Part 30

261 32 7
                                        

Amora berjalan mendekat pelan-pelan. Langkahnya gugup. Ia tau dimana Semesta namun tidak bisa benar-benar mengantisipasinya.

Semesta mendongak ketika mendengar suara langkah yang sudah di buat Amora sepelan mungkin. Semesta sedang duduk di salah satu kursi ruang perpustakaan rumah Amora dekat jendela, membaca buku. Sinar matahari sore menyorot wajahnya yang ramah.

Amora duduk di depannya. Meletakan tangan di atas pangkuan. Tegang. Ini pertama kalinya ia memakai lipstik tipis saat akan belajar dengan Semesta.

Semesta meletakan bukunya di atas meja. Memajukan wajahnya dalam batas sopan ke depan Amora, tersenyum, "Hari ini kamu mau belajar apa?"

Amora menelan ludah, ia gugup. Cuma Semesta yang bisa membuat Amora segugup ini. "Aku datang terlambat lebih dari setengah jam."

Senyum Semesta sedikit berkurang, tapi wajahnya tetap pengertian dan dewasa, "Iya."

"Karena aku terlambat, harusnya kakak protes."

"Kamu belum pernah terlambat untuk les, Amora. So something must have been happened. Kalau kamu mau cerita alasannya I would love to. But no pressure."

Amora menggigit bibir, membuang wajah ke jendela. Menahan segala perasaan supaya tidak terlalu kelihatan jelas di wajah, "Sebenernya nggak ada alasan apa-apa yang benar-benar penting."

"Ooh.." Semesta mengangkat alis kemudian membenarkan sedikit posisi kacamata kotak formal yang ia pakai, " ya sudah. As long as you are okay."

"Iam not okay." Bantah Amora. Meremas jemarinya semakin kuat. Sebenarnya Amora malu sendiri sudah bertingkah se anak kecil ini di usianya lima belas tahun tapi dorongan aneh dalam dirinya membuat Amora merasa seperti orang bodoh.

Just look at me. Look at my face. Aku dandan untuk kakak... Memakai baju yang kelihatannya biasa saja tapi sebenarnya, Amora memilih potongan baju ini dengan hati-hati supaya tetap kelihatan cantik tapi juga tetap kelihatan sederhana supaya tidak terlalu ketara berusaha.

Semesta menatap Amora seksama, "Kamu sakit?"

"Aku cuma nggak mau les hari ini." Aku nggak mau belajar. Aku cuma mau duduk, mengobrol dengan kakak semalam suntuk.

"Kamu sedang nggak mood belajar? Apa kita ganti pertemuan hari ini ke pertemuan selanjutnya?"

"Jangan! Nggak mau. Harus hari ini." Jangan pergi. Kakak Semesta selama nya disini, di sampingku.

"Then take your time."

"What about you?"

"I will waiting for you." Semesta lagi-lagi hanya mengangguk kalem, membuka lagi buku yang tadi ia baca. Menenggelamkan diri dalam dunianya.

"Kakak nggak ada acara hari ini? Apa nggak sibuk? Apa nggak masalah kakak nungguin aku sampai aku mau belajar?"

"Kuliah ku selesai jam dua tadi. Aku kosong sampai malam. Justru aku yang khawatir dengan mu, Amora. Apa setelah ini kamu ada les lain? Apa kamu kecapekan? Jangan maksain diri."

"Aku agak capek." - secara fisik tidak. Tapi secara hati Amora lelah dengan sikap lemah lembut Semesta, kesabaran dan pengertiannya. Ia capek menghadapi Semesta yang selalu datang tepat waktu, bertanggung jawab dengan tugasnya sebagai pengajar, sikap gentlemennya membukakan pintu mempersilahkan Amora berjalan dulu, atau menarik kursi Amora dengan sopan ketika Amora akan duduk.

Amora capek dengan jawaban-jawaban Semesta setiap Amora dengan sengaja menanyakan pertanyaan aneh setinggi langit, menuntut beliau untuk belajar yang aneh-aneh. Dan yang paling bikin capek adalah karena Semesta dengan sopan selalu menjaga jarak. Beliau tidak pernah berusaha sengaja kelihatan keren di depan Amora. Bahkan sejak beliau pertama kali datang mengajar masih dengan memakai baju seragam SMU.

Amora kecil melihat Semesta SMU, seperti melihat makhluk besar. Tubuhnya tinggi, berkacamata dan ketika Semesta mengajak Amora high five setiap Amora berhasil mengerjakan satu soal, tangan Semesta tiga kali lebih besar dari tangan Amora.

Dan ketika Amora lebih dewasa dan lebih bisa menilai seseorang dari penampilannya, Semesta selalu datang ke rumah Amora dengan kemeja sederhana. Bukan kemeja bermerk. Kemeja dan kaus rata-rata. Tas hitam biasa saja. Naik motor tua yang dari zaman SMU dipakai hingga zaman kuliah.

Gaya rambut Semesta juga tidak berubah. Rambut lurus di potong pendek rapih, berkacamata serius, berpenampilan serius. Kalau beliau datang, beliau hanya fokus untuk mengajar. Tidak akan bicara kesana kemari kecuali Amora yang menyentil duluan.

Semesta yang Amora kenal, tidak akan mengomentari perabotan, mobil, elektronik, barang baru yang ada di rumah Amora. Beliau tidak berusaha mencari tau tentang bisnis keluarga Amora. Sama sekali tidak mengorek-ngorek kehidupan pribadi Amora apalagi cari muka seperti guru les Amora yang lain. Selalu datang pulang tepat waktu kalau memang tidak diminta untuk melakukan hal yang lain dulu. Lalu Semesta akan menghabiskan waktu untuk diam membaca buku saat Amora sedang mengerjakan tugas yang di berikan. Tugas yang sengaja di kerjakan Amora lebih lama supaya Amora punya waktu untuk menatap diam-diam kak Semesta.

Selalu sejak dahulu hingga malam ini.

Amora membuka matanya pelan sekarang, Semesta sedang terlelap tidur di sampingnya dengan lengan terjulur ke bawah kepala Amora seperti bantal.

Kalau Amora tidak berpindah posisi, Amora yakin setengah mati Semesta tidak akan mengganti posisi tangannya sampai pagi. Tidak peduli, tangannya kaku mati rasa selama Semesta yakin Amora merasa nyaman tidur di sampingnya.

Sepanjang malam, Amora tidak terlelap. Menatap Semesta. Menyusuri jemarinya pelan-pelan ke hidung kak Semesta, ke pipinya lalu jatuh ke dagunya.

Semesta bukan orang paling tampan yang pernah di lihat Amora. Bukan juga orang yang paling pintar yang Amora kenal. Tapi Semesta segalanya.

................

Semesta terdiam. Ia tidak ingat berapa lama ia duduk dengan lengan bertumpu memandangi pintu keluar masuk apartemennya. Dalam bayangannya ia seperti baru melihat Amora berjalan keluar dari pintu itu sedetik yang lalu. Berharap Amora kembali sekaligus menyesal karena hatinya tidak tegas untuk memutuskan memaksa mengantar Amora pulang.

Tapi mengantar Amora pulang pagi-pagi buta juga pilihan yang riskan. Semesta sadar ia belum sampai level berani menunjukan batang hidungnya pada orangtua Amora bahwa ia membawa pulang anak perempuan mereka satu-satu nya pagi-pagi buta. Karena jelas menimbulkan pertanyaan dan pertanyaan itu akan merembet ke prasangka.

Akhirnya karena tidak tahan harga dirinya meronta tercabik patah menjadi jutaan keping, Semesta bangkit berdiri dari sofa. Duduk di meja makan membuka laptop. Menghela nafas berat. Kembali menenggelamkan diri menyelesaikan side job yang bermacam rupa. Ia kadang menjadi translator kontrak, di lain waktu menjual bahasa pemrograman, disisa waktu lainnya berjualan online, kombinasi nano-nano yang efeknya membuat kepala Semesta terasa nyaris meletus saking banyaknya deadline, kurang tidur dan waktu 24 jam yang terasa kurang, bahkan tadi malam adalah tidurnya yang paling nyenyak dan paling banyak akhir-akhir ini. Karena biasanya ia hanya tidur tiga empat jam sehari tidak peduli akhir pekan atau hari biasa.

Kesibukannya baru berhenti sesaat karena suara handphonenya berdering kembali. Nada dering khusus, khusus untuk ibu Semesta. Yang memang sudah berdering sekian kali dari semalam hingga sekarang.

Semesta termenung sebentar menatap layar handphonenya sebelum memutuskan mengangkat telepon. Usianya sudah mendekati kepala tiga tapi tidak pulang ke rumah semalam suntuk tanpa mengabari orangtua masih termasuk haram dalam ranah keluarganya.

Yang Semesta tak sangka, di tengah antisipasinya mendengar ibunya langsung ngomel seperti serentetan letusan yang ada ibunya justru berkata pelan, "Semesta?"

"Ya?" Semesta melepas kacamatanya, memijat kening lelah dengan handphone masih di telinga. Berinisiatif lebih dahulu meminta maaf sebelum masalah membesar, "Maaf aku menginap di luar. Maaf kalau tidak mengabari."

"Ah sudahlah. Yang penting kamu masih hidup." Gerutu ibu Semesta, suaranya kecut, di saat yang sama juga terdengar aneh, "Yang penting sekarang kamu sudah bisa di hubungi dan.... menurutmu kenapa ayah Amora tiba-tiba menghubungi ibu tadi malam? Apa kamu sudah tau kalau kamu di undang makan malam hari ini, Semesta?"

GlimpseTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang