Nada.
Aku menghela napas ketika membaca chat yang kak Dhanu kirimkan beberapa detik yang lalu.
Dhanu Ishal: Maaf ya Nad, gue telat, jam 9 gue ke rumah lo.
Biasanya, pesan seperti ini bukan berarti penundaan melainkan pembatalan. Terlebih ketika aku melihat update path milik kak Thalia. Setengah jam yang lalu, mereka sedang lari pagi di jogging track dekat rumah kak Thalia dan itu artinya saat ini mereka masih bersama, melakukan entah apa itu.
Aku tersenyum miris melihat pantulan diriku pada cermin, menatap pada satu fokus, kalung berbandul bintang yang kemarin kak Dhanu pakaikan.
Aku menyentuhnya ringkih, "apa ini benar buat gue, kak?"
•••
Jarum jam sudah menunjukan angka 12 ketika kak Dhanu muncul di depan rumahku. Aku hanya menyambutnya dengan kaus kebesaran dan celana pendek, karena yakin rencana kami akan batal.
"Sori, Nad." Itu kalimat pertama yang kak Dhanu ucapkan ketika aku membuka kan pintu.
"Nggak masalah," ujar ku seraya tersenyum, "gue ganti baju dulu ya?"
Kak Dhanu mengangguk.
Karena ini sudah lewat tengah hari, kami setuju hanya akan jalan-jalan di kawasan Ancol.
Bukan ke pantai, kak Dhanu mengajakku ke Dufan terlebih dahulu dan tornado lah yang menjadi pilihan pertama kami. Untungnya ini bukan weekend jadi antriannya nggak sampai bikin kami lumutan. Setelah main di tornado, kora-kora, rumah cermin, istana boneka, kami naik histeria.
"Kak, tornado lagi, yuk!" kata ku setengah berteriak, karena kami sedang berada di dekat wahana histeria.
"Gila, nggak mabok, Nad? Kita kan abis naik histeria!" Aku menggeleng bersemangat, setiap kali ke dufan setidaknya aku memang naik tornado dua kali.
"Atau lo ya yang mabok?" tanyaku yang langsung di jawab gelengan oleh kak Dhanu.
"Enggaklah!" serunya keki.
Ketika sedang memasang sabuk pengaman, aku mendengar kak Dhanu bergumam, meski di tujukan padaku, tapi suara itu seperti terdengar seperti berjuta-juta meter jauhnya.
"Untung elo Nad, kalo si Thalia gue ajak naik ginian dua kali bisa dirajam gue." Kak Dhanu terkekeh, sedangkan aku hanya tersenyum kecil, tidak ingin merusak moment.
Biar bagaimana, kak Dhanu milikku sekarang. Atau aku hanya membohongi diri sendiri?
Puas dengan berbagai wahana, kami pun melanjutkan date kami hari ini sesuai rencana awal kak Dhanu, mengajak ku ke pantai, melihat sunset. Walaupun tidak seindah pantai waktu itu, tapi melihat laut tetap saja membuat ku merasa bebas.
Tanpa sengaja mataku melihat anak kecil yang sedang bermain layangan, sebuah ide langsung terbersit dalam benakku.
"Di sini ada yang jual layangan nggak ya?" tanyaku pada kak Dhanu, ia mengangkat bahunya tak acuh.
"Nggak tau deh, kalau di Monas tuh banyak, kenapa memangnya, Nad?" aku menatap sekeliling, dan benar saja, tidak ada penjual layang-layang di sekitar kami.
"Pinjem aja, yuk! seru ku membuat alis kak Dhanu berkerut.
"Nad, jangan bercanda deh," aku tidak memperdulikan kalimat kak Dhanu dan langsung berlari kecil menghampiri anak kecil tadi.
Awalnya, anak itu menolak untuk meminjamkan atau menjual layangannya padaku, tapi setelah nego yang cukup panjang, akhirnya layangan itu resmi jadi milikku dengan harga dua puluh ribu!
KAMU SEDANG MEMBACA
Crush
Fiksi Remaja#26 in teenfiction (19 April 2017) Jika ada tempat, dimana memiliki terasa begitu mustahil, dan meninggalkan rasanya terlalu sulit, maka Dhanu dan Thalia berdiri di sana. Begitulah keduanya, yang satu berlari, yang satu hanya diam, yang satu mengeja...
