30. Waktu

799 169 3
                                        

"Jaemin?"

Jaemin tersenyum, melangkah masuk ke kamar Rose, membuat wanita yang tadi sibuk merapikan rambutnya ikut beranjak dan melangkah mendekati sang putra, "Kenapa? Papa sama Jeno belum pulang ya? Lama banget sih, disuruh beli daging saja selama ini."

"Mungkin sebentar lagi," jawab Jaemin lembut.

Rose menatap lekat putra bungsunya, sadar anak itu seolah ingin mengatakan sesuatu, "Jaemin mau bilang sesuatu?"

Hening, Jaemin tampak ragu, tangannya mencengkram erat ujung sweater yang di kenakannya, ia berusaha menatap Rose dengan tenang, "Aku--udah nemuin sekolah yang bagus di New York, ada asrama juga. Mungkin kalau lulusan darisana bakal mudah di terima di universitas sana juga, sekolahnya juga termasuk sekolah bagus dan bergengsi, jadi aku rasa aku bakal sekolah disana aja."

Kini Rose yang terdiam, senyumnya perlahan pudar, tatapan wanita itu terlihat tak percaya, "M-maksud kamu apa? Jaemin kan bisa sekolah disini--"

"Aku harus pindah," sela Jaemin pelan.

"Jeno masih belum bisa nerima aku, lagipula sekolah disana juga bukan pilihan buruk--"

"Engga, Jeno cuma butuh waktu sebentar lagi. Mama ngga mau bicarain ini, dan kamu ngga perlu sampe mikir sekolah disana. Kita cuma butuh waktu sebentar lagi," tangan Rose terangkat, menyentuh bahu Jaemin dengan lembut, namun tatapan wanita itu tampak gelisah, bibirnya berusaha menarik senyum walau akhirnya hanya senyum canggung yang terukir.

"Kita cuma butuh waktu, Jaemin," lirihnya amat pelan.

Rose berusaha meyakinkan Jaemin, namun wanita itu bahkan terlihat tak yakin dengan ucapannya sendiri.

__________________________


"Sudah benar benar sembuh?" Jaemin memilih membuka pembicaraan, canggung sekali hanya duduk dan memperhatikan Rose dan Jeff yang sedang memanggang daging.

Mereka disuruh menjauh, akal akalan Jeff agar bisa berduaan bersama istrinya, huh!

Jeno mengangguk, "Iya, kau pergi kemana pagi pagi sekali?"

Jaemin langsung menoleh, "Kau sadar saat aku pergi?"

"T-tidak, tapi--" Jeno kelabakan, "Mama yang bilang, katanya kau pergi pagi pagi sekali."

"Ohh, aku memang mengabari mama saat pergi, sih," Jaemin mengangguk paham.

"Kau juga yang menelpon di hp ku, kan? Aku melihatnya saat bangun."

Jaemin langsung meringis mengingat itu, bahkan saat sampai dan melihat keadaan Jay, dia langsung lupa panggilan video tersebut, "Kau mematikannya, ya?"

Jeno kembali mengangguk, "Tak ada suara apapun, apa yang kau lakukan disana?"

Hening sesaat, lalu Jaemin menarik senyum tipis, "Hanya--menemui Jay? Dia takut sendirian."

'Pembohong...'

"Ohh, kau menemaninya selama itu hanya karena dia takut," Jeno mengangguk lagi, raut wajahnya terlihat buruk, memilih mengalihkan pandangan ke arah lain.

"Maaf ya, harusnya aku pulang cepat untuk memeriksa keadaan mu lagi."

"Tak perlu, lagipula aku baik baik saja, aku tak manja sampai harus di temani," jawab Jeno cepat.

"Kau marah?" Entah keberanian darimana, Jaemin malah menggoda Jeno mendengar nada kesal lelaki itu.

Jeno langsung melotot, menatap tak terima pada Jaemin, "K-kenapa harus marah? Aku tak peduli kau mau menemani Jay berapa lama!"

"Aku tak bilang kau marah soal Jay."

"Tadi--tadi kita sedang membahas Jay, tentu saja kau mengira aku marah soal Jay."

Jaemin sontak menutup mulut, berusaha menahan tawa melihat wajah Jeno yang kelabakan dan tampak panik.

"Apa apaan sih, aku mau membantu mama dan papa saja!" Jeno segera beranjak bangun, pergi dari sana dan memilih mendekati Jeff dan Rose.

Meninggalkan Jaemin yang kini tertawa pelan, "Dia menggemaskan sekali."

________________________


Rose tak meminta banyak, hanya keluarga utuh yang terus bahagia seperti ini.

"Siapa yang nanti mau minum bersama papa?"

"Aku!"

"Hey! Tak boleh, kalian masih kecil, tak boleh minum wine dulu!"

Tak banyak, cukup mereka terus bahagia dan bersama seperti ini. Rose akan sangat bersyukur, bukankah cukup malam malam mengerikan yang ia lewati setelah kehilangan satu putranya?

Bukankah cukup tangis sedih setelah kehilangan satu putranya?

Tidakkah Tuhan mengizinkan Rose mendekap mereka berdua dengan tenang?

Tanpa harus memikirkan akan melepas salah satunya untuk pergi jauh.

Tidakkah semesta mau berbaik hati padanya? Mengizinkan Jaemin tetap di sisinya seperti ini untuk selamanya.

Tidakkah--tangis Rose selama ini cukup?

Apakah semesta ingin tangis kehilangannya terdengar lagi?

___________________________

Sore ini cerah, dan mungkin hari yang baik. Berangkat serta pulang sekolah dengan Jeno tanpa ada keributan lainnya setelah kemarin menghabiskan waktu bersama keluarga dengan menyenangkan, benar benar hari yang baik.

Drtt  drtt

Eric

Jaemin yang baru melangkah keluar dari kediaman Jung mengernyit, ia mengangkat panggilan tersebut dengan ragu seraya memasuki taxi, "Halo--"

"Halo? Anda mengenal pemilik hp ini?"

Jaemin mengernyit mendengar suara seorang wanita, "Iya, saya temannya."

"Pemiliknya kecelakaan dan sekarang sedang ditangani di rumah sakit medika, apa bisa anda kesini? Tak ada wali pasien disini "

Melupakan tujuannya untuk ke perpustakaan di kota, Jaemin malah menyuruh supir taxi berbelok menuju rumah sakit yang di sebutkan, mengiyakan pertanyaan tersebut dengan nada khawatir.

Bukankah--hari ini terlalu berjalan tenang?

Harusnya Jaemin khawatir, karena seringkali kebahagiaannya tak pernah bertahan lama...

Harusnya Jaemin sadar, bahwa selama ini kebahagiaannya selalu berada di atas kaca tipis yang rapuh.

Mudah retak dan hancur begitu saja tanpa bisa di cegah.

Iridescent ; Na JaeminCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang