Part 31

354 38 7
                                        

Ada saat yang aneh. Saat Semesta bukan menjadi dirinya sendiri. Semesta kalem tapi bukan berarti komunikasi menjadi hambatannya. Ia tidak pernah punya masalah dengan pergaulan, bicara di depan umum, bertemu orang baru atau memimpin sebuah komunitas. Ia juga tidak pernah punya masalah dengan ibunya. Semesta biasa mengabari kondisinya pada ibunya secara berkala. Basa basi remeh temeh sebagai bentuk bakti yang nggak ada apa-apa nya di banding pengorbanan orangtua Semesta selama ini.

Bisa di bilang ini kali sedikit Semesta bersikap seenaknya. Pergi menginap tanpa pamit. Tapi entah kenapa, Semesta tidak berkeinginan untuk menghubungi siapapun selama ia bersama Amora dari sepanjang malam kemarin hingga hari ini.

Satu-satu nya yang Semesta tunggu adalah pesan singkat dari Amora yang tidak pernah datang kecuali yang terakhir ketika Amora mengabari ia sudah di rumah. Setelah itu, Semesta tenggelam dalam mode bekerja. Tidak peduli apapun kecuali uang. Demi masa depannya.

Demi Amora.

Dan sekarang, Semesta ada disini. Di depan pintu gerbang rumah Amora yang tingginya setinggi rumah Semesta. Pagar putih dingin yang mewah tapi terkesan otoriter, congak, menjaga jarak, individualis. Tembok yang aman dari serangan zombie, kalau memang suatu saat zombie bisa muncul.

Kenangannya berputar kembali, saat ia buru-buru Pulang ke rumah. Bersiap sebisanya. Memakai jas terbagus yang tadinya milik ayah Semesta. Sementara ibu Semesta tampak senewen tapi disaat yang sama juga kehabisan kata-kata memandang anak laki-laki satu-satunya ini.

"Ibu kenal baik dengan mama Amora, tapi ibu nggak kenal sama sekali dengan papanya. Kenapa kamu bisa kenal papi nya Amora? Kenapa kamu tiba-tiba di undang makan malam?" Tanya ibu Semesta, jelas tampak tegang. Entah apa yang ada di pikirannya.

Semesta yang berusaha tetap tenang padahal perutnya melilit, berusaha tersenyum kalem, "Apa masalahnya? Cuma makan malam. Mungkin mau bicara soal bahasa pemrograman? Aplikasi?"

"Ke kamu?" Ibu Semesta memandang anaknya dari atas kebawah, tampak sangsi, "Kalau sekelas perusahaan papi Amora, hal-hal kayak gitu pasti sudah tekan deal dengan provider besar."

"Oke." Semesta mengangguk mengalihkan wajah, ia juga sadar itu.

"Dan kenapa harus menghubungi lewat ibu?"

Ya. Kenapa?

Kenapa tidak langsung menghubungi Semesta?

Hal remeh yang sebenarnya buat apa juga di pikirkan. Tapi sayangnya muncul terus di pikiran. Semesta tau dari cerita ibunya. Dari cerita Amora dan cerita ibu Amora bahwa ayah Amora punya kepribadian nyetrik. Tapi senyetrik apa ? Seaneh apa manusia yang punya tabungan milyaran yang bisa menghasilkan gaji Semesta satu bulan dalam satu kedipan mata?

Semesta berdeham. Kembali melajukan mobilnya memasuki gerbang rumah Amora. Rumah yang denahnya Semesta hafal di luar kepala.

Rumah Amora masih semegah yang Semesta ingat terakhir kali. Tapi kali ini lebih megah lagi karena semua lampu Chandelier nya menyala. Lampu kristal panjang tinggi  seharga mobil mewah itu menjuntai. Menyala terang hangat. Di bawahnya ada beberapa manusia. Berderet-deret dengan pakaian dinner mewah berwarna corak merah berbagai macam. Sepertinya ada dress code yang lupa di kabarkan pada Semesta.

Semesta reflek menunduk menatap bajunya. Penampilannya lebih mirip seperti valet yang mendadak datang untuk menawarkan memarkirkan mobilnya.

Suka tidak suka Semesta turun dari mobilnya sendiri. Tersenyum sopan santun dalam terjangan tatapan mata menilai yang langsung menatapnya dari atas kebawah.

Dan tatapan mata itu tidak membaik dalam setiap langkahnya. Semakin buruk ketika Semesta berjalan memasuki pintu utama, melangkah kaki di lantai marmer putih menuju tempat yang Semesta yakin itu adalah tempat inti pesta perayaan malam ini.

Ini bukan malam keluarga inti yang hangat dan santai seperti yang Semesta dan ibunya tebak. Ini pertemuan makan malam besar. Jamuan. Dengan kolega pembisnis kelas kakap. Dunia yang jauh berbeda dari dunia Semesta.

Langkah kaki sepatu pantofel semesta berhenti di samping vas bunga sangat besar berisi bunga-bunga yang Semesta tidak pernah lihat sebelumnya. Bau bunga itu menyeruak sedikit tajam. Tapi bukan itu yang mengganggu Semesta melainkan pandangan seorang laki-laki yang Semesta pernah lihat lukisannya terpampang di samping grand piano.

Laki-laki itu langsung menatap Semesta. Tersenyum kecil. Dengan ekspresi yang sebetulnya tidak benar-benar tersenyum. Di tangannya ada gelas kristal. Berdiri dengan baju corak merah yang sama seperti semua tamu lain kecuali Semesta.

Semesta maju dengan langkah tegap menuju laki-laki itu dan di setiap langkahnya semakin memahami kenapa dress code malam ini tidak berlaku padanya

"Saya Semesta." Ucapnya sebelum mengangkat tangan dan menjabat tangan laki-laki itu dengan tegas.

GlimpseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang