28. Sembunyikan

1.1K 241 8
                                        

Chenle mengernyit, menatap lekat foto yang baru saja di kirim padanya, nomor tak di kenal. Tapi--dua orang di foto ini tampak familiar, Eric dan--Jaemin?

Tidak, tak mungkin Jaemin satu pihak dengan Eric, kan?

Benar, ini pasti hanya pancingan atau jebakan, Chenle tak boleh percaya, tak boleh memberitahu yang lain juga, takutnya Jeno akan terbakar emosi dengan cepat tanpa bisa berpikir dengan benar.

_________________________




Jaemin mengernyit kala mendengar deru nafas tak teratur, ia dengan cepat berbalik dari posisi tidurnya, "Jeno?!"

Tak perlu waktu lama untuk Jaemin turun dari kasur dan menghampiri kasur Jeno, melihat lelaki itu yang kini membalut dirinya dengan selimut, padahal ac tak menyala satupun, namun lelaki itu malah menggigil kedinginana.

Jaemin panik, berpikir sesaat sebelum berkata, "Jeno tunggu, biar aku panggil mama--"

"Jangan," Jeno menarik tangan Jaemin, amat lemah, ia membuka mata, menggeleng pada Jaemin dengan tatapan tak setuju.

"Jangan katakan pada mama atau papa, aku baik baik saja," ucap Jeno dengan suara pelan.

Jaemin meletakkan punggung tangannya ke dahi Jeno, walau dari tangan Jeno yang amat panas saja Jaemin sudah tau keadaan lelaki itu, "Kau demam, apanya yang baik baik saja?"

"Jangan bilang pada mama dan papa," ulang Jeno lagi, menolak melepaskan tangan Jaemin, berusaha menahan lelaki itu.

"Baiklah, kau--punya kompres? Atau--penurun panas? Plester penurun panas? Dimana kaos kaki mu?"

Jeno menunjuk lemarinya dengan tangan yang lain.

Jaemin dengan perlahan melepas tangan Jeno yang memegang tangannya, "Sebentar, biar aku ambilkan kaos kaki dan plester penurun demam dulu."

"Kotak obat dimana? Tak mungkin tak punya, kan?"

Jeno kembali menyelimuti seluruh tubuhnya dengan selimut, "Di lemari juga."

Anggukan Jaemin beri sebagai jawaban, ia segera pergi ke lemari milik Jeno, membukanya dan mengambil sepasang kaos kaki di laci paling bawah, lalu mengambil satu selimut tebal lainnya, "Sebentar, dimana--kotak obat?"

Netra nya meneliti seluruh isi lemari sebelum membuka dua pintu lemari lainnya, menghela nafas lega saat menemukan kotak obat di lemari tengah, ia segera mengambilnya, berlari pelan menuju kasur Jeno dan meletakkan di nakas, lalu kembali lagi untuk mengambil selimut juga kaos kaki.

Jeno tersentak kaget saat sepasang tangan menyentuh kakinya, ia membuka mata perlahan, menemukan Jaemin sedang memakaikan kaos kaki dengan hati hati, "Jaemin?"

"Sebentar, aku juga mengambil selimut lain, ini, masih kedinginan?" tanya Jaemin setelah menyelimuti Jeno.

Jeno menggeleng, membalas tatapan khawatir Jaemin dengan rumit, kenapa lelaki itu sekhawatir itu? Mereka baru kenal, bahkan tak sampai setahun, apa harus se khawatir ini?

"Ini, obat mu, minum obat dulu. Oh, aku punya kompresan tangan yang hangat, sebentar, biar aku ambilkan."

"Oh, air, aku tuangkan air dulu."

"Astaga aku lupa membantumu bangun, ayo, bangun dengan hati hati, minum obat baru kau tidur lagi."

Jeno tak menolak saat Jaemin membantunya untuk duduk, bahkan saat Jaemin berusaha tetap menyelimutinya, ia menerima obat yang di sodorkan Jaemin, memasukkannnya ke mulut, lalu lagi lagi menerima segelas air yang Jaemin berikan.

"Nah, tidur lagi," ucap Jaemin, kembali membantu Jeno untuk tidur. Lalu merapikan selimut lelaki itu agar seluruh tubuhnya tertutupi.

Jeno hanya berdehem pelan, memilih melanjutkan tidurnya karena merasa amat pusing, baiklah, ia bersyukur ada seseorang disini jadi tak perlu membuat Rose dan Jeff khawatir.

Iridescent ; Na JaeminCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang