari menembus jendela kamarnya, membuat matanya yang baru terbuka, perlahan kembali terpejam. Dengan mata masih terpejam, Dhanu meraba kasur kosong di sampingnya. Ketiadaan Nada di sisinya membuat Dhanu membuka kelopak matanya dengan paksa.

Senyum Dhanu terkembang ketika membayangkan keberadaan Nada saat ini. Istrinya saat ini mungkin sedang sibuk menyiapkan sarapan di dapur atau menyuapi anak-anak mereka di ruang makan.

Yeah, akhirnya Dhanu berhasil menikahi Nada setahun setelah pernikahan Najla.
Bukan sesuatu yang mudah memang, Nada berkali-kali menolaknya, belum lagi jarak Bandung-Jakarta yang membuat Dhanu harus sabar-sabar menahan rindu. Dhanu nyaris saja menyerah kalau tidak ingat janjinya di Bandara dan perjuangannya untuk setia selama bertahun-tahun di Jerman.

Senyum Dhanu semakin melebar saat mendengar suara tangisan anak perempuan. Itu pasti tuan putri kecilnya, Hanny. Anak kedua dia dan Nada.

Dhanu baru akan kembali menutup mata ketika tersadar sesuatu. Suara tangisan Hanny tidak seperti itu. Suara tangisan Hanny harusnya masih berupa rengekan bayi.

Kan umurnya baru delapan bulan!

Dhanu membuka matanya lagi, lalu menajamkan indra pendengarannya. Bukan hanya suara anak perempuan itu yang bukan milik anaknya, namun juga ada teriakan anak laki-laki yang memekakan telinga.

“Aku Farelman menumpas kejahatan! Kamu Gamora akan ku bunuh ciaaat!” mendengar kata Farelman perasaannya semakin tidak enak.

Dengan cepat disingkapnya selimut, lalu langsung berlari keluar.

Betapa mata Dhanu langsung melotot melihat pemandangan di hadapannya. Ruang tamunya sudah tidak terselamatkan. Mobil dan robot betebaran dimana-mana, begitupun dengan remahan kue dan cokelat yang mengundang semut-semut kecil. Televisi berlayar datar dengan volume maksimal menayangkan film super hero jadul, Ultraman.

Sementara itu, seorang anak lelaki berumur 8 tahun berdiri dengan gagah perkasa di atas adik ipanya, Jerry—suaminya Diandra. Farel yang tengah berperan sebagai super hero tersebut mengacungkan pedangnya, belagak seperti hendak membunuh dua anak lainnya.

Salah satu dari dua anak tersebut menyelipkan sapu di antara kedua pahanya, seolah ia siap terbang melawan Farel yang berkuasa. Itu Faris, anak kedua Thalia yang baru berumur 5 tahun. Satu-satunya yang tampak naif dan tidak berdaya hanyalah Haikal, anak lelaki berumur 4 tahun itu hanya menggenggam pistol di tangannya, tanpa tunggangan apapun.

“Farel, Faris, Haikal!” Dhanu berteriak. “Ini kenapa rumahnya kayak kapal pecah?!”

Mendengar teriakkan Dhanu, ketiga super hero salah gaul itu berhenti sejenak. Dhanu memijat keningnya, tak habis pikir dengan ulah mereka. Namun hanya sesaat, sebelum gempita kembali meramaikan kembali ruangan tersebut.

“Ayah!” Haikal berhambur ke arah Dhanu, lalu menyuruhnya untuk menunduk menyerupai kuda. “Jadi kuda Ikal dong, masa kakak Ais punya sapu terbang, kakak Ael naik kuda Om Jely, Ikal nggak punya?”
Haikal, anak pertamanya menarik-narik celana Dhanu membuatnya kewalahan.

Dhanu menggelengkan kepalanya makin pening. Sejak kapan super hero naik sapu terbang dan kuda-kudaan? Dan satu lagi, sejak kapan juga Gamora jadi musuhnya Superman?!

“Ih, Haikal!” Farel berseru. “Kan udah aku bilang, Om Jerry bukannya kuda tapi dinosaurus, masa Superman naik kuda?! Nggak seru, tau!”

Mata Dhanu beralih pada Jerry yang memohon untuk diselamatkan. Namun, belum sempat memberikan pertolongan, Faris sudah terlanjur berseru.

CrushTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang