17. Ancaman

2.4K 387 36
                                        

Ting!

xxxx
|Bersikap baiklah, atau ayah mu
akan tau darimana nilai nilai mu
selama ini dan semua kecurangan
mu, aku berbaik hati untuk terakhir
kalinya

Eric sontak terduduk, membaca berulang kali pesan masuk dari nomor tak di kenal tersebut.

"Siapa?" gumam nya pelan, baru ingin mengetik balasan, pesan lainnya kembali masuk.

Netra Eric terpaku pada foto foto tersebut, foto nya yang sedang merokok dan merundung murid murid lain, apa apaan?! Darimana semua ini?!

Ting!

xxxx
|Ayah mu tak akan menyukai
berandal seperti mu, bukan?

xxxx
|Siapa yang ingin punya anak
seperti mu? memalukan

xxxx
|Bersikap baiklah sebelum semua
kebusukan mu tersebar

xxxx
|Aku tak bercanda, coba layangkan
tinjumu dengan berani sekali lagi,
maka itu tanda bahwa hidupmu
berakhir sebagai anak dari keluarga
terhormat



__________________________













"Ma, jika aku buta, mama masih mau menganggap ku anak tidak?"

Jeno bertanya, tiba tiba saja menyuarakan rasa penasarannya pada sang ibu yang sedang santai bermain hp setelah Jaemin terlelap.

Rose mengernyit aneh, "Tentu, kamu selamanya putra mama mau bagaimanapun itu."

"Mama tak malu?"

"Kenapa harus malu?" tanya wanita cantik itu tak paham.

"Bagaimanapun keadaan mu, mama tak masalah, itu tak akan mengubah status mu sebagai putra mama. Ada apa? Kamu merasa mata mu sakit? Pusing? Atau kepala mu sakit?" Rose bertanya khawatir dan hendak beranjak bangun.

Jeno menggeleng cepat, "Tidak, hanya bertanya asal karena penasaran, aku pikir--itu kekurangan, bisa saja mama malu."

Helaan nafas Rose terdengar, "Ada ada saja, bisa tidak tanya sesuatu yang menyenangkan? Jangan yang menyeramkan seperti itu."

Jeno hanya terkekeh, membiarkan keheningan mengambil alih ruangan itu, ia meraih hp nya, melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 8 malam, ia tak akan tidur jam segini, tidak walau dalam keadaan sakit seperti ini.

"Jeno."

"Iya?" Jeno terpaksa mengalihkan atensi pada sang ibu, mengabaikan game nya yang tak bisa di pause.

"Kamu--bisa tidak jika mencoba menerima Jaemin? Dia saudara mu, dia kembaran mu, dia adik mu, putra papa dan mama, keluarga kita, tak ada salahnya kan kamu menerima Jaemin?" Rose bertanya dengan suara lembut, memberi tatapan paling teduh yang ia miliki pada putra sulung nya.

Hening, tak ada jawaban, Jeno mengalihkan pandangan, "Ma, aku tak mau membicarakan itu."

Bukan jawaban, namun derap langkah kaki yang terdengar selanjutnya, Rose mendekati sang putra, "Jeno, dengarkan mama, mungkin ini sulit, mungkin Jeno tak ingin punya saudara, namun mau bagaimanapun dia adalah saudara mu, cobalah, nanti pasti kamu akan merasa nyaman dengan Jaemin, semua hanya tentang waktu."

"Iya, semua tentang waktu, jadi beri aku waktu untuk bisa menerimanya, atau mungkin tidak? Mau bagaimanapun aku tak nyaman, aku--aku tak ingin--punya saudara..." Jeno menunduk di akhir kalimat.

"Aku tak ingin dia menjadi saudara ku."

Entahlah, apa alasannya? Jeno tak tau apa alasannya hingga ia tak menerima Jaemin, Jeno juga tak mengerti dirinya sendiri...

Iridescent ; Na JaeminCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang