Ayah Amora mungkin sekarang berumur lebih dari lima puluh lima tahun. Tapi tidak terlihat sama sekali. Bahkan wajah beliau masih sama seperti lukisan wajah yang Semesta lihat puluhan tahun lalu. Inilah privilege kekayaan. Uang bisa membuat kamu muda selamanya kalau kamu tau cara memakainya.
"Semesta. Saya pernah melihat wajahmu beberapa kali tapi saya tidak pernah benar-benar ingat wajahmu." Ujar Ayah Amora, masih dengan tersenyum tapi matanya tidak tersenyum.
"Mungkin wajah saya terlalu pasaran."
"Iya." Ayah Amora tertawa pelan pendek, "Sepertinya iya. Atau saya yang tidak pernah bisa mengingat orang yang tidak benar-benar penting."
Semesta ikut tersenyum singkat pendek, "Kalau begitu, saya harus lebih sering bertemu dengan anda, pak Lohia."
"Jarang ada orang yang memanggil saya pak Lohia."
"Nama keluarga bapak kalau begitu ? Pak Prayogo. Lohia Prayogo?"
"Atau panggil saya ayah Amora? Seperti guru memanggil wali muridnya?"
"Kalau saya masih di anggap guru Amora setelah sekian tahun, seharusnya saya orang penting untuk bapak."
Anehnya tak di sangka Ayah Amora tertawa terbahak-bahak. Sementara matanya mendadak melirik ke arah belakang Semesta. Ke arah tangga berputar. Semesta tanpa sadar ikut menoleh kebelakang. Tak jauh dari belakangnya Semesta bisa melihat Amora berdiri mematung, wajahnya kaget. Sesaat seperti tersambar petir. Tapi Amora tetaplah Amora. Dengan cepat ia menguasai situasi. Dengan langkah anggun, tanpa goyah. Amora mendekati ayahnya dan Semesta.
"Papi." Ucap Amora. Ia menyentuh lengan papinya pelan sebelum melangkahkan langkah kaki terakhir nya, berhenti untuk berdiri di samping Semesta dan berkata pelan, "Kak Semesta..."
Ayah Amora yang tadinya hanya diam dengan raut tak tertebak menonton interaksi Semesta dan Amora, mendadak tertawa kembali. Tawa geli yang sulit di lukiskan. Seakan hanya lewat gerakan kaki dan gesture, ayah Amora bisa membaca seluruh rahasia terkelam Semesta.
"Baik. Oke. Ini menarik." Ujar ayah Amora. Mendadak mengarahkan Semesta untuk duduk di salah satu kursi dalam deretan panjang meja marmer mewah di belakang beliau, sementara satu jarinya menjentik ke Amora memerintah, "Amora, tolong temui kolega papi, pak Yanuar di depan. Sekarang."
Mata Amora membelalak. Sedetik matanya melirik Semesta dan Semesta menjawab lirikan itu dengan anggukan kemudian mengikuti papa Amora.
Semesta belum pernah melihat meja marmer ini sebelumnya. Furnitur asing, tapi masih sama saja esensinya. Untuk membuat siapapun merasa terintimidasi.
Ayah Amora duduk di kursi terujung. Sementara Semesta duduk di kursi terdekat dari kursi terujung itu dalam pola, seakan Semesta terjebak dalam drama kolosal kuno abad pertengahan. Dimana ayah Amora duduk di kursi tuan tanah, raja, penguasa, sementara Semesta hanya rakyat jelata, remahan reginang, yang kepalanya terancam copot di penggal kalau salah-salah menjawab sedikit kata.
Yang membuat semuanya terasa lebih konyol lagi, ayah Amora juga tiba-tiba menuangkan wine ke gelas kristal tepat di depan Semesta. Semesta yang seumur hidup belum pernah menyentuh alkohol mengerutkan kening pada cairan merah mewah itu yang baginya sama sekali tidak menggugah selera.
"Silahkan minum."
"Maaf." Semesta menggeleng pelan kecil, "saya tidak minum alkohol."
"Tidak sopan untuk menolak minuman dari tuan rumah."
"Tapi ini janji saya untuk tidak menyentuh alkohol."
"Norma, adat, moral, agama, sopan santun itu memang hakikat nya sama, tapi itu cuma kerangka penilaian abstrak, bukan penerapan praktis dalam dunia sosial."
Semesta tersenyum kecil sopan sebelum menjawab, "Kualitas moral kadang tergantung pada dunia sosialnya. Tapi bagi saya etika normatif berlaku secara intrinsik. Dan jika di lihat dari kacamata dua sisi tanpa melihat kelas, prinsip manusia memang tidak absolute di setiap tempat tapi prinsip menghargai sebuah janji saya yakin intisarinya sama dimanapun."
Lagi-lagi ayah Amora tertawa geli. Sementara Semesta yang tidak bisa melihat bagian mana lucunya lagi-lagi hanya tersenyum kecil sopan.
"Jadi kamu tidak butuh alkohol untuk berani bicara menghadapi saya?"
"Tidak." Semesta menggeleng.
"Amora juga suka belajar tentang filosofi. Saya yakin itu satu dari sekian hal yang membuat kalian cocok." Ujar ayah Amora tanpa berkurang riangnya, beliau mengusap dagunya pelan "Filosofi dan moral tidak bisa di terapkan mentah dalam perusahaan. Pembisnis harus bisa mengenal lawan dan kawan. Orang tidak penting pastinya harus segera di singkirkan, ya kan?"
"Saya tidak paham bisnis jadi saya tidak bisa menjawab apa-apa."
"Keberanian mu untuk menjawab saya cuma sampai sini?" Ayah Amora menyeringai.
"Saya bekerja di bidang IT."
"Lalu?"
"Kalau bapak bertanya bagaimana caranya berenang pada burung, saya yakin yang salah bukan yang di tanya, tapi pada ego yang bertanya.."
KAMU SEDANG MEMBACA
Glimpse
RomansTrue love is always worth to wait. Warning mature content. This works have general and fundamental questions concerning topics like existence, reason, knowledge, value, mind, and language. Dedicated for people's who like sweet, mature, love story...
