"Panas sekali, apa kita piknik di kamar hotel saja, ya?"
Jeno yang baru tiba mendengus, melepas jaketnya dan segera duduk di samping Jaemin, "Ma, jangan merusak kata piknik dengan mengubah kegiatannya, ya."
"Kan sama saja, yakan sayang?"
Jeff mengangguk, meraih topi Jeno dan menggunakannya untuk mengipasi Rose, "Iya, tapi hari ini disini saja dulu. Lagipula kan kita di bawah pohon, jadi tak terlalu panas."
Jaemin nyaris beranjak bangun, "Mau aku belikan kipas mini saja? Mall juga tak terlalu jauh dari sini, atau mungkin di toko--"
"Tidak perlu, ayo duduk saja dan berfoto, kita harus membuat orang lain iri dengan keluarga harmonis kita ini."
Jaemin meringis mendengar perkataan Rose, memang boleh?
"Biarkan saja, mama memang suka pamer seperti ini," bisik Jeno lalu kembali mengambil sepotong pie.
"Tikarnya bagus ya, beli dimana?"
Rose yang sedang memotret makanan terkekeh, "Apanya yang bagus? Hanya kain biasa dengan motif kotak kotak. Tapi kalau Jeno bilang bagus, apa berarti kita harus piknik lagi lain kali, ya?"
Semuanya kompak mendongak kala cahaya matahari tiba tiba meredup, angin sepoi sepoi berhembus, membuat Rose tersenyum lebar, "Ah mama suka sekali jika cuacanya seperti ini!"
"Jadi, apa yang biasa di lakukan orang piknik di taman? Mama bingung..."
"Berfoto mungkin, seperti yang mama lakukan tadi," jawab Jeno yang sekarang membuka sebotol air.
"Berbicara, seperti yang kita lakukan sekarang," tambah Jeff lagi walau tampak tak yakin.
Rose beralih menatap Jaemin, menunggu jawaban anak itu.
Jaemin berpikir sesaat, "Menghabiskan waktu bersama, sepertinya itu merangkum semua kegiatan dalam piknik."
Rose menarik nafas dalam, menatap sekeliling dengan tatapan bahagia dan senang, "Tapi ini menyenangkan, sepertinya kita harus sering duduk bersama seperti ini di luar."
"Padahal baru tadi mama berniat pindah ke kamar hotel saja."
"Eyyy itukan menurut cuaca, lagipula kalau cuacanya panas kita bisa menyuruh bodyguard untuk membawa payung, atau kita harus mendirikan atap--atau rumah kaca? Bukankah bagus? Sayang, ayo buat rumah kaca di taman belakang mansion, sepertinya kita bisa menghabiskan banyak waktu bersama disana."
"Mama penuh dengan ide unik, ya?"
Jeno tersenyum geli mendengar bisikan Jaemin, "Lebih ke arah ide menghabiskan uang papa, sih."
"Papa selalu setuju?"
"Lebih dari setuju."
"Selalu?"
"Tentu saja!"
"Kalian setuju, kan?" tanya Rose menatap kedua putranya yang masih sibuk berbisik.
Jeno dan Jaemin kompak mengangguk walau tak tau setuju untuk apa dan tentang apa.
"Iya, aku setuju."
"Aku juga sangat setuju."
_________________________
Jaemin tersenyum, menatap foto foto mereka yang di kirim Rose, tampak sempurna, seandainya saja Jaemin bisa tetap disini bersama mereka tanpa harus memikirkan kebencian Jeno.
Hah, hidup selalu memberi pilihan sulit untuk Jaemin.
Tak pernah ada pilihan mudah, hidup memberi lebih banyak pilihan menyakitkan untuk Jaemin, apa hidup memang begini pada semua orang?
KAMU SEDANG MEMBACA
Iridescent ; Na Jaemin
Teen Fiction"Aku tak akan pernah menerima mu, lebih baik kau mati!" "Kau--sungguh berkata seperti itu?" ____________________ Jeno tak pernah menyangka, 17 tahun hidup ia malah menerima fakta bahwa ia mempunyai kembaran. Bertolak belakang, amat berbeda dengannya!
