Part 33

171 29 5
                                        

"Kalau memang menurutmu pertanyaan saya hanya menuruti ego. Bagaimana dengan kamu sendiri? Ego apa yang membuat kamu berani sampai sini?"

"Saya hanya memenuhi undangan pak Prayoga yang di sampaikan lewat ibu saya."

"Kamu tau yang saya maksud dengan 'sampai sini' bukan itu."

"Tentang hubungan saya dengan Amora?"

"Ya." Pak Prayoga mengangguk puas, ia jelas orang yang tidak suka basa-basi, "Apa yang membuat kamu berani untuk dekat dengan anak saya?"

Semesta menarik nafas pendek. Lagi-lagi ini semua seperti drama picisan. Tentang perbedaan kelas. Bagi yang tidak pernah mengalami nya, mungkin terdengar seperti drama cina budget rendah. Tapi bagi Semesta ini nyata. Se nyata pak Prayoga yang menyunggingkan senyum saat bertanya, tapi siapa tau, ia sudah menyimpan senjata mematikan yang bisa saja membuat Semesta di blacklist seluruh HRD se-Indonesia.

"Karena saya sayang Amora."

Kening Ayah Amora seketika berkerut, ekspresi geli nya kembali. Semesta sadar, efek kalimatnya barusan tidak ada penangguhannya dalam kamus ekonomi. Tidak bisa begitu saja di hadapi oleh pembisnis handal sekalipun ujung-ujungnya ayah Amora menyamakan perasaan Semesta sebagai sebuah manajemen perusahaan, "Bisnis itu mudahnya sekedar masalah untung dan rugi. Tidak peduli betapa bagus produk tertentu, semua kembali lagi pada faktor ekonomi. Dari semua itu individu yang paling sulit di pegang, justru kaum menengah. Mereka akan langsung berpindah prodak jika ada perbedaan harga sekalipun sedikit. Mereka mencari yang paling menguntungkan tidak peduli ada produk-produk lain yang sebenarnya lebih cocok untuk mereka. Mereka tidak melihat merk yang di lihat hanya harga dan keuntungan. Tidak ada kefanatikan."

Semesta menarik nafas nya sekali lagi, ekspresi wajahnya kecut, "Maaf tapi saya tidak menilai Amora seperti memilih deterjen di minimarket." Kali ini Semesta benar-benar menahan segenap rasa jengkel nya dengan menjentikkan ujung jarinya satu dua kali ke atas meja marmer, "Saya juga tidak melihat Amora sebagai sebuah bentuk keuntungan."

"Mau kamu menilai Amora sebagai sebuah keuntungan atau bukan, Amora tetap membawa keuntungan."

"Betul, saya tidak bisa pungkiri." Semesta mengangguk jujur, kepemilikan uang itu memang sebuah privilage, "Saya memang ingin menikah dengan Amora. Tapi segala bentuk means,- saya menyebutnya dalam frasa itu  hanya sebuah penyerta nya. Karena saya menerima Amora dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Saya tidak mungkin mengubah Amora, menjadi sesuai dengan saya. Tapi saya bisa berubah untuk sesuai dengan nya...."

Ayah Amora terdiam tapi bibirnya tertarik ke samping dengan ekspresi bercampur-campur. Seperti ekspresi pemain poker. Sebelum menatap seseorang di balik punggung Semesta, "Kamu dengar? Katanya kamu bukan pilihan detergent di mata Semesta."

Semesta mengerjakan mata. Secara reflek ia buru-buru menoleh kebelakang, tepat di belakangnya Amora berdiri dengan pipi merona merah. Ia menggigit bibir. Ekspresi wajah berbagai rasa bercampur aduk menjadi satu.

"Anak cantik. Papi tadi sudah bilang kau harus menemani pak Yanuar. Kenapa kamu malah terus-terusan berdiri di situ? Kenapa malah mengikuti Semesta?"

Amora menggeleng. Ekspresinya semakin canggung.

"Oke. Kali ini kamu harus menurut pada papi." Ayah Amora mengendikan kepalanya ke arah grand piano putih yang ada dalam ruangan yang sama dengan meja marmer tempat Semesta duduk. Sayangnya Amora tetap mematung di tempat entah apa yang di pikirkankan. Sampai akhirnya ayah Amora mengalihkan pandangannya pada Semesta, "Kalau begitu kamu saja yang jadi pengiring piano, Semesta."

"Jangan!" Amora terkesiap, mendadak sadar dari kebekuannya.

Semesta perlahan bangkit berdiri. Menepuk-nepuk pundak Amora sambil tersenyum lembut, "Tidak apa-apa Amora..."

"Tapi... Kak Semesta. Ini piano.... Kakak tidak bisa main piano kan?"

"Kamu cantik malam ini Amora." Ucap Semesta pelan ketika ia sudah berdiri berhadapan dengan Amora. Amora memang cantik. Gaun merah menyala ketat mengikuti lengkuk tubuh dewasanya benar-benar melekat sempurna membingkai wajah Amora yang memang dasarnya mempesona. Pelan-pelan Semesta juga menundukkan wajah tertawa kecil melihat wajah ketakutan, malu dan panik Amora, "Warna merah cocok untukmu."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Oct 26, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

GlimpseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang